Liburan. Bertamasya. Menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, melepas penat, maupun sekedar lari dari rutinitas yang dijalani sehari-hari. Lagi dan lagi, tentunya tak akan jauh dari pantai ataupun gunung.

Mengapa bisa demikian ya? Jawaban jelasnya tentu karena Tuhan telah menciptakan dua aspek tersebut bagi makhluk di muka bumi untuk dinikmati. Suguhan panoramanya yang akan melipur semua lara, resah, kesal.

Pantai dan gunung. Sudah semestinya kita jaga beserta seluruh isi dan aspek yang ada di dalamnya, dikarenakan mereka adalah salah satu penyeimbang dalam kehidupan kita. Bayangkan jika hutan di gunung dijadikan lahan untuk berkebun seluruhnya? Tak ayal bencana akan terjadi bukan?

Kembali pada bahasan liburan. Pada dasarnya saya tidak mempunyai fisik yang mumpuni dan belum pernah sekalipun berfikir untuk mendaki gunung. Seorang teman memang mampu memberi pengaruh kehidupan.

Berawal dari mendapatkan kenalan yang kebetulan tergabung dalam komunitas pencinta alam, akhirnya saya mulai berkenalan dengan yang disebut mendaki gunung, bersahabat dengan alam.

Advertisement

Mungkin bukanlah hal yang luar biasa, tapi keluar dari zona nyaman adalah sebuah prestasi.

Banda aceh yang kebetulan tidak mempunyai satu gunung pun akhirnya membuat pilihan jatuh pada Aceh Besar. Untuk kelas pendaki ulung sebenarnya tak patut disebut jalur yang sulit. Karena tergolong ketinggiannya yang tak sampai 500 mdpl dan bahkan tak begitu terjal. Kawasan yang patut disebut sebagai pemanasan untuk pemula ini bernama Lhok Mataie.

Terletak di Gampong Ujong Pancu Kecamatan Peukan Bada dengan posisi di balik bukit. Sekali lagi, tersembunyi! Sematan surga tersembunyi inilah pemicu terpengaruhnya saya untuk ikut perjalanan yang dibuat oleh kenalan saya tersebut.

Jarak tempuh dari Banda Aceh menuju Gampong Ujong Pancu sendiri berkisar 15 menit bila ditempuh dengan kendaraan bermotor. Nah, selanjutnya baru jalur pendakian dimulai. Asri pastinya, suasana yang disuguhi oleh pegunungan yang konon belum banyak yang menjamah.

Terbesit, pasti akan banyak titik untuk memperoleh foto yang luar biasa. Saya juga mendengar bahwa akan ada sebaran ilalang indah yang akan memanjakan mata dengan desiran angin mengiringinya. Waktu yang akan ditempuh pemula bisa mencapai satu jam. Dan waktu tempuh yang kami habiskan sekitar 45 menit.

Terhitung pemberhentian pada beberapa pos yang tidak lama. Sebenarnya saya sedikit memaksakan diri. Tapi saya mampu melewatinya.

Sangat disayangkan. Di tengah perjalanan tak ada ilalang seperti rumor yang ada. Tidak. Bukan rumor, tapi benar adanya. Ilalang yang indah itu sudah ditebang.

Dan tak ayal ditengah perjalanan akan dijumpai beberapa pohon yang ditebang juga. Alasannya ditebang? Pasti tak lain untuk membuka lahan kebun yang baru.

Setelah menempuh semua hutan dan bukitnya, akhirnya saya dan tim sampai. Pertama yang terbesit dalam benak saya adalah ini benar mengagumkan. Surga tersembunyi. Terbayar semua lelah oleh suguhan indah pantainya. Sungguh panorama luar biasa.

Perasaan yang tercuat ini tidak serta merta khayalan saya belaka. Benar-benar luar biasa. Ditambah ini merupakan pengalaman pertama.

Setelah menikmati semua suguhan dari alam tersebut; termasuk berenang di pantainya, saya menyempatkan diri untuk berkeliling kawasan sekitar Lhok Mataie ini. Mungkin ini kekecewaan saya yang kedua. Terhitung pertama dari penebangan pohon. Tempat yang disebut sebagai surga tersembunyi ini nyatanya sudah banyak yang menjejaki. Tak ayal sampah berserakan di setiap sudut.

Kekecewaan terakhir saya terhenti pada tindakan vandalisme. Corat-coret pada tempat yang tidak semestinya dan justru terkesan merusak. Miris. Amat disayangkan.

Jelas sekali tindakan seperti ini tak layak dan tidak diperbolehkan. Saya membatin, ini pasti perbuatan mereka yang berkoar-koar kosong sebagai pencinta alam. Atau pengikut-pengikut tren kekinian terhitung pada tahun lalu mendaki yang menjadi tren di kalangan muda-mudi Indonesia.

Apa yang sebenarnya menjadi harapan kita dari mendaki gunung? Saya pribadi juga sebenarnya berawal dari ajakan dari seorang anggota komunitas pencinta alam. Karena alam sebenarnya layak dan harus dijaga akhirnya ketertarikan pada alam itu muncul.

Mendaki untuk menikmati. Agar bisa dinikmati terus menerus maka harus dijaga, dilestarikan. Jikalau sudah lestari dan tergaja maka akan semakin indah bahkan terhindar dari bencana.

Mendaki juga saya jadikan pelajaran bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang istimewa itu harus didahului oleh sebuah proses yang dinamakan kerja keras. Sudah seharusnya semua sikap berawal dari diri sendiri dengan berbuat baik kepada alam sehingga alam akan membalasnya. Ayo kita jaga!

Akhir dari perjalanan pertama saya yang memiliki kesan tersendiri itu adalah sebuah rasa yang sering disebut puas. Tak ada kesia-siaan terutama pada waktu yang disisihkan. Lagi lagi saya mengajak untuk sama-sama berbut baik kepada alam sehingga ia membalasnya.

Mari kita jaga agar bisa terus kita nikmati bahkan juga anak cucu kita. Ini plesirku. Ini milikku. Karna milik pribadi itu akan lebih rela mati untuk dilindungi. Salam cinta alam raya.