Pertemuan kita begitu sederhana, bahkan akalku tak sanggup merangkainya dalam harap dan doa; saking tidak terduganya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu ada, seperti listrik yang tiba-tiba padam di pagi hari atau hujan yang bertandang tanpa mengabari. Percaya atau tidak, aku telah menjatuhkan hati sejak pertemuan ke dua kita, di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Tak ada yang lain selain bahagia dan bahagia selebihnya.

Karena kedatanganmu berhasil meyakinku untuk membuka kancing hati, supaya bisa kau singgahi.

Meski cuma dua hari di sini dan kemudian kamu pergi, rasaku tak dapat kuakhiri secepat ini. Kubilang padamu aku akan menunggu hingga petemuan ke tiga, saat di mana kita bisa membilas rindu bersama-sama. Secarik surat yang kuselipkan di buku agendamu yang baru, kutulis dengan sewajarnya; aku akan sangat merindumu bila hari itu kamu benar-benar pulang ke Jakarta, kota jauh di seberang sana. Sampai hari ini aku masih memelihara rasaku tanpa peduli siapa saja yang berdiri menghadang dan mematahkan keyakinanku. Aku tak pernah mau tahu mereka bilang apa. Yang kutahu, kau selalu ada bila aku ingin berbicara.

Tapi, bukankah tak ada satu pun manusia yang boleh membatasi hati kita untuk jatuh cinta pada siapa? Toh aku tak pernah memintamu membalasnya.

Kutahu usia kita terlampau jauh. Kau lelaki mapan yang bisa meminang perempuan kapan saja. Gelar sarjana dan novelis luar biasa sudah kau genggam sejak lama, berbeda denganku, gadis 18 tahun yang baru saja lulus SMA. Setiap hari masih harus belajar untuk mengejar kampus impian; jaket kuning dengan makara menghiasi dada. Tapi, bukankah tak ada satu pun manusia yang boleh membatasi hati kita untuk jatuh cinta pada siapa? Toh aku tak pernah memintamu membalasnya.

Advertisement

Untukmu yang kerap memberi energy positif di hariku, aku akan tetap mencintaimu dari 664 kilometer.

Tapi hari ini berbeda. Semenjak kau bermesraan dengannya di instagram, aku mulai muak dan mati rasa. Beberapa teman kita bahkan menghinaku dengan penuh kewarasan; percuma mencintaimu dengan kesungguhan, sedangkan kau akan melangkah ke pelaminan. Aku tidak tahu sedalam apa luka yang kugali karena memikirkanmu tanpa henti. Untukmu, yang kerap memberi energy positif di hariku, aku akan tetap mencintaimu dari 664 kilometer.