Senja itu aku duduk termenung sendiri di tepi pantai. Menikmati debur ombak yang memecah kesunyian, dan menyadarkanku dari lamunan. Ah, entah sudah berapa lama aku duduk di sini. Tenggelamnya matahari bahkan tidak membuatku berpikir untuk beranjak dari sini.

Di sini begitu nyaman, damai. Di sini aku bisa melupakan sejenak beban hidup yang selama ini mendesakku untuk kuat, untuk bertahan.

Matahari bahkan sudah enggan menemaniku. Tapi tenanglah, debur ombak ini agaknya cukup setia untuk mendengarkan keluh kesahku, bahkan sampai pagi menjelang. Duduk di sini, bercakap-cakap dengan angin, bergurau dengan ombak, sambil sesekali menggoreskan jemari di atas pasir.

Aku butuh waktu lebih lama untuk menikmati kesunyian ini, larut dalam keheningan malam yang hanya diterangi cahaya bulan. Indah, ya! Seindah cerita hidupku yang mungkin terlalu indah bahkan hanya untuk sekedar kenangan. Apa yang terjadi begitu rumit, bahkan tidak pernah terpikirkan semuanya akan serumit ini.

Apa yang rumit? Ada apa? Kenapa?

Advertisement

Itu pertanyaan retoris yang rasanya tidak perlu aku jawab, atau aku justru tidak tau jawabannya?
Rasanya ingin menyerah. Tapi menyerah pada apa? Menyerah pada siapa?
Entahlah.
Biarkan aku tetap duduk di sini. Menikmati kesendirianku, menikmati kisahku, menikmati malam pekat yang dingin sampai aku tertidur dan semakin larut dalam kesepianku.