Aku pernah membayangkan, pada suatu hari yang tidak seperti biasanya kita akan jalan-jalan berdua saja. Menikmati suasana sore yang syahdu di jalanan kota tua. Aku akan duduk tenang di jok belakang scooter maticmu, melingkarkan tanganku di pinggangmu lalu menikmati aroma tubuhmu dalam diam. Menelusuri gang-gang sempit sambil sesekali berhenti di pertokoan barang antik kegemaranmu.

Kamu akan berkeliling mengamati benda-benda tua itu dengan demikian khidmat, seperti seorang anak kecil yang begitu bahagia berkeliling toko mainan. Sementara aku akan mengekor di belakangmu saja, sambil mungkin merecokimu dengan beragam pertanyaanku akan kegemaranmu atau tentang benda-benda tua itu. Pada waktu yang lain aku membayangkan kita sedang duduk bercengkerama pada suatu senja yang hangat. Memperbincangkan banyak hal tentang apapun hanya agar aku dapat duduk berlama-lama di sampingmu.

Tentang dirimu, tentang hidupmu, tentang mimpimu, tentang kegemaranmu. Apapun. Sebab bagiku segala hal yang ada pada dirimu begitu menarik untuk diperbincangkan. Atau di hari yang lain, kita akan sama-sama menggendong tas carrier kita. Kamu akan menggandeng tanganku menelusuri jalanan kota yang asing bagi kaki kita masing-masing. Aku akan dengan senang hati mengikutimu mendaki gunung, menikmati matahari terbit dari ketinggian dalam selimut awan.

Atau jika kamu mau mengalah maka mari kita ke tempat favoritku, pantai. Jika berlarian di bibir pantai mencibir ombak layaknya adegan dalam ftv picisan itu terlalu konyol buatmu, maka mari kita duduk di tepian saja. Aku suka duduk berlama" disana, mendengarkan deburan ombak yang terdengar demikian merdu bagi telingaku, entah meskipun setelahnya aku akan merengek sebab terik matahari menggosongkan kulitku yang memang telah agak legam. Tapi tak apa, aku bukan perempuan manja.

Setelahnya, mari kita membuka catatan kita. Merencanakan perjalanan-perjalanan kita selanjutnya. Kau tahu, setiap kali menatapmu ingin rasanya aku menghambur dan meneduh dibawah tatapanmu yang terlihat memenangkan, seolah segalanya akan menjadi baik-baik saja entah meskipun sedang tak baik-baik saja. Dalam pelukmu, aku membayangkan betapa nyamannya mendekap lama-lama disana. Menjadikannya rumah tempatku berpulang melepas penatku akan dunia yang semakin lama semakin tak terlalu kusukai itu. Pelukmu mungkin akan menjadi salah satu tempat favoritku menenggelamkan kepala.

Advertisement

Namun sayangnya, semua hanya ada dalam bayanganku saja

Pada kenyataannya saling bertukar "hai" pun bahkan tak pernah kita lakukan, meski selama ini kita menimba ilmu di bawah atap yang sama. Tiga setengah tahun, aku hanya berani mengagumimu dalam diam dari sebalik punggungmu. Sekali waktu, kamu pernah membuatku hampir besar kepala. Ketika pada suatu pagi kau sedang duduk diam di tempatmu entah menunggu siapa saat aku secara tak sengaja mendapatimu tengah menatapku yang melintas di depanmu. Sontak kau memalingkan pandangmu saat pandangan kita secara tak sengaja saling bertaut. Agak lucu rasanya melihat respon kejutmu saat itu.

Hei, apa kau sedang memperhatikanku? Apa kau pernah memperhatikanku seperti itu juga sebelumnya? Sudahlah, aku tak ingin terlalu berbesar kepala, maka aku akan melupakannya saja. "Waktu kita" tampaknya tak lagi tersisa lama. Mungkin setelah ini aku tak akan pernah bisa melihatmu lagi, memandangmu lekat-lekat meski dari seberang lorong seperti yang dulu sering aku lakukan.

Namun sebelum saat itu benar-benar tiba semoga Tuhan mengabulkan doaku untuk paling tidak kita bertukar "hai" atau saling melontarkan senyum, sekali saja. Sebagai salam perpisahan kita. Jika suatu waktu kamu membaca ini lalu Tuhan membisikimu bahwa orang yang kumaksud adalah kamu, maka lontarkanlah sebuah senyum untukku. Ketika kita masih sempat berpapasan di lorong-lorong itu.

Teruntuk dirimu, lelaki yang berulang tahun sepuluh hari setelahku.