Hai kalian? Apa kabar? Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih atas duri yang kalian tancapkan, sehingga duri itu merobek hati meninggalkan bekas dan luka. Aku tak percaya seorang sahabat yang kuandalkan, tempat aku berkeluh kesah tentang dia lelaki yang aku cintai, sahabat yang seharusnya memberikanku pendapat, sahabat yang seharusnya memberiku dukungan dan yang seharusnya membantuku keluar dari segala macam ketakutan dan kekalutan malah turut serta ikut ambil bagian dalam melukaiku.

Aku tak mengerti selama ini aku telah mempercayai dua orang penipu ulung. Selama ini aku membagikan kisahku padamu, karena aku percaya padamu sehingga aku berani melakukan semua itu. Tapi entah kenapa antara aku yang terlalu bodoh untuk membaca situasi atau terlalu bodoh mempercayai tiap kata yang meluncur dari bibirmu. Kau berkata bahwa kau tak pernah menyukainya, kau berkata bahwa kau tak akan pernah berhubungan dengannya. Tapi ternyata kau berbohong. Diam-diam kau menjalin hubungan dengannya dibelakangku. Aku berpikir apakah aku pernah mengambil sesuatu yang berharga darimu? Namun aku juga tak pernah berpikir bahwa aku akan memiliki akhir kisah yang seperti ini.

Sampai detik ini banyak pertanyaan berkecamuk berlalu lalang didalam hati dan pikiranku. Aku tak habis pikir bagaimana bisa kalian berpacaran dibelakangku? Bagaimana bisa kamu sang pencuri hatiku memelukku, memberiku bahu untukku bersandar untukku berkeluh kesah tentang hidupku tetapi kamu malah berpacaran dengan sahabatku sendiri? Apa salah yang telah kuperbuat pada kalian? Kenapa kalian berbuat curang dibelakangku? Bukan aku yang ingin memasuki kehidupan kalian, tapi kamu, kamu yang mencuri hatiku, kamu yang mencuri perhatianku, kamu yang menarikku kedalam kisah bodoh ini. Bahkan aku tak mengerti apa yang kalian sembunyikan dariku, kisah macam apa yang kalian miliki?

Ketika semua ini telah berhasil kuungkap, kamu yang dulu kupanggil sahabat datang membawa sekantong permintaan maaf. Apa kau berpikir aku tak punya hati? Apa kau berpikir semua ini takkan menyulitkan dan menyakitiku? Percayalah aku punya satu hati yang hanya sekali seumur hidup Tuhan menciptakkannya untukku. Dan akan hancur ketika kau menghempaskannya terlalu keras, aku juga tidak yakin hati itu akan kembali utuh hanya dengan sekantong ucapan maafmu. Jika kau tak percaya ambillah sebuah gelas kaca, hempaskan gelas itu dengan keras gelas itu tentu akan pecah, dan sekarang cobalah ucapkan maaf pada gelas itu, apakah gelas itu kembali utuh seperti semula? Rasa-rasanya aku ingin marah, menangis, kecewa, namun aku tak tahu bagaimana cara menumpahkan semua perasaan ini.

Aku tak ingin bermusuhan denganmu namun saat ini lebih baik aku menjaga jarak denganmu teman. Percayalah sungguh aku ingin melupakan atas segala yang terjadi, memaafkan setiap luka yang telah kalian tinggalkan. Namun aku hanyalah manusia biasa, yang terkadang lupa bagaimana caranya memaafkan dengan ikhlas hati dan lupa bagaimana cara melapangkan dada. Percayalah bahwa aku mencoba melakukan semua itu, namun aku pikir tentu akan membutuhkan waktu dan proses yang tidak secepat kita membalikkan telapak tangan kita. Dan saat ini aku belum mampu mengabulkan permintaanmu maaf itu. Aku belum mampu menghapus semua kebohongan dan kepalsuanmu itu. Aku hanya mampu berdoa kepada Tuhan agar suatu hari nanti aku akan bertemu denganmu kembali dan kau akan bertemu dengan hatiku yang baru, hati yang sudah bersih dan tidak ada lagi bekas luka yang pernah kau goreskan dengan dia yang pernah mencuri hatiku.

Advertisement

Dariku, seseorang yang pernah memanggilmu sahabat.