Kali ini aku menulis tanpa headphone dan lagu favoritku. Tapi ada yang bernyanyi pilu jauh dalam diriku.

Untukmu, siapapun.

Percayalah, berulang kali aku telah merasakan penyesalan. Berulang kali pula aku merasa harus semangat demi hari esok yang lebih baik. Berulang gagal, berulang bangkit dan mencoba menyemangati hari demi hari, lalu tiba-tiba penyesalan datang lagi, gagal lagi, kemudian harus lagi-lagi bangkit dan menyemangati diri, seperti itu terus. Aku percaya kalian juga pasti pernah merasa seperti itu.

Untukmu, siapapun.

Pernahkah kau merasakan kesendirian dan kesepian yang teramat sangat bahkan di tengah hiruk pikuk siang? Kadang kau ingin bercerita kepada temanmu, gurumu, bahkan keluargamu tentang semua masalahmu, kebodohanmu, kesalahambilan-langkahmu, kecerobohanmu, ketidak-hatihatianmu bahkan mungkin semua dosa-dosamu? Aku, begitu. Pun aku begitu.

Advertisement

Tapi yang kulakukan kemudian tetap diam, tak beranjak kemanapun, tak bersuara di gendang siapapun dan tak menatap mata siapapun. Aku merasa takut. Takut akan cemooh, takut akan kemarahan, takut akan pandangan kasihan, takut bahkan untuk mendengar sebuah nasihat. Aku bahkan merasa kesedihanku dan ketololanku, hanya aku yang berhak dan pantas mengetahuinya.

Sebagian dari aku merasa bahwa ini adalah hukuman yang tidak harus kubagi dengan siapapun. Sebagian dari aku merasa bahwa tidak bijak rasanya menambah masalah dan beban pikiran orang lain dengan masalahku.

Untukmu, lagi lagi siapapun.

Kebingungan yang teramat sangat kini sedang melandaku. Melandamu juga kah? Barangkali beberapa menit yang lalu aku berada di titik tertinggi kebingunganku. Yang itupun entah sudah yang keberapa kali. Lalu aku merasa aku harus keluar dari kenyataan ini. Tidak mungkin ini terjadi lagi. Pasti ini mimpi buruk. Aku yakin sudah melakukan hal yang benar kemarin. Begitulah yang kemudian kukatakan. Lalu aku berpikir hal-hal negatif yang akan terjadi esok hari. Kecemasan dan kegelisahanku memuncak lebih tinggi.

Kecemasan yang teramat sangat mengenai apa-apa yang belum terjadi memang sering kali datang menghampiri. Aku pun heran. Waktu dan tempatnya sering kali bahkan selalu tepat. Aku tak tahu parameterku mengatakan tepat berdasarkan apa tapi itulah kata yang kupilih untuk mendeskripsikannya. Ia datang di saat yang tepat. Si cemas itu.

Kau tahu? Kini aku berpikir seperti ini.

Aku sudah berulang kali merasakan penyesalan, sudah berulang kali merasa harus menyemangati diriku sendiri, sudah berulang kali menganggap kesalahanku adalah hukuman atas perbuatanku dan berulang kali akhirnya menanggung beban kesalahan itu sendiri. Tapi apa? Aku masih mampu membuka mataku pagi ini, aku masih bisa bernafas dan bergerak layaknya manusia yang sudah dikaruniai nyawa. Aku masih terlihat seperti manusia normal. Aku masih bisa berbagi apa yang kurasakan saat ini dengan kalian.

Hari ini kucapai tidak dengan proses yang mudah. Setidaknya tidak mudah menurutku. Kuyakin kalian juga begitu. Hidup yang kalian jalani hari ini tidak kalian lalui dengan mudah. Mudah, cukup mudah, sulit dan sangat sulit menurut versi kalian sudah kalian rasakan bukan? Untukmu, untukku, untuk siapapun itu. Tidak ada masa yang tidak mampu dilewati. Akan ada masa-masa yang mungkin lebih sulit di kemudian hari. Jangan berhenti berjalan hari ini. Jalani.

Lalu aku berpikir begini. Ketika aku melihat sebuah kesalahan (lagi) yang telah kubuat, aku hanya bisa diam.

Kemudian aku bepikir untuk memburamkan segala hitam dan putih, segala baik dan tidak baik, segala halal dan haram, segala yang diperintahkan dan dilarang. Kemudian mungkin doa orang yang menyayangiku (bahkan ketika ia sudah tidak di dunia ini pun) atau bahkan anugerah dari-Nya yang bahkan yang bisa kuberi untuk-Nya adalah sebuah dosalah yang mungkin menyelamatkanku beberapa menit yang lalu.

Aku merasa aku tahu. Aku tahu karena Sang Pencipta sudah menakdirkan begitu. Manusia mampu membedakan yang baik dan yang salah, yang hitam dan yang putih. Manusia tidak seperti makhluk lainnya. Ia punya nalar dan pikiran yang membuatnya berbeda.

Untukmu, untukku, untuk siapapun itu. Jangan sengaja memburamkan hitam dan putih atas dasar apapun untuk menentukan langkahmu. Diamlah, pikirkan dengan baik apa yang sebenarnya harus kau lakukan. Bukan sebaiknya. Tapi sebenarnya. Jalan keluar akan selalu ada bagi mereka yang mau berusaha dengan sebenar-benarnya. Bahkan untukmu yang tau kau adalah pendosa, jangan membuatmu merasa lebih hina dan kotor di mata Tuhan.

Kau tahu? Sebenarnya kini aku mulai berpikir bahwa hidup ini bukanlah hidup yang akan kau pertanggungjawabkan hanya kepada dirimu sendiri. Adanya dirimu saja sudah melibatkan beberapa nyawa. Untukmu makan, minum dan bernafas saja sudah ketauan kau tidak bisa hidup sendiri. Bagaimana bisa kau mengatakan hidupmu adalah hidupmu? Bagaimana bisa kau mengatakan tidak akan ada yang merugi kecuali dirimu sendiri jika dirimu rugi?

Hidup itu kompleks. Tapi juga sederhana. Jangan membuat orang lain merasa apa yang tidak ingin kita rasakan. Begitu bukan?

Untukmu, untukku, untuk siapapun itu. Hiduplah hari ini. Semua hari akan terlewati. Sebuah jalan harus tetap dilangkahi demi tujuan yang hendak dihampiri. Jangan bodohi diri sendiri. Jika kemarin kau sanggup menghadapi kenapa tidak hari ini? Kenapa tidak esok hari? Kau tau. Kau tau apa yang harus kau lakukan. Hiduplah hari ini dengan versi terbaik menurut dirimu sendiri.

Sekali lagi untukmu, untukku, untuk siapapun itu..

Ketakutanlah yang menenggelamkan, keberanianlah yang menyelamatkan – FSTVLST (Hujan Mata Pisau)