Entah bagaimana aku harus menyampaikan rinduku yang kian bergemuruh kepada calon pendamping hidupku kelak. Kau tahu? Sekarang teman sepermainan ku sudah banyak yang telah menemukan cinta sejatinya. Hal itu makin membuatku duniaku menciut dan rasa sungkan untuk sekadar memulai percakapan dengan merekapun sering muncul. Aku takut jika obrolanku akan menjadi tidak nyambung lagi dengan mereka yang sudah memiliki kehidupan baru atau aku hanya khawatir jika akan mengganggu kesibukan mereka. Bahkan yang lebih membuatku jengah adalah ketika aku belum bisa memberikan jawaban memuaskan kepada mereka yang bertanya kapan aku akan menggenap?

Duhai calon pendampingku, laki-laki yang lembut hatinya, ku yakin bahwa hati kita sudah saling terpaut bahkan jauh sebelum kita bertemu. Sehingga ketika kelak jika kita telah dipertemukan secara tidak sengaja maka kita akan cepat mendapatkan chemistry yang sama. Merasa membutuhkan satu sama lain dan merasa nyaman jika kita saling berdekatan. Begitulah hingga kita akan membuktikan bahwa cinta sejati itu sederhana saja, tidak banyak kerumitan di dalamnya. Ingin rasanya aku menyalip jalan takdir ini untuk segera bertemu denganmu, tanpa harus bertemu dengan banyak nama lain yang hanya sekadar lewat dan membuat hatiku beberapa kali cenderung kepada mereka. Karena sesungguhnya aku tidak ingin membuatmu cemburu. Kadang aku merasa jenuh dalam kesendirianku, melakukan segala sesuatu sendiri dan memendam keluh kesahku sendiri. Dan Sepertinya akan lebih menyenangkan jika memiliki pendengar setia yang juga merupakan belahan jiwa kita sendiri? Karena ia akan lebih memahami kita dan menerima kita tanpa syarat apapun.

Namun aku percaya bahwa ini hanyalah soal jarak dan waktu, yang sedang ingin mengajak kita belajar lebih banyak tentang arti penerimaan dalam hidup. Bahwa apa yang kita anggap buruk bisa jadi justru baik untuk kita, pun sebaliknya yang kita anggap baik bisa jadi justru akan menjerumuskan. Tuhan telah menyiapkannya segalanya dengan baik, bahkan sangat baik. Jangankan tentang pertemuan kita yang sakral. Setiap hembusan nafas ini telah diatur ritmenya, sehingga kita pun tak pernah tersengal ketika menghirup oksigen.


Duhai laki-laki yang lembut tutur katanya, mungkin sebelumnya kamu tidak pernah menyangka jika wanitamu nanti adalah adalah orang konyol dan cerewet sepertiku, setiap hari bertanya-tanya tentang bagaimana dan kapan kita akan bertemu. Aku pun akan menerima jika kelak kamu marah kepadaku, karena telah berburuk sangka kepada Tuhan. Aku takut jika kita berdua tak akan bertemu atau khawatir jika salah satu diantara kita akan direbut oleh orang lain. Namun, kenyataannya kita tetap akan dipertemukan juga karena jodoh tidak akan tertukar.

Kelak kita akan sama-sama lupa kalau dulu kita pernah sama-sama saling mencari dan pernah nyaris menyerah pada titik jenuh masing-masing. Kelak kita akan saling menemukan dan berkata cukup pada sang waktu karena kita telah mendapatkan buah atas kesabaran kita. Karena kita telah menggapai cita-cita bersama melalui doa-doa yang terpanjat dalam setiap sujud-sujud yang panjang. Terus memantaskan diri dan menunggu dengan anggun akan menjadi pilihan terbaikku kini. Karena ekspresi cinta terindah adalah lewat sang Maha Cinta itu sendiri. Semoga Tuhan senantiasa menjaga kita dan hingga waktu itu tiba.