Ini entah apa namanya, surat kecil ungkapan terimakasih atau sekedar catatan kisah tentangmu yang ingin ku umbar pada khalayak ramai.

Aku ingin sedikit berceloteh tentangmu. Bolehkah?

Sedikit saja. Cuman sedikit. Tenanglah! Bagian paling privasi akan tetap kusimpan sendiri.

Bagaimana untuk memulainya? Harus ku ceritakan darimana awalnya? Perkenalan kita dulu? Atau tentang bagaimana cara kita akhirnya bisa dekat lebih dari sekedar teman jalan?

Mungkin saya mulai dari bagaimana pandangan saya ketika tahu kamu ada di sekitarku? Let's see, how I explain about ur self.

Advertisement

Aku tidak pernah terusik untuk mengenalmu sampai akhirnya kita berdua terpaksa berkenalan, terpaksa bertukar nomer telepon, terpaksa berbagi ID sosial media Line, terpaksa berteman di sosial media BBM. Semua serba terpaksa oleh keadaan yang mengharuskan. Untuk urusan kerjaan yang saling berkaitan. Kita mungkin saja hanya terpaksa “salingkenal”. Kamu tentu saja bagiku hanya bayang yang memudar sewaktu-waktu. Yang ada dan tiadanya tak pernah jadi perkara besar untukku. Karena dari awal kita tak pernah benar-benar saling mengenal.

Sampai akhirnya, aku menjadikanmu penting. Kamu menjadi orang yang ku lirik sesekali jika sedang berada di area kerjamu. Mulai menanggapi jika teman berceloteh tentangmu. Kamu mulai penting semenjak sms pertama kalimu muncul di layar handphoneku. “ Nhatallya, sudah pulaaangkah? “. Just it. Bagi orang itu hanya sms biasa bagiku itu sms luar biasa ngak biasa. Namaku bisa sebenar itu bahkan mamaku sendiri sering salah dalam penulisan namaku. Aku yang sebegitu percaya bahwa setiap orang yang bisa menyebutkan namaku dengan benar adalah orang yang bisa menghargai hal-hal kecil.

Lalu, suatu ketika semesta bekerja sama menciptakan gegap gepita dalam dunia kita berdua. Aku dan kamu diperkenakan bersama dalam beberapa kesempatan. Dan suatu malam, menjadi percakapan pertama kali yang panjang denganmu. Aku dengan luwesnya berceloteh tentang kisah dramatis nan pilu mengenai babak cerita masa lalu bersama mantan kekasih, tentang proses Move On yang berulang kali gagal hingga akhirnya berhasil. Dan kamu menanggapi dengan serius segala omongan yang begitu lancarnya keluar dari bibirku. Sesekali kamu bersikukuh dengan pendapatmu namun kemudian merasa gagal paham sendiri. Kamu, kabut asap pekat yang membuatku tersedak hingga tersadar bukankah kamu orang asing yang belum pernah ku sapa sebelumnya? Kenapa malah menceritakan hal semendetail ini tentang perasaanku sendiri , yang selama ini kubiarkan terbungkus rapi tanpa sentuhan orang lain?

Kamu seakan menyedotku masuk dalam labirinmu. Membuatku terperangkap tanpa tahu bagaimana kembali ke jalan keluar tempatku pertama kali masuk semula. Aku terjerambab masuk lebih dalam. Anehnya, aku sendiri menikmatinya. Aku merasakan bahwa berceloteh panjang denganmu selalu ada hal terbaik yang bisa kamu berikan di usai cerita panjangku. Selalu ada makna termanis yang mungkin bisa melegakan perasaan dan meledakkan tawaku. Aku bingung. Kamu orang asing satu-satunya yang sukses membuatku membongkar paksa masa lalu yang kelam. Orang asing yang membuatku yakin mampu membuatku merasakan pulang ke “ rumah “ sesungguhnya kelak. Orang asing yang ingin ku percayai mampu memberikan arti kenyamanan akan sebuah “ rumah “ yang ku damba selama ini.

Yah, seiring dengan kerjasama semesta kita berdua kembali menikmati malam panjang bersama. Kembali saling menceritakan kisah masa silam. Kali ini, kamu yang lebih banyak bercerita dan aku yang lebih focus mendengarkan sambil sesekali bergumam dalam hati “ Andai, yang kau cintai itu AKU “. Kemudian menepis sendiri bayangan tidak relevan itu. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Membayangkannya saja rasanya konyol. Aku yang terlalu tinggi berangan-angan dan terlalu berharap dengan mimpi ketinggian. Kamu langit yang sedang memperindah bumi. Apa dayaku Bumi yang hanya bisa menengadah melihat takjub pesona cakrawala itu.

Lama berselang, semesta semakin semangat mengakrabkan kita berdua. Mulai dari makan malam selepas penat kerjaan kantor hingga lari pagi yang lagi-lagi karena kerjaan sampinganmu juga saat weekend.

Semesta sekarang mungkin saja lagi cekikikan menahan tawa melihat kedekatan kita. Bagaimana tidak, yang awalnya kita ini dua insan yang enggan saling mengenal kini terlihat sangat intens saling memberi kabar. Saling mencari, saling mengisi, bahkan saling memberi semangat. Dan semua bermula dari guyonan kecil darimu yang selalu membuat tawaku meledak.

Aku selalu terkesima dengan tingkah polamu, terlalu polos membuatku semakin gemas untuk mengerjai. Terlalu beku hingga buatku khawatir aku yang api bisa saja melelehkanmu jika terlalu dekat. Aku yang selalu tergesa-gesa, kamu yang selalu slow. Aku yang meledak-ledak kala emosi kamu yang lebih diam dalam menanggapi perkara. Kita berdua itu terlalu mencolok dalam perbedaan. Bahkan untuk menghadap Tuhan saja kita melakukannya dengan cara yang berbeda. Kamu yang dengan lafas mu melantunkan ayat sambil menegadahkan tangan sementara aku melipat tangan sambil menutup mata berdoa. Kita jelas sekali berbeda tapi seiring waktu kita akhirnya menepis segala perbedaan itu. Akhirnya, kita berdua memilih merangkai hari bersama tanpa perduli jurang pemisah semakin jelas terlihat.

Kita berdua kini terus merajut kemesraan, menciptakan gemerlap tawa juga decakan emosi karena cemburu satu sama lain. Tak ku tapik lagi, aku terikat denganmu. Seperti ada benang merah tak kasat mata mengikat kita. Bahwa, sejauh apapun kamu pergi, secepat apapun kau berlari selalu akan kembali pulang karena ikatan kita tetap tersimpul rapi. Tidak perlu kau uji, kau adalah alasan Tuhan menciptakan tujuan. Sejauh apapun kamu dibawanya nanti, tetap di dekatku kembali pulang.

Aku yang kini tengah menikmati peran sebagai kekasihmu. Berusaha sebaik mungkin untuk memantaskan diri. Setiap harinya mengoreksi diri dan di koreksi olehmu. Sebal? Iya. Tentu saja. Apa yang ngak menyebalkan selain di koreksi dengan orang lain? Tapi, aku siap menerima setiap konsekuensinya. Lagi-lagi karena aku ingin kau jadikan tujuan. Tujuan kamu pulang . Merasakan rumah yang menyamankanmu. Aku ingin menjadi wanita yang pantas untuk mendampingimu kelak hingga menua. Menjadi ibu dari anak-anakmu(kita), menjadi wanita cantik ketiga setelah ibu dan kakak perempuanmu atau mungkin jadi wanita tercantik ke empat setelah anak perempuanmu kelak. Terakhir atau pertama apapun itu yang pasti saya yakin kamu kelak selalu menjadikan ku yang terutama.

Aku kini ingin menetapkan pilihan tetapi terlalu kuatir menerima konsekuensi. Tapi. Percayalah. Aku sedang memperjuangkanmu. Memperjuangkan kita. Dan sedang berusaha meyakinkanmu bahwa akulah wanita yang kelak menjadi tujuanmu.

Bolehkah aku bertanya?

Kata-katamu selama ini bukan hanya ilusi saja,kan? Tentang rencana masa depan kelak.

Jangan buatku terlalu berharap.

Karena terkadang kenyataan selalu tidak sejalan dengan angan.

Jangan ciptakan ilusi yang membuatku percaya delusi.

Kamu, rumah yang ingin segera ku diammi.

Dariku, wanita yang ingin segera kau jadikan tujuan.