Malam benar-benar datang. Tapi kamu tetap membebabaniku dengan perasaan yang beradu. Aku berterimakasih kepadamu, karena telah mengajarkanmu arti cinta dan rindu dalam satu waktu. Sampai saat ini pun aku masih tak bisa bernafas iklas tanpamu.
Semua memang tak pernah masuk akal. Kau memilih pergi, tapi mengapa aku tetap saja tinggal? Aku tersudut dalam ruang kerinduan yang aku ciptakan. Aku menyiksa diriku sendiri karena mencintaimu. Untuk kesekian kali cintamu adalah candu.
Mereka bilang perjuangan kita akan terbayar lunas pada saatnya. Tapi apa? Perasaanmu terpental jauh. Dan jarak adalah kesukaran kali ini. Karena jarak ini adalah hati, bukan tempat lagi. Salah siapa?
Seperti yang kau tahu, aku tak pernah suka menunggu, tapi kamu membuatku melakukan hal itu. Aku sama sekali tidak menyesal mengenalmu, walaupun peluhku tak nampak di lensa matamu. Setulusnya kepergianmu menerjalkan jalanku.
Dariku,tanpa kamu di hadapanku.