How are you dear?

Masih bolehkan aku menanyakan kabarmu. Sekedar menanyakan kabar saja.

Kini rasanya aku merasa kehilangan dengan sosok yang 5 tahun yang lalu pernah menyapa diriku ini, seakan berubah dengan perubahan zaman yang ada. Awal kita bertemu dengan wajah yang masih imut dan tidak mengetahui latar belakang kita masing-masing. Ya, kita pernah ada dulu di sekolah kehidupan yang jarang sekali sekolah ada seperti itu.

Kembali di saat aku dan kamu belum saling mengenal. Belum saling menatap dengan heran. Belum saling mengerti satu sama lain. Belum dan belum juga hal yang pernah kita lakukan bersama. Kita bukanlah kumpulan orang yang diikat di dalam sebuah hubungan status layaknya pacaran. Aku sendiri dan kamu sendiri hingga saat ini. Aku tak menyangka sapaan kita membawa luka yang mendalam bagiku. Walaupun apa yang aku sebut luka itu mungkin hanya menjadi hal yang biasa bagimu.

Ketika kita berpisah untuk menuntut ilmu ke arah yang lebih tinggi dan menggapai semua impian kita masing-masing. Bagiku hal tersebut malah menjadi tantangan baru bagiku. Aku menyangka bahwa berpisah darimu tak akan menjadi hal yang susah untuk dijalani.

Advertisement

Dalam diriku sering datang keinginan untuk mengirimimu pesan singkat atau sepucuk surat dengan tulisan tanganku untuk sekadar menyakan keadaanmu sekarang. Aku mengerti bahwa sekarang ini kau bukanlah orang yang suka memanjakan diri dengan akun-akun sosial media yang tersedia. Hal tersebut membuatku sedikit sulit untuk mencari informasi tentangmu, namun diriku tidak akan kalah semudah itu dan aku akan selalu mencari kabar tentangmu disana. Aku salah mengira, bahwa melupakan seseorang yang berarti dalam hidup kita adalah hal yang sulit untuk dijalani.

Bagaimana aktifitasmu sekarang? Aku ingin mengetahuinya segera.

Dulu hatiku pernah merasa hancur ketika aku mendengar dari teman-teman dekatmu kalau kau sudah mempunyai seseorang yang mendiami hatimu. Namun untunglah hal tersebut hanya sebatas gosip, tapi bagaimana dengan sekarang?

Aku memang masih menunggu momen yang tepat, karena aku belum sempat menyatakan perasaanku terhadapmu. Tapi itu lebih baik bagiku daripada mendapatkan balasan yang membuat air mataku berlinangan. Biarlah rasa ini aku pendam hingga aku tahu kapan waktu yang tepat untuk melimpahkan seluruh emosi, cinta dan apapun itu yang berhubungan denganmu.

Kemarin aku melihat kamu mengganti foto di akun social mediamu, kau nampak cantik sekarang dan berubah lebih baik. Aku hanya tidak berharap kau membawa seseorang spesial selain dari keluargamu.

Sekedar mengingat saja, betapa momen indah saat aku bisa duduk bersama dalam perjalanan di bus menuju Jakarta. Sungguh momen yang tak terlupakan bagiku, karena saat kau tertidur, aku bisa memberikan kecupan manis di kening untuk mengucapkan selamat tidur. Banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu, tapi apalah dayaku. Sebagai perwakilan perasaan, izinkanlah aku bertanya kepadamu,

"Tahukah kau akan hal ini?"

Melupakan kenangan bukan berarti harus membuang seluruh ingatan yang pernah ada aku rasakan. Aku hanyalah seorang manusia biasa yang tak tahu tentang kapan terjadinya suatu pertemuan dan perpisahan. Namun jangan pernah kau ragukan bahwa namamu akan selalu aku sertakan di setiap doa yang aku panjatkan kepada Tuhan.

It really hurts when you expected so much more from the person you once loved so much.