Kemarin-kemarin, aku sempat mendaftar hal apa saja yang wajib aku persiapkan untuk menjadi temanmu di masa depan, aku tidak peduli apakah aku harus menemanimu dari titik minus, atau sudah pada keadaan cukup. Belajarku tambah semangat, targetku makin banyak, fokusku hanya satu. Agar kamu bangga. Ah! Ayolah, karena membahagiakan dan “membayar keringat” orang tua tak perlu aku koarkan lagi, wajib, bukan?

Doaku jadi semakin panjang, semakin banyak permintaan, semakin bertambah kemauan, makin… Ya kamu tahu kan bagaimana rasanya jadi aku. Apa yang menurutku kurang, aku perbaiki, apa yang menurutku aku tak bisa, aku belajar sampai terlihat hasil, selalu berproses, tak peduli kamu bilang tak usah memaksa diri, tapi aku pikir ini sebuah tantangan. Toh, tidak akan rugi juga kalau belajar dan bisa hal baru.

Oh ya, aku agaknya heran dengan diriku sendiri, banyak hal yang biasanya aku bilang “tak suka”, tapi tiba-tiba dengan kamu, semuanya jadi sebuah ke-makhlum-an. Hai! Entahlah, aku berusaha untuk mencerna jalan pikiranku sendiri, mungkin ini proses pendewasaan berpola pikir. Iya mungkin.

Sebetulnya aku bukan orang yang mudah “bertoleransi” dalam hal yang memang sedari awal membelot dengan prinsipku, tapi satu kali lagi, denganmu, semua ketidaksukaanku adalah pengecualian.

Meskikah aku bilang “sayangnya…”, ya, pasalanya semua ini tidak berlangsung lama. Aku tidak tahu siapa yang berulah, atau memang cara dan peta Tuhan kalau kita akan bertemu di masa depan sebagai teman sekolah, bukan teman… Ya, teman hidup. Lucu! Tapi ya sudah lah, anggap saja berlatih disiplin untuk usaha mencengkram keinginan, bisa jadi kamu, aku, sama-sama menjadi materi pembelajaran, bukan hal kesia-siaan.

Advertisement

Aku pamit kalau begitu, yang berubah dari kita adalah pergantian peran. Rencana baik harus tetap dirajut dan dikebut.