Bersamamu memang mendatangkan sebuah bahagia, walau sebentar. Cinta yang begitu besar pernah engkau berikan, namun sayang hanya di awal. Darimu aku belajar untuk tidak mematahkan hati orang lain seperti kau mematahkan hatiku. Darimu aku berniat untuk tidak menumpahkan banyak air mata pada orang lain seperti kau menumpahkan air mataku. Serta darimu aku belajar untuk tidak memberikan sebuah mimpi yang kelak akan dihancurkan sendiri.

Awalnya aku berpikir kau adalah pelabuhan terakhir. Seperti dermaga bagi kapal tua yang tak akan pernah berlayar kembali. Kau datang menawarkan sebuah masa depan. Dimana ada aku, kau serta anak-anak yang lucu. Mimpimu membuatku membayangkan sebuah keluarga yang indah dan bahagia. Sampai aku lupa bagaimana rasanya menjejak tanah. Aku bahkan lupa pada mimpiku sendiri. Tiba-tiba semua orientasi hanya berpusat padamu. Tak ada niatku untuk mewujudkan mimpiku sendiri. Semua mimpiku hanya tentangmu.

Dengan berani aku merangkai mimpi-mimpi yang ada kamu di dalamnya. Seperti yang pernah kau bagi padaku. Aku begitu percaya pada mimpi indah yang kau yakinkan akan jadi nyata. Sikap membentengi diri dari patah hati pun perlahan mulai aku abaikan. Tak ada antisipasi. Tak ada prasangka bahwa suatu hari kau adalah orang yang akan membuat aku terluka untuk pertama kalinya.

Bagiku kau adalah lelaki yang berani. Berani berjanji. Berani menawarkan masa depan dan satu hal yang aku ingat, kau berani membuatku patah hati. Tanpa sebuah alasan pasti kau tiba-tiba memilih untuk pergi. Sekejap saja dan kau lupa bahwa kau pernah mengiming-imingi sebuah pelaminan. Tak ada kata-kata perpisahan yang berarti. Kau hanya mengatakan selamat tinggal tanpa sebuah penjelasan.

Setelah itu duniaku gelap. Berminggu-minggu aku meratap. Menangis dalam kesendirian menjadi teman akrab setelah kau tinggalkan. Seorang sahabat bertanya padaku, “Bagaimana perasaanmu?” aku hanya bisa menjawab, “Hancur.” Ya! Hancur! Karena memang tak ada kata lain yang bisa menggambarkan keadaan hatiku saat itu.

Patah hati di usia 20-an adalah penderitaan. Menjalin hubungan denganmu di usia 20-an membuat aku menyadari arti keseriusan. Aku mulai berpikir tentang hubungan yang tidak main-main. Tidak ada sikap berlebihan layaknya remaja. Semua dijalani dengan harapan bisa terus sampai jenjang pernikahan. Jadi ketika harapan tak sesuai kenyataan, aku limbung. Hilang arah dan harapan. Bahkan enggan untuk menjajal cinta yang baru.

Beberapa hari setelah kau pergi, aku berharap keputusanmu hanya sementara. Aku masih menunggu kau datang dan miminta maaf lalu mengajak untuk kembali membangun mimpi. Aku bahkan meniatkan dalam hati untuk menerimamu kembali tanpa bertanya apa alasanmu kembali. Bagiku saat itu hanya kau yang bisa kembali menerangi duniaku yang gelap semenjak kau tinggalkan.

Sayangnya hal itu tak pernah terjadi. Kau tetap menjalani hidupmu seolah-olah aku tak pernah ada di dalamnya. Kau menjadi lupa bahwa ada aku yang kau tinggalkan dalam keadaan hati berdarah. Saat aku merangkak melewati hari yang terasa lambat berlalu, kau tampak bahagia dengan hidupmu yang tanpa aku. Setiap hari aku asik menyiksa diri, mengumpulkan setiap ingatan bahagia ketika bersamamu. Dan kau pun malah asik mencari cinta yang baru.

Terkadang aku berpikir, tidakkah kau menyesal dengan keputusanmu? Kerena aku menyesal tidak menahanmu pergi saat itu. Tidakkah kau merindukanku? Seperti aku yang setiap hari sesak menahan rindu kepadamu. Diam-diam aku mengharapkan kau masih menyimpan setiap kenangan yang kita lalui bersama seperti yang aku lakukan saat ini.

Kemudian aku tersadar bahwa itu tidak mungkin terjadi. Kau tidak akan pernah kembali. Seketika aku mulai mengkaji ulang. Sikapmu menjelang perpisahan menjelaskan segalanya. Kau muak bahkan untuk di sampingku berlama-lama. Berbicara denganmu tak semenyenangkan biasanya. Sehingga aku tersentak oleh kenyataan, kau memang tak ada niat untuk bersamaku lagi. Mimpi hidup bersamamu harus aku kubur dalam-dalam. Bagimu aku adalah sejarah, masa lalu dan kau tak ingin menengok lagi ke belakang. Sementara aku terpaku menatap punggungmu yang semakin jauh meninggalkan.

Lalu, perlahan dengan sisa harga diri dan kepingan hati aku mulai berjalan. Terseok-seok aku membangun mimpi yang pernah kau hancurkan. Aku menatanya sedemikian rupa agar seindah sebelum kau datang. Mimpi yang tidak ada kamu di dalamnya. Kemudian, aku lakukan berbagai usaha untuk mewujudkannya.

Aku memulai dengan banyak bersyukur kepada Tuhan. Mengadu padanya dalam setiap ibadah. Satu hal yang aku ingin kau tahu. Setelah semua luka berdarah dan air mata yang berikan aku masih bisa berucap terima kasih. Terima kasih karena telah pergi. Kepergianmu yang memberi luka membuat aku semakin dekat dengan Penciptaku. Kepergianmu membuka mataku bahwa aku masih punya keluarga dan sahabat yang selalu mendukung di saat-saat terberat.

Ketika aku merasa tak pantas untuk siapapun, mereka menguatkan aku bahwa aku terlalu berharga untuk bersanding denganmu. Ketika aku berpikir bahwa tak ada cinta yang baik untukku, mereka meyakinkan bahwa Tuhan terkadang mempertemukan kita dengan orang yang salah sebelum kita bertemu dengan orang yang tepat. Kata abangku, “Agar kita tahu perbedaannya”. Lagi-lagi kepergianmu memberikan kesadaran, banyak orang yang menyayangiku melebihi sayang yang pernah kau berikan dulu.

Sekali lagi terima kasih karena telah pergi. Kepergianmu memang memberi luka namun tak justru membuatku tidak pantas berbahagia. Kini aku lebih bisa merelakan. Bersyukur kepada Sang Pencipta atas kepergianmu. Aku sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Memaafkan dirimu dan diriku sendiri. Menyadari bahwa kau bukan yang terbaik untukku. Ada nyawa lain yang Tuhan siapkan untuk menjadi pendampingku. Semoga aku lebih berbahagia dengan jalan yang aku pilih. Semoga sahabat, saudara atau anak perempuanku kelak tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Semoga.