Kita bukan cerita Twilight, namun kau memang monster. Mengambil alih semua pikirku dan mengendalikan gerakku. Hal ini menggangguku. Namun aku tak akan bergeming. Kau tahu? Tak henti-hentinya aku berfikir baiknya kita tidak pernah bertemu. Satu-satunya hal yang membuatku mensyukuri pertemuan kita. Mungkin adalah quote super sosial media dengan segala kata magisnya. Mengapa aku tidak bisa subjektif?

Perihal bahwa aku bersimpati dan tak ingin melihatmu bersedih karena patah hati adalah benar adanya. Aku pun tak memiliki rasa benci terhadap perempuan yang telah menyiakan ketulusanmu. Sedang kebanyakan orang (katanya) seharusnya merasakannya dalam keadaan seperti ini.

Perihal bahwa sejak saat itu aku selalu penasaran tentangmu dan menantikan balasan dari setiap pertanyaanku di layar telepon genggam adalah benar adanya. Seperti gadis kecil yang dituruti keinginannya, begitulah kegembiraanku jika hal-hal baru darimu kuketahui. Entah bagaimana denganmu.

Perihal musik favoritmu kini pun seolah menjadi favoritku adalah lagi-lagi benar adanya. Dan persamaan artis favorit kita adalah hal yang sukar kupercayai sampai detik ini. Karena itulah yang membawaku padamu, pada sapaan pertama kita. Tak akan berhenti aku mengatakan padamu bahwa jadi diri sendiri adalah lebih baik. Sebentar, aku harus membenarkan letak headphone-ku…

“Let them talk and talk and talk…
Let them say what they want…”

Advertisement

Perihal bahwa kadang aku menipu diriku sendiri dengan mengatakan melihatmu ‘sembuh’ dan jatuh dengan perempuan lain adalah hal yang tidak apa-apa, adalah benar. Kadang aku kehabisan akal menghadapi kesahmu tentang kandasnya asmara yang telah kau jalani, dan terjebak dengan kata-kataku sendiri. Tapi aku tidak akan lelah mencari kata lain yang dapat membuatmu merasa lebih ringan menjalani hal pahit itu.

Perihal aku sadar bahwa menggambar sesuatu dengan antusias karena gembira terhadapnya baru kurasakan ketika aku menggambar penglihatanku terhadapmu adalah benar.

Perihal bahwa aku yang sebenarnya mempermainkan perasaanku sendiri adalah benar.

Perihal bahwa aku sempat benar-benar ingin menghilangkan segala tentangmu adalah benar. Mungkin karena kadang aku merasa siap dan tidak siap untuk kehilangan dalam waktu yang bersamaan. Sampai saat ini.

Aku tak berharap aku akan berhasil mematahkan hatiku sendiri. Pun semakin tidak berharap orang lain yang melakukannya. Sungguh. Apakah sebaiknya harapanku adalah waktu? Waktu yang mana?

Entah bagaimana sebenarnya tapi aku rasa kini dirimu sudah mampu berdiri tegak (lagi) dengan kedua kaki. Kubayangkan kau seperti itu. Karena dirimu yang baik patut untuk kau perlihatkan. Aku sangat gembira, pun takut. Aku ingin kau berlari, tapi bukan menjadi yang lama kelamaan samar dan tak terlihat. Seperti yang saat ini sedang terjadi, sepertinya kau sedang beristirahat dari larimu di kejauhan, karena sungguh kau sudah mulai terlihat samar. Olehku.

Seperti ada yang hilang. Begitulah. Benar begitu.

Aku tahu bahwa akhir bahagia hanya ada di bacaan favoritku di waktu lalu. Apakah aku terlalu muluk untuk mengharap itu terjadi di kehidupan yang saat ini?

Entahlah. Kadang aku hanya ingin menjalaninya dan mengupayakannya secara bersamaan. Kadang aku merasa sangat mampu untuk mengupayakannya, pun juga sangat mampu untuk sekedar menjalaninya, kali ini secara bergantian. Seperti melangkah, bergantian kanan kiri. Entah bagian mana yang akan sampai terlebih dulu kepadamu.