Aku tak akan bercerita tentang indahnya kota Bandung. Bukan pula tentang betapa bagusnya kinerja Walikota Bandung. Meski harus ku akui, Kang Emil adalah tokoh ternama di Bandung, yang telah memajukan kota ini selangkah demi selangkah. Tapi sungguh bukan itu yang akan kubagi disini.

Aku mulai menyukai kota ini karena di sinilah aku bertemu dengan teman kerja yang bisa membuatku semakin menikmati pekerjaanku. Ada teman-teman yang cukup gila, yang selalu bisa meramaikan hari-hariku. Bersama mereka, aku biasa melepas penat. Nongkrong malam bersama dan berbagi cerita sesuka hati. Bersama mereka, tak pernah ada batasan untuk jaim -jaga image. Semua lepas mengekspresikan dirinya. Bersama mereka, aku belajar tentang arti persaudaraan (ceiilleehhh…).

Aku yang sudah terbiasa tak menghiraukan tanggal lahir orang (mungkin karena bagiku hal itu bukanlah sesuatu hal yang wah sehingga harus dirayakan). Tapi di sini, kami terbiasa saling mengingatkan hari lahir rekan lainnya. Bukan untuk mengadakan sebuah surprise yang mewah, hanya sebuah perayaan sederhana. Bermodal sebuah kue ulangtahun yang kami beli secara patungan. Surprise sederhana yang kuakui bisa membuat hati bahagia.

Dan aku semakin mencintai kota ini, ketika Allah membimbingku ke majelis ilmu itu, Masjid Al Lathief. Iya, masjid tempat kumpulnya sekawanan pemuda-pemudi yang sedang terus berusaha memperbaiki diri. Komunitas yang kemudian kukenal sebagai Komunitas Pemuda Hijrah. Berawal dari sebuah kajian yang kuhadiri seorang diri, mendengarkan kajian seorang ustadz yang menurutku sanggup menyampaikan ajaran-ajaran Allah dengan bahasa anak muda masa kini. Suara hafalan Al-Qur'an beliau yang begitu merdu dan syahdu menuntunku kembali ke majelis itu. Rasa rindu untuk mendengarkan kajian-kajian beliau menuntun hatiku untuk kembali menginjakkan kakiku di masjid itu.

Hingga di suatu hari, aku mulai berteman akrab dengan beberapa peserta kajian tersebut. Berawal dari kajian, bertemu teman yang sama-sama ingin memperbaiki diri dan bersama-sama mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan Pemuda Hijrah. Bersama mereka, aku ingin berkembang bersama. Bersama mereka, kuyakin akan semakin bersemangat untuk mendekatkan diriku pada-Nya, Rabb-ku yang Maha Agung.

Advertisement

Sungguh, aku masih belum rela untuk meninggalkan kota ini. Bahkan bila suatu hari nanti aku mendapatkan pekerjaan lain, aku berharap masih tetap tinggal di kota ini. Karena sungguh nikmat-Nya yang kutemui di kota ini masih melekat erat di hatiku. Aku memang tak tahu ke mana lagi aku akan melangkah. Aku tak tahu sampai kapan aku berada di kota ini. Tapi aku masih selalu percaya bahwa skenario kehidupan yang Dia siapkan untukku adalah skenario terbaik bagiku.

Duhai Bandung… sudah setahun aku menginjakkan kaki di bumimu. Waktu yang mungkin belum terlalu lama, tapi cukup lama untuk membuatku betah tinggal di kota ini. Kota yang cukup sejuk, meski terkadang panas terik di siang hari. Kota yang tak semacet kota asalku, Bekasi, meski sering macet di akhir pekan. Tapi di kota ini, aku bertemu dengan orang-orang yang selalu mewarnai hari-hariku, teman kerja dan juga teman kajian. Iya, Bandung… I love you full!