Pernahkah kau terjatuh secara sukarela, sebab kau yakin seseorang akan menangkapmu, seseorang akan mengajarimu cara tertawa, cara percaya, cara mengeja rasa tak bernama? Seketika itu pula jagad raya berhenti bergerak, jiwamu terbakar, ragamu lebur dan dirimu hanya bisa menyerah karena kau tahu, kau menyerah pada orang yang tepat. – Fiersa Besari

Jujur, sulit untukku menerima kepergianmu secepat ini. Memang tulisanku tidak sebaik kau meninggalkanku, tapi kau abadi didalamnya. Sedih memang merelakan semuanya harus berakhir dan menyadari kenyataan bahwa hanya aku yang jatuh cinta, sedang kamu tidak. Dahulu, ketika kita masih bersama, bukan hanya aku yang merindu, kau juga mengucap hal yang sama. Meskipun mungkin itu dusta, setidaknya tidak semenyedihkan sekarang, yang hanya aku terkapar merindukanmu sendirian.

Aku merindukanmu. Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana.Aku tidak tahu harus kemana. Jika ada cara untuk melupakanmu dan merelakanmu sungguh aku rela mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Kesalahanku yang sama sekali tidak siap untuk kau tinggalkan. Begitu menyakitkan kepergianmu, karena aku belum benar-benar memelukmu. Belum benar-benar merasakan pelukmu. Aku belum. Belum siap untuk tidak pernah merasakan pelukanmu.

Aku jadikan kau embun dipagiku, mentari disiangku dan bintang dimalamku. Jadi, bayangkan jika kau pergi.. Jadi apa aku?

Mungkin rasanya semakin sulit karena aku tidak bisa membayangkan hariku tanpa kamu, membayangkan aku melangkah tanpa kamu, membayangkan pulang ke Rumah yang lagi bukan kamu. Aku hanya bisa menjadikanmu hidup dalam tulisan-tulisan yang aku buat saat senja, dan sekali-kali saat malam menjelang pagi. Karena di 2 waktu itu, aku selalu jatuh cinta padamu. Bagaimana aku melalui semuanya sendiri yang bisanya kamu disampingku? Semangat dari siapa lagi yang aku tunggu? Nyanyian siapa lagi yang selalu aku nanti? Cerita dan canda tawa siapa lagi yang aku dengar? Telepon dari siapa lagi yang aku terima berjam-jam dari malam sampai pagi?

Advertisement

Dalam tulisanku, aku akan mengarang banyak cerita.. dan akan selalu ada kamu didalamnya karena aku mencintaimu, tanpa karena.

Sekarang, semua berakhir dan kau benar-benar meninggalkanku. Ketika aku merindukanmu, aku akan menulis tentangmu. Ketika aku mengingatmu, aku akan menulis tentangmu. Ketika aku sedang meminum kopi, aku akan menulis tentangmu. Ketika aku sedang menikmati senja, aku akan menulis tentangmu. Ketika aku bangun tengah malam menantikan kamu kembali, aku akan menulis tentangmu. Dengan begitu, kamu akan selalu hidup didalamnya, didalam tulisan-tulisanku.

Aku tidak mau mengingat semua tentang kita. Namun sungguh, demi tuhan, aku begitu jatuh cinta padamu. Aku masih mau menemanimu mengerjakan tugas kuliahmu sepanjang hari dari pagi sampai pagi lagi. Aku masih mau kau buat tertawa. Aku masih mau kau buat kesal. Aku masih mau mendengarkanmu bernyanyi. Aku belum memelukmu.. Aku belum melihat gambar-gambar buatanmu.. Aku belum kau ajarkan memainkan gitar.. Masih banyak.. Aku belum memelukmu… Itu yang paling menyedihkan.

Aku tidak tahu sampai kapan aku seperti ini, disini.. Berharap kau kembali dan kita bersama, meski ku tahu itu tak mungkin.

Tahukah kau? Semakin aku berusaha melupakanmu dan merelakanmu, semakin terasa sesak dalam dadaku. Semakin terasa deras hujan dari mataku. Bantu aku menerima semua ini, terasa sulit untukku bahkan sekedar untuk terbiasa tidak melihat namamu lagi di handphone-ku. Apakah mungkin suatu saat kau akan mengingatku dan merindukanku? Aku harap ketika itu terjadi, hatiku masihlah milikmu. Agar aku dapat mengarang tulisanku tentang mimpi yang menjadi nyata.

Pernah disuatu senja aku merindukanmu dengan keadaanku yang sangat payah, lalu membayangkanmu bernyanyi seperti biasa, untukku..

Kita sedang bahagia, jangan buang waktu menerka-nerka akhirnya.

Tenang, aku disini.. Selama kau disisi, aku berjanji, tak kemana-mana.

Ah, semakin panjang tulisan yang aku tulis, malah semakin jelas membuatmu begitu berarti. Kepergianmu sangat menyakitkan. Aku harus terbiasa dengan semua hal yang biasanya denganmu menjadi tanpa kamu, yang biasanya ada kamu menjadi tiada lagi kamu. Biarlah aku yang memohon pada Tuhan memberikan nyawamu dalam tulisan-tulisanku. Aku jamin kau merasa hidup didalam surga, pasti kau betah!

Sekarang, di Jakarta masih sama, tidak seru karena tidak ada kamu. He he he. Pekanbaru bagaimana? Ada atau tidak adanya aku, tidak akan ada pengaruh apa-apa, pasti! Aku sudah tahu itu.

Baik-baik kamu, disana. Doaku selalu menyertai setiap langkahmu. Jangan lupakan aku, ya? Karena akupun tidak punya niat melupakanmu.

Oh iya, kita sama-sama pernah baca novel Dilan. Kau pasti hafal, Dilan pernah meyakinkan Milea bahwa setiap Milea akan tidur, Dilan berkata ‘Selamat Malam, Milea’ dan Milea percaya itu, jadi setiap Milea menutup mata hendak terlelap, Milea menjawab Dilan..

“Selamat Malam juga, Dilan. Aku rindu”

Serupa aku. Karena terbiasa dengan ucapanmu sebelum aku tidur, ‘Selamat Malam, Sayang. I Love you so much.’ Jadi dengan percaya dirinya aku, setiap malam sebelum tidur, aku selalu berkata..

“Selamat Malam juga, Sayang. I Love you so much, too. Aku rindu. Kau harus tahu.”

Kau tahu? Tidak penting sih, tapi harus tahu. Apa perbedaan kamu dan Dilan? Nggak tahu sih, namanya aja mungkin beda 1 huruf! He he he. Terus tahu persamaan aku dan Milea? Sama-sama, kadang suka berkhayal…