Dear Kamu,

Apa kabarnya? Sehat? Masih ingat sama aku? Semoga selalu sehat dan yang pasti aku telah mati di dalam hatimu. Berbeda denganku yang hingga kini harapku dan doaku masih tertuju padamu. Terdengar hopeless memang. Namun memang itu kenyataannya.

Sudah berapa purnama terlewati aku tanpamu? Rasanya? Ah jangan tanyakan itu, kamu sudah tahu jawabannya kok. Aku hampir mati untuk menyusun serpihan hati yang hancur berkeping-keping ketika kamu memilih untuk meninggalkan aku.

Hampa, tak berharga, marah, pedih. Rasanya campur aduk, namun yang pasti semuanya menjelma menjadi pahit dan sesak di hati. Setiap hari aku bertanya-tanya, kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu harus meninggalkan aku lalu tak sedikitpun kamu menoleh kepadaku yang tertatih-tatih menggapai kamu.

Kamu bilang, "ketika mencintai itu tak pernah ada alasan, lalu kenapa kita tak punya alasan untuk tidak mencintai seseorang lagi?" Rasanya aku tak mau mendengar kata-kata itu, bagaimana mungkin aku sudah tak cinta sama kamu setelah sekian lama kita bersama? Bagaimana mungkin kamu begitu baik-baik saja sedangkan aku tidak? Ini sulit bagi aku, aku yang terlalu dalam untuk mencintai kamu. Salahkah aku?

Advertisement

Kamu bilang, "Lupakan aku, kamu cari seseorang yang lebih baik dari aku." Bagaimana mungkin aku bisa dan semudah itu untuk mencari pengganti yang lain. Bagaimana mungkin aku melupakan semuanya, semua hal yang kita lewatkan bersama.

Suaramu, tawamu, candamu, wajah dinginmu, kamu yang sedang bengong mencari ide desainmu, kamu yang menyilakan kakimu saat bergumul dengan Auto Cad dan Google Sketch Up, kamu yang menahan perutmu karena terbenam bersama maketmu.

Semua tentang kamu begitu melekat dalam pikiran dan hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa begitu saja menghilang darimu? Kalaupun aku menghilang dari hidupmu, namun bukan berarti aku secepat itu untuk tidak mencintai kamu lagi.

Hei kamu, by the way aku ucapkan selamat atas yudisiumnya ya. Selamat, karena kini kamu sudah resmi menyandang gelar ST Arsitektur yang kamu bayar lunas dengan segala suka duka, dengan segala tawa, canda, tangis dan air mata. Dengan segala kegetiran, kekhawatiran, jungkir balik kepala di kaki kaki di kepala, kegelisahan, dan kepanikan sampai negara api menyerang.

Hehe 😀 Rasanya aku rindu, rindu saat menemanimu menuju hari dimana kamu telah sah menjadi seorang sarjana. Disana aku menyaksikan betapa kamu resah karena terancam ga ikut TA di semester ini karena nilai-nilai kamu belum lengkap. Aku menyaksikan bagaimana kamu rungsing dan riweuh ketika harus mengerjakan siteplan, denah, potongan, tampak, gambar 2D dan 3D. Aku menyaksikan ketika kantung matamu menjadi hitam karena harus begadang tiap malam.

Aku menyaksikan kamu meringis kesakitan saat jarimu terkena sayatan cutter saat mengerjakan maket. Aku menyaksikan ketika perutmu mual saat kamu telat makan karena fokus bergumul dengan google sketch up, autocad, lumion dan animasi. Semoga segala pesakitan, perjuangan, dan lelahmu menjadi awal menuju tangga kesuksesanmu. Semoga nanti setelah dapat ST di belakang namamu, kamu jadi arsitek yang handal, berkulaitas, dan bermanfaat untuk banyak orang. Amin.

Tak ada yang lebih pedih dari sebuah perpisahan meskipun hal itu dirancang se-menyenangkan apapun. Pasti akan meninggalkan luka, setidaknya bagi aku, perempuan yang kamu tinggalkan. Perempuan yang selalu memikirkan kamu. Perempuan yang selalu meminta kepada sang Maha agar kamu menjadi cinta sejatiku. Itu yang hanya aku bisa. Medoakanmu.

"Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu."

-Tere Liye