Terlepas dari lara hati kemarin, masih teringat bagaimana ku jalani hari dalam suasana melankolis. Banyak hal yang tak sempat ku tuliskan berlalu begitu saja, hingga menjadi sebuah gumpalan yang meluapkan air mata.

Ntah semua ini berawal dari kepenatan ataukah karena masalah ini terlanjur tenggelam dan membuatku tertikam. Hingga ku pinta hatinya yang penuh kasih untuk menampung sekelumit problema yang ku alami.

Ku biaskan sedu sedan menjadi lingkaran suara dalam badanku, kesendirian mendorongku mencari teman berbagi, teman yang bisa mendengar keluh kesahku. Dia adalah kekasihku.

Segumpal kebahagiaan menyusup dalam diri, merasakan kelegaan dan rasa ringan karena kasihku adalah penampungnya, tumpah ruah airmataku saat bercerita padanya. Bersamanya ku rasakan udara ketenangan dan rasa manja beralun menyusup batinku. Perasaan tertekan berangsur-angsur hilang, setelah ku sodorkan catatan-catatan melo dari seorang kekasih yang penuh air mata ini.