Kamu apa kabar?

Tak terasa hari ini sudah 61 hari aku tanpa mu,

Aku rindu.

Mengulang kembali cerita kita dulu,

Aku teringat saat pertama kali aku bertemu dengan mu, yang tak pernah ku duga sebelumnya.

Advertisement

Kamu hadir membuat kenyamanan, menciptakan tawa dan memberi sinyal untuk ingin memiliku.

Tapi tiba-tiba wanita itu datang dan mengaku jika dia masih kekasih mu, aku terkejut saat itu.

Kamu mengaku sendiri tapi wanita itu meneror ku dan menjudge aku seakan aku bukan wanita baik-baik.

Aku meminta mu untuk kembali dengan wanita mu, kamu menolak. Kamu lebih memilih diriku.

Tahu kah kamu lelaki ku, saat itu pikiran ku tak karuan.

Aku tak mungkin berada di tengah-tengah kalian, tapi aku tak bisa membohongi perasaan ku.

Aku mulai jatuh hati pada mu.

“Maafkan aku wahai wanita yang merasa tersakiti oleh kehadiran ku”

Aku mulai mencintai kamu, aku tahu aku sudah menyakiti hati wanita lain saat itu.

Saat aku memberi mu 2 pilihan antara aku dan dia, kamu menjawab aku lah yang kamu pilih.

Entah aku harus senang atau merasa bersalah, tapi aku juga inginkan kamu singgah di hati yang kosong ini.

Kami pun berkomitmen untuk menjalin hubungan ini setelah kamu hilangkan wanita itu dari hidup mu.

Suka duka kami lalui bersama, bahkan rencana pernikahan pun sudah kami rencanakan.

Kamu membawa aku masuk ke keluarga mu, mengenalkan aku ke orang tua mu dan dengan canggung aku mengenalkan diri sebagai calon istrimu.

Sambutan yang hangat ku terima saat itu, aku merasa sangat beruntung memiliki mu.

“Setiap hari aku selalu dibuat jatuh hati atas sikap mu”

Aku berjanji pada diriku sendiri, kamu lah pilihan terakhir ku.

Tak peduli apa pekerjaan mu, berapa penghasilan mu. Aku tetap mencintai mu.

Aku dengan sabar menunggu saat hari bahagia itu tiba, perjuangan mu untuk mengahalalkan ku tak akan pernah aku lupa.

Perjalanan cinta ini tak semulus yang aku bayangkan, godaan pun datang menghampiri kami.

Namun, hati mu yang tak kuat menjaga komitmen ini.

Saat aku dan kamu dihadapkan dengan masalah, kamu kembali menghadirkan wanita mu yang dulu,

Mengapa dia (lagi)? Tidak cukup kah hanya aku di hati mu”

Aku benar-benar kecewa karena mu, dengan sangat mudah kamu melupakan aku bahkan membuang aku jauh-jauh dari hidup mu.

Hati ku sakit, perih, bahkan hancur tak berbentuk.

Kamu pergi dengan wanita mu yang dulu (lagi) saat harapan ku pada mu terlalu besar.

Saat ini aku selalu mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi, namun sampai saat ini aku belum berhasil.

Pikiran ku selalu diisi nama mu,

Bukan aku tak terima atas kehilangan mu namun cara mu meninggalkan aku begitu menyakitkan dan membekas di hati ini.

Jika memang dia yang terbaik, lupakan semua dan bahagialah bersamanya.

“Teruntuk wanita yang telah dipilih lelaki ku,

Mungkin kamu punya rasa dendam kepada ku sehingga aku kini merasakan bagaimana rasanya diposisi mu dulu, jagalah baik-baik lelaki ku yang kini menjadi milik mu (lagi). Kini aku mundur”