Dear Mantan,

Malam ini terasa sangat panjang tanpa adanya suaramu yang menyapaku melalui telepon. Sedih rasanya jika teringat waktu-waktu yang pernah kita lewati bersama. Waktu yang ku habiskan bersamamu untuk sekedar mendengarkan kesibukanmu. Aku tau kau sibuk tapi kau selalu menyempatkan untuk mengirimkanku pesan walau hanya satu kali. Dengan itu, aku merasa bahwa aku lebih penting dari segalanya.

Namun itu semua hanya masa lalu yang tak akan lagi terulang. Karna kini kau telah pergi tanpa memberiku kabar. Sesekali aku masih membuka akun media sosialmu untuk sekedar melihat keseharianmu. Maafkan aku yang masih berharap padamu.

Pagi ini cuaca sangat cerah, aku harap ini awal yang baik untuk bisa melupakan kenangan-kenangan indah bersamamu. Aku lewati hari-hariku dengan sesekali melihat kebelakang, dan akhirnya setelah tujuh bulan berlalu aku mulai bisa melupakanmu yang telah pergi tanpa alasan. Aku mulai membuka pertemanan baru tapi ternyata kau belum sepenuhnya hilang.

Setiap laki-laki yang mendekatiku selalu ku bandingkan dengan mu dan pada akhirnya mereka belum ada yang bisa sepenuhnya menggantikanmu. Mulai kuhentikan mencari tahu tentangmu namun aku belum juga menghapus contact BBMmu. Hingga suatu malam kau memberikan tanda like pada status yang aku buat. Aku merasakan benteng yang telah ku buat kokoh selama tujuh bulan belakangan ini hancur berkeping.

Advertisement

Bahkan kenangan yang telah kukubur dalam-dalam kini bangkit dari kuburnya. Semua itu terjadi hanya karena melihat notifikasi yang muncul itu darimu

Sebenarnya apa maumu?

Kubiarkan saja notifikasi itu, tanpa memberikan respon kepadamu. Ingin rasanya aku membiarkan semua itu, menganggap itu hanya ilusiku, karna hara rindu yang teramat besar terhadapmu. Namun kejadian itu terjadi lagi, lagi dan lagi. Kau selalu memberi like pada apapun yang ku perbaharui di BBMku. Sebenarnya apa maumu?

Apa kau ingin menghancurkan hatiku yang telah berkeping-keping ini? Atau kau ingin memperbaiki semua kesalahmu selama ini padaku, namun kau tak memiliki cukup nyali untuk mengawalinya? Hingga akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakan kabarmu melalui pesan BBM. Tanpa harus menunggu lama kau membalas pesanku dan kita saling berbalas pesan.

Senang rasanya bisa bercerita denganmu lagi, aku merasa tujuh bulan terakhir ini hanya mimpi buruk yang hadir dan kini aku telah terbangun dengan kau masih berada disampingku. Senyumku merekah sepanjang malam itu hingga aku tidak ingin tidur dan berhenti membalas pesanmu. Hingga tanpa sadar fajar mulai menyingsing dan yang kurasakan kau tak sehangat semalam.

Terlihat pesan dariku tidak kau balas sampai siang, sore, malam, bahkan hingga hari terus berganti. Kembali terbersit dalam pikiranku “Sebenarnya apa maumu?” Kau datang dan pergi bagai jailangkung dan merusak semua pondasi yang telah ku bangun dalam tujuh bulan belakangan ini.

Sebenarnya apa salahku, apa yang telah kuperbuat hingga kau tega mempermainkan hatiku ini? Ingin aku menangis tapi yang ada hanya rasa sesak didada yang sangat sesak hingga aku sesak nafas dan aku lupa bagaimana cara mengeluarkan semuanya agar tak sesak lagi. Aku hanya bisa terdiam dan meratapi semuanya. Kenapa aku harus mengenalmu, kenapa aku harus mencintaimu, kenapa pula aku harus bersikap baik lagi pada mu yang telah pergi tanpa kabar.

Rasanya aku hanya bisa marah pada keadaan. Namun, jika kau ingin hubungan kita kembali seperti semula, katakanlah padaku segera. Tetapi jika kau ingin aku segera melupakanmu, kumohon padamu untuk jangan datang lagi dan merusak semua keadaanku kini. Karena jujur hingga saat ini aku belum bisa membuka hati ini untuk yang lain. Jadi aku mohon padamu, bantu aku untuk melupakanmu, hanya dengan jangan pernah hadir dalam hatiku kembali, jika hanya ingin menghancurkannya.

Salam,

Aku yang masih memikirkanmu.