Dear mom & Dad

Bagaimana kabar Ayah & Ibu di sana?

Jujur ingin rasanya saat ini aku duduk di antara kalian berdua, mendengar cerita masa lalu, cerita saat Ayah dan Ibu mulai merajut kasih berdua. Mendengar cerita tentang indahnya masa-masa menjalin cinta pemuda-pemudi desa. Mendengar cerita tentang senyum malu wanita incaran Ayah yang kini menjadi Ibundaku tercinta.

Aku masih ingat tentang cerita Ayah yang berulang kali bercerita tanpa bosan tentang perjuangannya mendapatkan hati wanita pujaannya, yang justru disangkal oleh Si Wanita Pujaan yang malu cerita romantis jaman hitam-putih (Jaman Dulu) mereka diketahui orang, sekalipun itu oleh putera-puteri mereka sendiri.

Masih juga teringat, Ibu bercerita dengan wajah memerah tentang Ibu yang menjadi incaran banyak pria remaja, namun menjatuhkan hatinya pada seorang Guru SD dengan gaya super minimalis (sangat apa adanya) yang kupanggil ayah.

Advertisement

Sering aku merenung dalam kesendirianku, tentang ayah yang begitu beruntung menjalin kasih denganmu, dan membentuk keluarga yang sungguh luar biasa. Sering juga aku terdiam, tatkala teringat wajah ibu yang tersenyum.

Senyum yang mungkin mewakili rasa syukur mendapatkan pendamping dan teman hidup seperti ayah.

Tuhan memang Maha Segalanya. Karena cinta-Nya, Dia menuntun ayah untuk menemukan tulang rusuknya. Karena cinta-Nya, Dia membisikkan kata cinta ke hati ibu untuk membuka hari untuk ayah.

Ayah dan Ibu yang selalu kucintai.

Kisah kalian berdua sangatlah istimewa. Ada cinta dan suka di sana, ada pengajaran tentang bagaimana mencintai. Cinta kalian menghadirkan aku keempat wanita cantik di sekelilingku, kakak-kakak perempuanku. Kini kami sudah dewasa dan menjalani hidup masing-masing.

Kami bersyukur dan sangat bersyukur menjadi seperti sekarang. Kami sering mendengar cerita Ayah dan Ibu tentang kerasnya perjuangan hidup, tentang perjuangan Ayah dan Ibu membesarkan, mendidik, dan menyekolahkan kami hingga kami bisa “makan sendiri” seperti saat ini.

Ayah dan Ibu yang tercinta,

Hari ini aku ingin pulang, dan duduk bersama kalian di rumah masa kecilku. Bercanda dan bergembira bersama kalian, di hari yang istimewa. Apa daya, aku belum bisa. Sungguh hati kecewa, namun hanya doa dan ucapan yang bisa kusampaikan. “Selamat hari istimewa untuk kalian berdua”. Puluhan tahun yang lalu kalian melangkah ke hadapan Imam dan mengungkap janji suci itu. 37 tahun sudah kisah itu berlalu, namun aroma cinta itu masih kuat tercium.

Selamat hari jadi, Ayah dan Ibuku tercinta. Kisah kalian menjadi inspirasi bagiku, bagi kami buah cinta kalian berdua.

Perjalanan kalian berdua dengan segala lika-likunya adalah cerita yang tiada habis terekam dalam lembaran. Kalian menjadikan kami manusia yang gagah, namun sejujurnya aku masih ingin menjadi bayimu yang mungil, yang terus kalian gendong dan tertidur di pangkuan.

Saat ini aku sedang bertanya pada hatiku, bagaimana bisa? Bagaimana bisa kalian melakukan hal hebat ini?

Bagaimana bisa kalian merangkai puisi cinta kalian dengan begitu banyak rangkaian bait dan syairnya?

Hatiku menuliskan sepenggal kalimat ini,

“Semoga aku dan pujaan hatiku bisa menulis cerita yang istimewa seperti cerita cinta kalian berdua”

Ayah, Ibunda.

Waktu berjalan dan mungkin kalian sendiri sudah mulai lupa dengan kisah-kisah kalian di masa lalu. Jejak yang telah kalian tinggalkan dalam buku harian kalian yang tak tertulis namun terekam oleh bumi. 37 tahun bukan waktu yang sebentar untuk sepasang kekasih memadu cinta.

Bagaimana bisa? (aku bertanya lagi). Aku ingin mendengar cerita kalian lagi, Aku ingin mendengar semuanya, termasuk cerita bercucuran air mata, saat cobaan melanda, saat dua kepala tidak sepaham dan ingin didengarkan.

Aku masih terlalu muda. Yang sering kutemui adalah kebingungan dan jalan buntu. Sering aku bersemangat namun sering aku jatuh. Aku belum sampai pada separuh jalan. Bisakah aku seperti ayah, yang menjadi seorang “Pria” dengan didampingi wanita sehebat ibu di sisiku?

Ayah dan Bundaku yang kusayang.

Cara kalian saling mencintai membuatku terbuka mata tentang kedalaman arti cinta. Bahwa cinta dan mencintai itu bukan pilih suasana, bukan pilih keadaan, bukan saat suka, bukan saat tawa.

Cinta itu adalah tetap memeluk erat bahkan saat duka, saat air mata ibu jatuh ke pundak ayah. Cinta itu adalah tentang rangkulan dan genggaman tangan penuh kasih saat berjalan di setapak penuh kerikil tajam. Cinta itu adalah tentang saling memberi, bukan hanya materi tetapi hati.

Aku sangat bersyukur, bahwa aku terlahir dalam keluarga yang penuh cinta. Keluarga di mana kalianlah yang aku panggil ayah dan Ibu. Betapa beruntungnya aku, menjadi putera dari sepasang kekasih, dan adik dari saudaraku yang lain, buah cinta kalian.

Ayah dan Bundaku,

Dari tanah jauh kuucapkan selamat. Ibu, kuucapkan selamat karena Tuhan begitu baik memberimu pasangan hidup yang seperti Ayah dengan segala keunikan yang ia punya. Dan untuk Ayah, jujur aku bersyukur bahwa aku terlahir dari buah cintamu dengan seorang wanita istimewa.

Teruslah tersenyum, dan teruslah menjadi teladan kami yang baik, karena kami muda, masih jauh berjalan dan belum apa-apa. Kuucapkan selamat untukmu, Ayah dan Ibu,

hari ini kalian sekali lagi menambahkan satu halaman baru dalam kisah cinta kalian berdua.

Happy Anniversay, Mom & Dad. kalian adalah contoh bagaimana cinta itu bicara.

Maaf aku tak ada bersama kalian saat ini. Dari perantauan aku turut berbahagi bersama kalian berdua. Semoga selalu sehat, dan Tuhan selalu memberkati kalian berdua.

Dariku

Putera Ayah dan Ibu

_________________________

Aleks & Anastasia,

4 Oktober 1978

4 Oktober 2015