Halo kamu,

atau halo aku?

Sudah lama sejak terakhir kali kita benar-benar bicara sendiri dua arah begini ya.

Apa maksudku?

Ah, kamu pasti paham.

Advertisement

Kamu pasti mendengar.

Kamu hanya tidak mau membalas suaraku.

Apa aku benar-benar memuakkanmu?

Maaf, maafkan aku.

Aku benar-benar tidak bisa menjagamu.

Dear myself, kalau kamu sedih mengapa tidak menangis saja?

Kalau kamu marah kenapa tidak luapkan saja?

Kenapa kamu menahan semuanya. Memaafkan semuanya.

Semuanya.

Kecuali aku?

Apa karena memang bagimu, memaafkan orang lain jauh lebih mudah daripada memaafkan dirimu sendiri?

Atau memang semua ini kesalahanku?

Ah, ya.

Tentu saja.

Orang lain tidak ada kaitannya dengan kita.

Akulah satu-satunya yang membuatmu terluka.

Lagi dan lagi.

Halo kamu,

atau aku?

Bukankah setiap orang punya kesempatan kedua?

Ah ya,

Kamu sudah memberiku kesempatan berkali-kali.

Hanya saja aku yang tetap melukaimu.

Tapi bagaimana jika gunakan itu sebagai pembelajaran.

Agar berhati-hati di masa depan.

Bukankah itu yang kamu katakan agar tidak melukai perasaan orang lain?

Bukankah itu caramu memaafkan orang lain?

Bagaimana jika kamu katakan itu juga padaku?

Tidak bisakah sekali ini saja,

katakan padaku.

Salahku adalah belajar kita.

Berbuat salah adalah hal yang wajar.

Kesalahanku adalah hal yang bisa dimaafkan.

Tidak bisakah sekali ini saja.

Jatuhkan air matamu untukku.

Bukankah kamu begitu mudahnya mengasihani orang lain.

Tapi kenapa kamu bersikap sedingin ini padaku?

Haruskah aku menyalahkan orang lain karena ini?

Ah,

Nanti kamu semakin benci padaku.

Ini salahku.

Tapi bukankah kita adalah satu.

Salahku, salahmu juga?

Ah ya,

dan karena itulah kamu tidak memaafkanku.

Jika aku memaafkanmu, apakah kamu akan memaafkanku?

Tapi aku tidak marah padamu.

Aku tidak membencimu.

Aku malu padamu.

Aku merasa rendah di hadapanmu.

Aku lagi-lagi gagal menjagamu.

Aku membuatmu jatuh dalam penyesalan.

Aku bahkan tak bisa menjaga diriku sendiri.

Apa kita terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain?

Sampai lupa kehadiran satu sama lain?

Ah, well. Maafkan aku.

Kamu tidak akan suka mendengar itu.

Sudah lupakan masalah orang lain.

Ini tentang kita.

Tentang aku yang menyakitimu.

Halo diriku sendiri,

Apakah kamu benar-benar akan mendiamkanku?

Aku sendirian.

Maafkan aku.

Aku hanya mencoba menghiburmu.

Aku hanya mencoba menyembuhkan lukamu.

Tapi aku salah.

Tapi aku justru membuatmu semakin terluka.

Dan pada akhirnya, kamu mendiamkanku.

Aku, benar-benar memohon maafmu. Setulus-tulusnya.

Maaf, maafkan aku.

Maafkan aku yang dengan cerobohnya melukaimu.

Bisakah kamu, mengangkat kembali dagumu setelah ini?

Walaupun kamu membenciku.

Walaupun kamu tidak akan pernah memaafkan kesalahanku.

Bisakah kamu, hidup dengan baik setelah ini?

Ah ya, tentu saja.

Bukan kamu namanya kalau menyia-nyiakan hidup.

Kita akan baik-baik saja, iya kan?

Kita mungkin hanya tidak bicara lagi satu sama lain.