Dear Najwa, happy new year.

Pagi ini aku bangun di sebuah negara yang jauh sekali darimu. Sudah hampir 15 bulan aku di sini. Pagi ini hari pertama di 2017, anakku. Kau pasti sedang tidur saat ini karena beda waktu di antara kita yang mencapai hingga 5 jam.

Pagi ini, aku ingin memulai hari di tahun baru ini dengan menulis untukmu. Aku senang menulis, ya itulah kekuatanku yg mungkin suatu saat akan membawa kita bertemu.

Entah di tahun berapa kau akan menemukan tulisanku ini, mungkin saat itu aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Ya, entahlah, yang ku tahu aku akan terus menulis untukmu. Karena hanya lewat tulisan-tulisanku, dunia akan tahu apa yg terjadi pada kita, dua perempuan yang hanya sedang berusaha melanjutkan hidup.

Kau, dengan otak 10 tahunmu dan aku dengan kekuatan 36 tahunku. Dengan menulis pula, lelaki itu tak akan mampu menahanku. Jari-jariku akan terus menari di atas keyboard lalu men-submit di media apapun yang bisa kau baca suatu saat nanti.

Advertisement

Suatu saat nanti, saat kau bisa mengakses internet. Maka perjuanganku menggapaimu hanya bisa kulakukan lewat doa dan tulisan. Doa adalah ikhtiarku, memohon sebagai makhluk Allah dan tulisan adalah ikhtiar lemahku sebagai manusia.

Dear Najwa, happy new year.

Tadi malam aku melihat suasana kembang api yang begitu marak di kota ini, kota yg jauh lebih modern dari kota yg kau diami. Saat aku melihat pendar kembang api itu, aku berharap kau ada di sisiku. Tapi you know, kita masih belum bisa bersama saat ini. Dan sekali lagi, aku hanya berusaha melanjutkan hidup dengan sepositif apapun yang aku bisa. Mungkin kau tak percaya bahwa setiap hari aku selalu memikirkanmu, mendoakanmu dari jauh. Jika kau melihat posting-an-posting-anku di media sosial, ya, aku jarang mengeluh. Aku hanya tak suka mepertontonkan lukaku pada semua orang lalu meminta simpati mereka.

You know me, I am your tough mom. Aku lebih suka terus bersyukur akan apa yang ada saat ini sambil terus memupuk harapan takdir perpisahan ini akan berakhir suatu hari nanti. Jika pun tidak di dunia, ada akhirat untuk kita. Ku harap kau selalu terus berusaha be reaksi positif akan takdir pahit ini. Mungkin saat kau menginjak usia remaja, kau akan mulai negatif dan pahit dan kau akan mulai menyalahkanku bahkan mungkin Tuhan.

Ku harap jika perubahan hormon itu datang, imanmu akan jauh lebih memimpin dibanding logika dan hatimu. Percayalah, takdir apapun dari Allah itu, adalah yang terbaik, anakku. Mungkin saat ini kita masih belum tahu dan selalu mengeluh dan bertanya pada-Nya “Why me?”. Tapi aku belajar bahwa sekeras apapun kita berteriak pada-Nya takdir itu tak kan berubah. Kita tetap terpisah, tanpa akses, tanpa kompromi dari pihak seberang sana. Jadi untuk apa kita berkeluh kesah, mengeluh pada Allah bahwa takdir-Nya salah?

Justru dengan syukur anakku, maka nikmat kita akan ditambah. Teruslah bersangka baik pada ketentuan-Nya, dear Najwa. Mungkin suatu saat kau akan menemukan hidup sedikit down, nothing seems to work, tapi dengan pengalaman hidupku yang sudah bermacam-macam, percayalah aku tahu bagaimana takdir itu, jika disyukuri hanya akan membuahkan nothing but the best.

Dear Najwa, happy new year.

Aku membeli selembar kartu pos untukmu. Di tahun baru ini aku akan mengirimkan sepucuk tulisanku padamu. Tentunya tidak ke alamat rumahmu, karena hanya akan menimbulkan huru-hara di seberang sana. Seperti biasa, nenek akan membawakan kartu pos kirimanku ke sekolahmu. Jika kau takut membawanya pulang, buanglah di tong sampah depan kelasmu, aku tak ingin menyusahkanmu dengan sepucuk tulisanku.

Aku juga mengirimkan sepotong fotoku. Aku mendengar dari nenek bahwa dompetmu hilang dan satu-satunya fotoku yang kau punya hilang bersama dompet itu. Jika kau takut membawa foto itu pulang, buang saja di jalan, anakku. Asal kau sudah melihat bagaimana aku saat ini, itu sudah cukup. Kau tahu bahwa kita berdua hanya perempuan yang tak mampu melawan otoritas laki-laki itu.

Ah, kadang aku berharap ia bisa lebih bijak. Jikapun aku tak boleh bertemu denganmu lagi karena keputusanku yang tak mampu lagi bersamanya, setidaknya nenek, Kai, dan sepupumu semestinya masih boleh mengunjungimu. Tapi mereka seperti menganggap bahwa seluruh keluargaku haram menemuimu. Hingga Nnnek dengan tongkatnya tertatih berusaha menemuimu di sekolah, tempat publik yang masih bisa digapai. Haha, itu pun jika ia datang, kau akan gugup dan nenek, ibuku, akan bersembunyi; semata-mata agar ia tak membuat huru hara di tempat umum.

Ah, entah sampai kapan amarah itu bersarang di dadanya. Yang jelas saat ini aku hanya berusaha melanjutkan hidup di tempat yang aman, jauh darinya. Kepergianku dari tanah air akan menimbulkan kedamaian bagimu, bagi keluargaku, karena aku, si wanita yg berseteru dengan lelaki itu, tak ada lagi di negara itu. Mungkin inilah caraku menghukum diriku sendiri, menjauh dari keramaian, mengejar cita-cita akademikku; satu hal yang masih bisa aku kejar dalam hidup. Meskipun dengan itu, dunia mencapku sebagai ibu bejat, ibu yang meninggalkan anaknya demi kariernya. Ku biarkan saja itu. I know who I am dan kenapa aku harus menjauh dari tanah air.

I don’t want more fighting.

Sudah cukup.

Jika merebutmu dariku dan tak berniat membagi apapun denganku itu membuatnya bahagia, maka biarkan saja ia merebut semuanya.

Dear Najwa, happy new year.

Tahun ini kau akan berangkat ke Thailand, anakku. Luar biasa bangganya aku akan pencapaianmu meski mungkin aku tak pantas lagi untuk itu. Semua orang akan memuji bapakmu sebagai bapak teladan dan aku sebagai ibu bejat. Aku terima itu.

Semoga kau memberikan penampilan terbaik disana, anakku. Ingatlah bahwa kau harus berani, percaya diri dan tidak cengeng. Kita ditakdirkan Allah terpisah seperti ini, agar kita kuat dan memiliki semangat pantang menyerah. Ku harap, meski ini pahit, suatu saat kau juga akan mampu melihat rasa manis dari kepahitan itu, seperti yang kulihat saat ini.

Selamat berlomba anakku. Aku pasti akan terus mengikuti beritamu, meski itu mulai samar-samar. Dan aku tahu, tinggal 2 tahun lagi, maka nenek pun takkan mampu lagi bertemu denganmu. Kau akan pindah sekolah, sekolah yang tak mampu nenek jangkau lagi karena ada lelaki itu di sana. Saat hari itu datang, percayalah, anakku, aku, akan terus menulis. Menulis hingga suatu saat tulisanku akan menjangkaumu.

Dear Najwa, happy new year.

Semoga sukses untuk kita di tahun 2017 ini. Kau menang lomba, dan aku dengan riset PhD-ku. Ada 365 hari baru lagi di hadapan kita anakku. Semangat, lakukan yang terbaik!

Achieve more, climb more, anakku. Aku, akan selalu mendoakanmu.

Happy new year, Najwa.

Auckland, 1 Januari 2017.

Me