“Maaf untuk semua yang sudah aku lakukan selama ini. Begitu menyenangkan mengenalmu tanpa sadar ternyata aku melukai hatimu.”

Pipi basah air mata berlinang, beberapa caption menunjukan objek yang selama ini rela berkorban untuknya tapi Ries terlalu angkuh untuk mengakui bahwa memang hanya dia yang selalu ada saat ombak menghantam. Terbesit dalam hati, akankah semua ini kembali seperti sedia kala karna hubungan yang selama ini Ries jaga akhirnya terpecah karena kebimbangan Ries yang berlarut terlalu lama. Entah karena trauma atau memang “player” tapi 1 yang selalu lekat dengan Ries adalah pribadi yang sulit dipahami “semakin erat menggenggam semakin habis” seperti menggenggam pasir.

“Biar dia tetap seperti itu memberikan kebahagiaan tersendiri untuk orang lain kenyamanan tersendiri sampai pada waktunya nanti”

“Hmmmm. Apa mau mencoba meraba hati ini untuk diukir menjadi sesuatu yang bermakna” (senyum simpul dalam hati berbisik)

“Satu lagi ksatria dari belahan bumi lain mencoba menggapai air muara abadi”

Entahlah sampai kapan ini akan berakhir semua silih berganti datang dan pergi itu yang sedang Ries nikmati saat ini karna tidak ada lagi yang mampu, kali ini kita akan lihat seberapa besar perjuangannya. Akankah seperti dia yang akhirnya kecewa?

“Ahh tidak jangan sampai ada lagi yang kecewa karena sebuah kejadian masa lalu bodoh yang seharusnya aku buang” (menghela napas dalam-dalam)

Advertisement

“Tapiii … harus bagaimana, semua laki-laki yang kupuja seperti halnya meraka yang bangunnya kesiangan padahal ingin disebut pahlawan”

Aku cinta kau

Didunia yang luas dan tidak berperasaan ini

Dalam putaran waktu tiada batas

Kenyataan satu-satunya yang kita temukan

Namun tidak ada yang mengajari kita

Asalkan kita tetap bersama

Dalam kamar luas dengan segala kebutuhan ada tidak satupun yang terlewat, duduk di sofa empuk balutan kain merah menawan memandang jendela besar dalam kamar memperlihatkan pemandangan langit bertabur bintang. Bulan memandikan cahaya masuk melalui jendela besar itu. Terlihat jelas kulit halus mulus rambut hitam panjang bergelombang, mata bak rembulan memancarkan cahaya yang tidak dapat diungkapkan. Untuk siapapun yang memandangnya bahkan rembulan pun merasa iri seperti sedih akan sinarnya tergantikan. Di sebelahnya terlihat meja kecil dengan teh hijau kesukaan Ries menemani malam yang panjang

Menghela napas “Tuhan salahkah aku?”

Sepanjang malam selama sepekan entah apa yang membebankan hati Ries, hingga harus memikirkannya terjaga setiap malam. Menetes air mata tanpa sadar mengingat apa yang telah Ries alami. Sesekali Ries tersenyum bila mengingat kejadia-kejadian konyol yang telah Ries perbuat. Tiba-tiba senyuman berubah jadi sembilu kaku seiring dengan derasan air mata mengalir di pipi bila terbesit kenangan pilu mengiris hati terbuang waktu.

Malam itu terlihat cahaya bulan merah keemasan seperti mengiringi kegundahan yang sedang Ries rasakan terdengar syair lara yang tak kunjung henti ikut menemani malam yang panjang, redup-redup tapi pasti.

"Hey kamu iya kamu jodohku yang entah ada di mana , aku menunggumu di muara kehidupan cahaya bulan memandikanku dalam gelap yang menggenang akankah kau temukan ku di sini di belahan bumi lainnya, sampai kapan aku harus terinjak karena mereka yang datang dan pergi hanya untuk melepas dahaga." Mencari pelabuhan terakhir hati ini berkali Ries coba berkalipun ia tercabik dalam kobaran api yang tak kunjung reda dekapan yang dirasa tak setulus yang diharap terkadang terbesit dalam benak mungkinkah ini takdirku.