Tiga ratus tujuh puluh lima hari adalah waktu terlama bagiku menghuni hati seorang wanita. Pada awalnya, aku meyakini bahwasanya ini adalah hunianku untuk selamanya dan akan menjadi alasanku untuk pulang. Namun, semuanya tetap menjadi proses dan aku harus menerima di saat takdir memutuskanku untuk meninggalkan hunian itu.

Tinggal di hatimu selama tiga ratus tujuh puluh lima hari memang memiliki kesan yang mendalam pada hidupku. Ada beragam kenangan yang jika diingat, akan menggoyahkan sanubariku dan mungkin saja aku akan mencoba untuk kembali lagi. Aku masih ingat, di awal kedatanganku hatimu masih ditempati oleh orang lain yang meskipun ia telah lama membuat rumahmu tidak nyaman. Kedatanganku yang kau nyatakan sebagai bentuk kenyamanan, telah membuat kau dengan kejamnya mengusir orang itu hanya karena aku.

Sejujurnya, setelah aku mengetahui semua itu. Aku merasa sangat bersalah dan hingga saat ini, itu menjadi salah satu perkara yang amat kusesali. Apapun alasannya, bagaimanapun kejamnya orang itu di matamu, aku tetaplah orang yang telah melakukan hal yang hina. Meskipun, itu semua terjadi karena engkau yang tidak tegas terhadap perasaanmu sendiri. Namun, aku tidak akan menyalahkanmu.

Tetapi, itu semua pada akhirnya mencapai pada titik balas yang telah kuterima. Cinta yang hakikatnnya adalah sebuah paksaan yang kau terima dengan lapang dada itu, akhirnya mulai terkikis. Aku tidak menafikannya, aku memang merasakan tidak ada lagi kenyamanan. Alasanku untuk pergi cukup kuat.

Banyak orang yang mengatakan kepadaku, " ingatlah semua kenangan manis dengannya, dan kau akan merasakan kenyamanan itu kembali,". Namun, mengenang semua yang indah hanya melumpuh prinsip yang sudah kutegaskan berkali-kali kepadamu. Apa artinya kenangan indah, jika prinsip yang kita junjung tidak terjaga dengan utuh. Cinta dan hidup kita harus senantiasa berproses. Langkah kita harus sama-sama jelas. Jika engkau masih saja ragu, aku tentu tidak mampu untuk melanjutkan cinta ini. Kita tentu perlu hidup yang benar, bukan?

Advertisement

Aku memilih untuk pergi, bukan karena aku tidak lagi mencintaiku. Tetapi, ini semua kulakukan demi hakikat hidup yang harus tetap kujaga dan akan kupertanggung jawabkan. Mungkin, engkau akan berfikir bahwa alasan yang kuutararakan hanyalah sesuatu yang dibuat-buat, sebagaimana yang biasa orang pikirkan kepada orang muda yang mengakhiri cintanya. Ya, karena ada pihak lain yang lebih menarik. Tidak apa-apa. Namun, ingatlah pada suatu saat nanti engkau akan benar-benar memahami keputusanku ini dan tentunya, engkau akan memahami hakikat cinta yang sebenarnya.

Hidup itu membutuhkan cinta, dan cinta itu terikat di dalam hakikat kehidupan yang harus dijaga oleh semua manusia. Termasuk kita, sayangku. Aku pergi dan selamat tinggal..