Indonesia tanah tumpah darah, nampaknya sudah menjadi prinsip yang dibawa mati oleh beberapa keluarga dari Timor-Timur yang saat ini memilih menetap di Indonesia. Kalau ditanya mengapa memilih Indonesia, mereka hanya bisa menjawab “Karena saya cinta merah putih”. Sontak hati kecil ini bergemuruh mendengar untaian kata yang agak terbata, namun penuh dengan goresan makna.

Memang kehidupan yang sulit dan susah harus dijalani oleh kebanyakan dari mereka yang memilih menetap di Indonesia. Semua itu tidak menjadi beban karena yang terpenting, yakni hidup mereka aman dan tenang tidak seperti waktu di Timor-Timur, demikianlah pendapat dari kebanyakan WNI eks Timor-Timur yang sekarang menetap di wilayah Atambua Nusa Tenggara Timur. Ya sangat luar biasa memang, sebuah pilihan yang membuat Ibu Pertiwi tersenyum menggenggamnya.

Sampai saat ini, kehidupan mereka yang menetap di Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya di wilayah Atambua dan sekitarnya sangat menyedihkan. Kebanyakan dari mereka hanya bisa bekerja sebagai pencari kayu bakar dan berkebun untuk membiayai kebutuhan keluarga. Yang paling menyedihkan lagi, melihat anak-anak kecil yang dibesarkan oleh orang tua asuh karena dahulu ditinggal oleh orang tua mereka sewaktu perang saudara yang terjadi di Timor-Timur tahun 1999.

Ada seorang anak wanita yang baru berusia 3 tahun, namanya Ambrosia. Dia sangat pintar dan dewasa sekali, selain itu anak tersebut sudah hafal dengan lagu Indonesia Raya dan menghafal isi dari pancasila. Ketika aku tanyakan “Siapa yang ngajari adek?”, anak tersebut hanya tersenyum sambil menjawab “apai” yang berarti papa dalam bahasa Indonesia. Tidak ada raut tangisan seperti pada peritiwa di tahun 1999, yang saat ini dirasakan oleh mereka adalah kegembiraan karena walaupun hidup susah, tapi bisa bahagia dan tenang.

Sampai saat ini, kebanyakan dari mereka tidak menginjakkan tanah di Negara Timor Leste. Alasan yang mereka beri adalah karena banyak dari mereka, khususnya laki-laki yang saat ini sudah bapak-bapak yang dituduh sebagai pelaku pelanggar hak asasi manusia oleh saudara mereka sendiri di Timor Leste. Tuduhan tersebut diarahkan kepada orang-orang yang lari ke wilayah Indonesia dengan sebutan Milisi.

Advertisement

Padahal, hal tersebut sama sekali tidak beralasan karena mereka keluar dari Timor-Timur dengan alasan mencari keselamatan. Ada istri dan juga ada anak yang waktu tahun 1999 masih kecil dan butuh sekolah, tentunya harus diselamatkan. Pilihan untuk menyelamatkan diri jatuh pada wilayah Atambua Nusa Tenggara Timur. Selain karena dekat, juga karena masih berada di Pulau Timor.

Dari raut dan tatapan mereka, saya hanya bisa mengambil satu pelajaran kehidupan, yaitu keikhlasan. Nggak gampang bisa menerima itu semua, kalau bukan karena kekuatan doa dan ketulusan mungkin sekarang mereka semua sudah menjadi orang gila. Harta, tanah, warisan, dan karier yang sudah baik harus ditinggalkan demi permainan politik yang hanya menguntungkan golongan pejabat dan golongan yang mengaku pahlawan.

Tidak ada yang tersisa ketika mereka lari meninggalkan tanah leluhur mereka. Tidak ada satupun yang dibawa, kecuali baju yang sedang dipakai. Namun nampaknya Tuhan tidak meninggalkan mereka, Tuhan selalu ada dalam hati yang ikhlas dan mau berdamai dengan nasib. Hanya rasa salut dan bangga yang bisa keluar dari mulut ini.

Sangat terasa jika kita berada di dekat mereka dan mulai mendengar mereka menceritakan kisah mengenai Timor-Timur sewaktu perang saudara di tahun 1999. Perasaan ini bergetar hebat melihat seorang bapak dengan wajah yang gagah berani, tetap tegar menerima nasib dari perubahan yang sudah terjadi. Kini mereka hanya bisa berdoa dan membesarkan anak-anak mereka menjadi orang hebat, dengan harapan suatu hari nanti akan mengembalikan kejayaan NKRI di Timor-Timur. Harapan yang suci karena kebenaran juga ada di tangan mereka dan yang lebih terpenting tanah Timor juga milik mereka.

Sekali merdeka tetap merdeka, Hidup Indonesia Raya!