Hingga hari ini, aku tak pernah menyukai ayahku. Dia tidak bisa berbaur walau hanya denganku dan keluarga. Sulit sekali membuatnya berbicaara dan tertawa bersama. Selalu saja Ayahku diam di sudut melihatku, Ibu dan Kakakku berbincang ria. Dia seakan terbuang, padahal Ayah yang mengasingkan diri. Aku pernah bertanya kepada Ayah mengapa ia lebih suka sendiri, namun Ayah tidak pernah menjawab. Aku kembali beringsut dalam kesal, padahal aku ingin hidup laiknya kebanyakan anak.

Sampai pada suatu waktu yang mencekik aorta mataku, dan linangan air mata menganak sungai, Ayah tetap banyak diam. Tubuh gempalnya waktu itu hanya diam merelakan aku pergi merantau. Kumis tebalnya menjadikan ia sosok yang semakin galak, dan aku semakin tak suka di akhir pertemuan. Ibu dan Kakakku bersedih melepaskanku yang ingin merantau ke pulau sebelah. Hanya Ayah yang tetap diam di rumah dan menegakkan kekokohan diri. Aku tidak tahu bagamana isi di hatinya, yang aku tahu wajah hitam dan mata tajamnya menunjukkan Ayah tidak merasakan kehilanganku.

Di dalam perjalanan deru pesawat membuat telingaku mengiang dan kepalaku pusing. Awan-awan di atas akhirnya bercengkrama denganku. Sesekali pesawatku bercumbu dengan awan, lalu kemudian meninggalkannya. Aku longok langit dari jendela pesawat yang kotak, hanya hamparan awan yang membentang luas bagaikan permadani biru. Tidak ada burung-burung mampu terbang hingga atas ini, atau pun gedung-gedung pencakar langit sudah tak menguasai pandanganku, hanya langit dan awan yang menemani kesedihanku.

Aku masih membenci Ayahku sebab ia selalu kaku denganku yang kadang ingin sekali saja dipeluknya.

Advertisement

Lima tahun sudah aku mendiami tanah rantau yang kacau. Kemacetan lalulintas membuatku membuang banyak waktu di jalan. Aku bekerja berangkat pukul empat pagi dan pulang pukul sebelas malam. Lelahku setiap hari menguasaiku. Selama lima tahun itu, hanya Ibu dan Kakakku yang sering menanyakan kabar, sedangkan Ayah tetap saja tidak pernah menelpon. Aku pernah bertanya kepada Ibu mengapa Ayah tak pernah menelpon, dan Ibu hanya menjawab Ayah tidak ingin menelponku saja.

Hari ini aku meliburkan diri dari bekerja. Aku ingin istirahat dan memulihkan kesehatanku. Aku duduk di depan rumah. Menikmati cahaya keemasan senja bersama teh panas yang baru saja kuseduh. Asapnya meliuk melewati mataku dan hilang bercampur udara. Sesekali daun terjatuh di depanku sebab angin senja menerpaberana rumahku ini. Aku suka sekali menikmati senja seperti ini, sebab hanya senja yang memiliki kenangan indah bersama Ayahku.

Pernah sekali dalam hidupku berbincang lama di senja bersama Ayahku, saat aku dan Ayah sedang menanam ketela di kampung dahulu. Ayah mengajariku menanam ketela, jangan sampai terbalik menanam batangnya. Jika salah menanam batang ketela, maka akan tumbuh terbalik. Dan aku sangat suka sore itu. Setelah lelah, aku disambut dengan the panas buatan ibuku. Sore yang basah itu selalu mengenang diam di ingatanku hingga kini. Hanya sekali itu saja, selanjutnya aku tak pernah lagi berbincang bersama Ayah.

Dan di sore ini, senja dengan mega jingga akan segera berakhir. Dan tiba-tiba saja teleponku bordering kencang, seperti lebih kencang dari biasanya. Barangkali hanya telingaku saja. Aku mengangkatnya, itu telepon dari Ibuku lagi. Ia mengabarkan Ayahku sakit. Ibu bercerita sakit ayahku berbeda dengan sakit pada umumnya. Ayahku terserang sakit saraf dan harus di rawat di rumah sakit laiknya orang gila selama dua bulan.

Hatiku ngilu dan bergetar mendengarkan kabar duka ini. Mega dengan siluetnya sudah tak indah lagi di mata, yang ada hanya kesedihan yang berbekas. Aku duduk lemas menerawang langit. Aku ingin pulang dan menjenguk ayahku, namun pasti pihak kantor tidak mengizinkan jika aku tiba-tiba pergi. Dan aku hanya menangis seorang diri bersama dadaku yang sesak, serta nadi-nadiku terikat sakit. Aku menikmati laraku.

“Aku tak bisa pulang, Bu.”, desahku lirih. Dan Ibu menjelaskan panjang bahwa aku tak perlu pulang, membantu doa saja. Tapi tetap rasa ingin pulangku sangat kuat. Aku jadi mengingat barangkali alasan Ayah menjadi pendiam sebab ia memiliki banyak masalah yang menumpuk hingga sarafnya terkena sakit seperti ini. Jika ia, masalah apakah gerangan yang begitu jahat mendiam kepala Ayah?

Selama hampir satu tahun setelah Ayahku sakit aku menahan rindu yang sering ngilu di palung hatiku. Ia menyodok-nyodok jiwa hingga aku terluka. Dalam kesendirian hidup, aku rindu sosok seorang Ayah yang kuat. Ayah yang sewaktu kecil seingatku pernah menguatkan diriku yang terjatuh dari naik sepeda ataupun yang pernah menguatkanku dari tangis, harus dipenjara dalam jeruji rumah sakit. Tak bisa aku membayangkannya.

Malam-malamku gelap dan pekat, lebih tepatnya suram jiwaku menguasai hidupku. Dan aku putuskan malam ini memesan tiket dan aku terbang ke kampung halaman yang sudah aku tinggalkan selama enam tahun. Aku segera merujuk rumah sakit yang pernah Ibu katakana. Aku tidak peduli lagi jika pekerjaanku tak dapat lagi aku genggam, atau Ibuku yang marah sebab aku tak berkabar pulang hari ini.

Sesampainya di rumah sakit, malam sudah begitu dingin, berkabut sebab hujan beberapa jam mengguyur kota ini. dan aku terpaksa tidur di luar rumah sakit sebab jam kunjung sudah tidak ada. Lelahku menguasaiku dan aku tertidur bersama gigil dingin hingga subuh membangunkanku. Segera aku telepon Ibu dan Ibu menjemputku di salah satu ruko tempat aku tidur semalaman.

Aku berpeluk erat bersama Ibu yang sudah kehilangan berat badannya sebab malam-malamnya sulit tidur untuk menjaga Ayahku. Ayah sebenarnya sudah ke luar rumah sakit delapan bulan lalu dan kembali hidup normal, namun beberapa hari lalu sakit Ayahku kambuh lagi saat Ayah mendengarku sakit demam selama dua hari. Ayahku memang tidak boleh diajak berpikir sedikit saja, ia harus benar-benar tenang dan damai.

Aku diajak ibu melihat Ayah dari kejauhan, sebab jeruji besi memisahkan Ayah dan kami. Ayah memberontak dan berteriak saat melihatku. Aku tidak mengerti maksudnya. Apakah itu teriakan kebahagiaan atau kesedihan. Wajah Ayah kembali datar setelah suster masuk dan menyuntikkan obat penenang. Ayah tidak lama kembali tidur.

Aku terduduk lemas. Kebencian yang selama ini ada sudah lama berubah cinta. Kediaman Ayah yang semala ini aku pertanyakan terjawab sudah. Benar kataku, Ayah memiliki banyak masalah yang dipendam sendiri dan akhirnya membuat sarafnya terganggu.

Hari ini, tubuh Ayahku yang gemuk juga berubah jadi kurus dan kering. Matanya keriput selaksa buah jeruk yang mulai mengisut. Aku mulai hari ini akan berjanji untuk tidak lagi bekerja merantau. Biarkan aku mengurusi Ayahku bersama Ibuku, sebab Kakakku sudah meninggal dua tahun lalu akibat sebuah sakit yang juga tidak terdeteksi.

Biarlah aku meruntuhkan mimpiku di tanah rantau. Aku hanya ingin di kampung halaman bersama orang tercinta. Aku bosan dan lelah hidup sendiri dalam dunia yang keras. Ada kalanya mimpi tidak harus terwujud, namun bukan berarti gagal, hanya merelakan demi kebaikan lain.