Dengan merantau, aku menjadi tahu bagaimana rindunya pada rumah dan masakan Ibu. Aku juga tahu rasanya menjadi anak kos yang pagi-pagi malas ingin membeli sarapan, siang malas membeli makan siang dan malam juga malas keluar kamar hingga akhirnya berujung dengan makan Indomi. Ya, lagi-lagi Indomi karena malas keluar kamar dan uangku yang selalu habis untuk fotokopi bahan kuliah yang begitu banyak.

Aku mulai merantau tepat di saat umurku 23 tahun karena melanjutkan studi di Ibukota. Aku memang sering ke Ibukota, tetapi untuk tinggal sendiri adalah hal baru bagiku. Beginilah kehidupanku, aku sangat tidak nyaman dengan suasana kosanku yang individualis, aku tidak nyaman dengan suasana kelasku yang rentang umurnya sangat jauh denganku. Bgaimana tidak? Umur mereka rata-rata sudah 30-an ke atas dan hanya beberapa saja yang sebaya denganku.

Kelemahan terbesarku adalah susah beradaptasi dengan sesuatu yang baru. Jadi, aku mengalami masa-masa sulit di perantauan. Suasana baru, kelas baru, teman baru, makanan baru, tempat tidur baru, bahkan guling dan bantal yang baru. Setiap hari aku hampir menangis karena aku rindu rumah dan rindu kedua orangtuaku. Rasanya aku ingin menyerah saja di sini.

Ibukota sungguh terlalu kejam untukku. Hingga suatu hari aku sudah sangat kacau dan tidak bisa lagi menahan semuanya. Ku menelepon Ibu dengan meraung-raung dan mengatakan aku sudah tidak sanggup tinggal disini. Terlalu banyak tekanan yang ada di dalam diriku. Belum lagi kuliah yang semakin berat, tugas, presentasi dan tekanan dari dosen yang membuatku semakin stress.

HIngga akhirnya, Ibuku datang dua hari setelah tragedi “raungan” tengah malamku. "Raungan" yang membuat orangtuaku panik dan seluruh tante-tanteku meneleponku untuk memberikan dukungan. Aku sangat kacau saat itu hingga aku hanya bisa menangis sepanjang hari dan bolos kuliah. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa dan aku terus memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari lingkaran ini.

Advertisement

Ya, bukan mudah untukku merantau walaupun umurku sudah 23 tahun. Rasa takut kehilangan orangtua saat di perantauan, rasa takut untuk menghadapi dunia baru dan rasa takut untuk menghadapi kejamnya Ibukota berkumpul menjadi satu. Ternyata, aku belum cukup mandiri untuk bisa hidup sendiri.

Aku hanya bisa pulang ke kota kelahiranku seminggu sekali. Menengok orangtuaku, adik, kakak dari Ibuku, dan begitu juga teman-teman masa kecilku. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sahabat kecilku. Tak jarang aku ke rumah tante-tanteku (yang meskipun super sibuk, tapi sangat peduli padaku). Setidaknya, berada di kota kelahiranku bisa menjadi pelipur laraku saat aku rindu suasana rumah.

Ah, sepertinya 5 bulan menjadi anak kos memberiku banyak pengalaman yang tak bisa ku lupakan. Pernah, merantau membuatku merasakan kelaparan yang sangat mendalam. 3 hari tidak makan karena kehabisan uang dan tidak berani meminta lagi pada orangtuaku. Indomi sehari sekali selama tiga hari berturut-turut. Perih rasanya, tetapi aku harus berjuang di perantauan ini. Aku juga pernah merasakan sisa saldo di ATM tinggal Rp 28.000 dan sudah tidak bisa diambil lagi. Tak jarang teman sekelasku (yang tahu kisahku) membelikan makan siang karena perutku sudah bernyanyi dan nyanyian perutku terdengar olehnya.

Merantau juga mengajarkanku arti keluarga. Aku merasa bahwa keluarga sangatlah berarti. Apalagi saat aku hampir putus asa dan stress berat saat di perantauan. Keluarga dari Ibukulah yang memberikan aku dukungan secara penuh dan meyakinkan aku untuk bisa melewati beratnya kuliah ini. Mereka juga mengatakan bahwa jika nanti nilaiku hancur itu adalah hal yang wajar, karena semua yang baru aku alami secara serentak. Di saat aku bertemu dengan keluarga Ibuku, mereka selalu bertanya bagaimana kuliahku, apakah aku sudah bisa melewati masa-masa sulit itu? Apakah aku sudah bisa settle dengan semuanya? Dengan mereka, aku bisa pelan-pelan melewati masa sulitku. Aku merasa sangat bersyukur aku memiliki keluarga yang sangat mendukung dan tahu keadaan psikisku.

Lain halnya dengan keluarga dari Ayahku. Mereka berbanding terbalik 180 derajat dengan keluarga Ibuku. Aaat kepulanganku ke kota asalku, aku tidak menerima pertanyaan “Bagaimana kuliahnya? Bagaimana suasana disana?” Tidak. Aku sama sekali tidak menerima pertanyaan seperti itu. Aku hanya menerima hinaan dan ejekan yang membuatku jatuh dan kesal. Mereka hanya berkata “Bagaimana ceritanya kok kami dengar katanya pengen nyerah, ya?” . Tidak ada pernah terlintas kata-kata dari orangtuaku kepada mereka bahwa aku ingin menyerah, mereka hanya ingin aku gagal di jenjang ini. Mereka bukanlah support system yang baik dan sama sekali tidak senang melihat aku berada di jenjang ini.

Aku tidak bermaksud menjelekkan mereka dan membuat diriku menjadi berdosa karena aku telah ghibah. Tetapi, aku ingin meluapkan perasaan tidak senangku yang selama ini terpendam. Mengapa kalian tidak mencoba untuk senang ketika aku berada di jenjang ini? Atau setidaknya, tolong dukung aku yang sedang terjatuh sangat dalam. Dukung aku untuk menjadi lebih baik dan semangat untuk meneruskan perjuanganku ini. Bukanlah mudah berada disini saat ini. Jika kalian tidak bisa mendukungku, setidaknya janganlah kalian membuat rumor-rumor aneh seperti itu.

Dari pengalaman ini aku belajar bagaimana keluarga sangat penting dalam hal dukungan. Aku sangat bersyukur besar di lingkungan keluarga Ibuku yang sangat mendukungku dan bisa membantuku bangkit kembali dari jurang yang sangat dalam dan bersiap untuk meneruskan perjuangan hidup yang masih panjang ini.

Terimakasih Ibukota. Aku siap lanjutkan perantauan terberatku.