Kita sempat saling mengenal sebelumnya, meskipun tidak pernah ada komunikasi diantara kita. Hanya sama-sama tahu menahu tentang nama. Namun begitu indahnya takdir ketika semua yang nampaknya tak akan jadi nyata ternyata sekarang menjadi sebuah kenyataan yang kurindukan.

Kamu hadir dengan sebait pertanyaanmu tentang suatu hal. Itupun hanya di dunia maya. Kemudian, kita mengawali percakapan dengan bercerita tentang sebuah kegagalan. Aku tau, kita semestinya sama-sama bisa meraih mimpi itu, hanya saja saat ini mimpi itu belum berhak menjadi penggalan kisah hidup kita. Kamu menguatkanku, akupun juga menguatkanmu.

Kita menjadi sepasang makhluk yang saling menguatkan dalam keadaan penuh kehancuran.

Kisah kita begitu tabu. Aku tak yakin dengan rasaku. Namun bagaimanalah. Hari itu, entah mengapa senyumku demikian lekat. Seolah merasakan bahagia yang membuncah. Aku memintamu untuk menemaniku ketika aku singgah di kotamu. Lalu, kamu mengajakku menikmati suasana malam di kotamu, aku hanya mengiyakan. Pada detik itupun aku menyadari aku mulai jatuh hati. Kulihat langit malam itu demikian mendung, dan rintik hujan mulai membasahi mimpi-mimpi kita. Kita berhenti di tepi jalan, bercerita secara nyata. Aku bahagia. Melihatmu secara nyata, mendengar suaramu yang memesona, menatap matamu yang kau tujukan kepadaku.

Aku hilang kendali hingga aku merasakan aku takut kehilangan semua ini.

Advertisement

Kamu mulai melukis kisah indah di hidupku ketika hatiku sedang remuk redam, orang yang kusayang jatuh di pangkuan sosok yang kupercaya. Entahlah akupun tak memiliki hak untuk menghentikan. Aku hanya mendoakannya bahagia dengan pilihannya, meskipun pilihannya bukan diriku. Dan kamu? Kamu hanya tertawa ketika aku menceritakan perasaanku tentang masa laluku. Kamu kembali mengalihkan pembicaraan kita. Kamu hanya tidak ingin membuatku terluka mengingatnya.

Aku tau, diriku tidak semestinya mengharapkanmu untuk selalu singgah.

Namun apalah dayaku yang selalu menatap lekat layar handphone dan berharap ada kabar darimu. Akupun tak yakin dengan rasaku, karena perlakuanmu padaku yang memang bukan seperti orang kasmaran. Nampaknya kamu hanya melekatkan status persahabatan. Entahlah, aku hanya mampu berpasrah mengharapkan Sang Pengatur Skenario Hidup memberikan kenyataan yang terindah.