Aku cerewet.

Aku mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman baru.

Tapi, ada beberapa hal yang sejujurnya bertolak belakang dengan dua hal yang baru kusebutkan tadi. Aku sulit sekali mendapatkan sahabat dan aku sulit untuk berbagi cerita tentang masalahku pada orang lain.

Kenapa?

Sebentar, aku ingin berkutat dengan pikiranku.

Advertisement

Aha … aku memperoleh jawabannya.

Mungkin karena aku anak pertama. Yang sudah biasa dianggap dewasa, sehingga sebisa mungkin untuk melakukan seleksi sendiri tehadap masalah yang dihadapi dan harus dibagikan pada siapa. Mungkin karena terbiasa menyeleksi teman untuk berbagi, maka aku hanya punya sedikit sahabat. Sampai saat ini, malah bisa dihitung jari.

Bagiku, persahabatan itu bukan tentang kapan dan kemana kita jalan bersama atau apa yang kita bicarakan. Persahabatan itu lebih kepada mengisi dan melengkapi.

Sadar atau tidak, persahabatan itu seperti puzzle. Kita harus mencari bagian yang hilang dan mencoba untuk menyatukannya. Jika bagian itu tidak cocok, kita akan mencari lagi. Bukan begitu??

Puzzle yang sudah tersusun sempurna itu akan menghasilkan suatu makna dan warna. Ya, makna dan warna itu adalah memori yang akan tersimpan indah dalam kehidupan persahabatan kita. Yang akan kita bawa dalam perjalanan hidup.

Cerita tentang perjalanan hidup dan persahabatan memang tak akan habis. Sampai akan tiba di suatu titik dimana aku harus menerima ketika jalur arus yang beriak tidak lagi satu. Ia membentangkan jarak dan memisahkanku kian jauh, dengan sahabatku. Kubiarkan saja, mengikuti aliran yang entah kemana akan bermuara. Bohong kalau aku bilang aku tidak kesal. Aku hanya mencoba bertahan untuk kuat.

Jarak kadang membuat aku menghentikan asa. Bernafas sejenak dan menatap jauh ke depan. Aku pernah berharap, di depan sana aku bertemu satu jalan khusus yang menghubungkanku dengan aliran-aliran lain dan mempertemukan aku kembali, dengan sahabatku.

Tapi harapan tiada pernah menentukan hari kapan akan terjadi. Semakin banyak langkah kaki yang kuayunkan, semakin jauh asaku hendak kugapai. Banyak hal di depan mata yang memaksaku mengatur prioritas. Dan, persahabatan kadang bukan lagi masuk dalam lima besar prioritas. Pendidikanku, karirku, orang tuaku, pengaturan keuanganku, kesehatanku membuatku kadang lupa, ada sahabat yang menjadi bagian penting dalam hidupku.

Aku mengambil jeda.

Isi kepalaku kian penuh akan tuntutan hidup yang kadang tidak masuk akal.

Aku benci menjadi dewasa. Mencoba mengurangi cerewetku, melatih cara tertawa yang sopan, membuat orang baru di sekitarku nyaman akan keberadaanku, menyelesaikan masalah tanpa air mata. Tapi aku harus.

Mana sahabatku? Oh … aku yang melupakan mereka.

Sekarang aku melangkah sendiri. Dalam sore yang akan hilang berganti malam. Diantara pasir dan debur ombak. Aku memilih tempat ini untuk mengambil jeda. Pantai.

Kuhirup udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-paruku. Kutahan bersama mataku yang tertutup. Aku butuh mereka. Aku butuh sahabatku. Bersama mereka aku yakin aku tidak akan takut dan benci menjadi dewasa.

Sinar berwarna kuning masuk melewati kelopak mataku. Ah … sunset.

Aku membuka mata, perlahan sambil menikmatinya. Menikmati matahari terbenam di suatu sisi pantai. Mungkin tempat aku berpijak sekarang bukan bagian terbaik dari pantai ini. Tapi tetap saja sinar kuning yang perlahan kian meredup itu membuat aku mampu tersenyum. Dan menyadarkanku akan sesuatu, suatu hal terbaik yang sejenak terlupakan olehku.

Persahabatan. Bawa aku pulang.