Wahai Kehangatan, begitu indah caramu mendidikku. Begitu santun tuturmu menuntunku. Begitu luas kasihmu atas diriku. Begitu lapang hatimu atas khilafku.

Wahai Kehangatan, tak kan pernah bisa ku balas pengorbananmu, tak kan pernah bisa kukembalikan tetesan air matamu, kasihku tak sebanding dengan kasihmu, usahaku tak sebanding dengan keringatmu. Bahkan waktumu, fikiranmu, tenagamu, kau prioritaskan untukku tanpa kau peduli akan cita-cita masa kecilmu.

Ku tak tahu, kata-kata apa lagi yang harus ku rangkai agar bisa mengilustrasikan pengorbananmu terhadapku.

Namun, ketahuilah wahai Kehangatan.

Detik waktu, kulewatkan menata jalan untuk kebahagiaanmu, mewujudkan cita-cita masa kecilmu, dan bekalmu dihadapan Pemilik Kehangatan. Kerap kali jalanku terlihat asing bagimu, terlihat berbeda dibanding yang lain dan tampak tak bagitu membahagiakanmu. Justru jalanku mengikismu, walaupun aku tak tau apa saja yg telah terkikis.

Advertisement

Akan tetapi, ketahuilah wahai Kehangatan. Walaupun jalanku sukar untuk kau mengerti, namun percayalah. Percaya bahwa jalan ini yang terbaik dan yang akan menuntun kita pada kebahagiaan masa depan dan ingatlah, diantara Kesejukan dan Kehangatan, ada Dia.

Dia yang menciptakan, Dia yang menentukan dan Dia yang akan menjamin. Maka serahkanlah wahai Kehangatan. Jalanku ini ialah jalanmu. Percayakan aku untuk mamandu perjalanan ini. Kau tetap lah di sana, menjadi pengingatku di kala jalan kita terlihat tak lagi sesuai dan nanti ketika kita telah sampai pada tujuan, ingatkan aku. Bahwa aku yang nanti ialah aku yang sekarang, dan aku yang sekarang adalah aku yang selalu ingin melihatmu tersenyum bahagia.

Terimakasih, wahai Kehangatan.