Kapan terakhir kita bertemu? Entahlah, aku tak mau lagi mengingat-ingat bahkan menghitung mundur kapan waktu terakhir kita bertemu.

Harusnya tak perlu lagi sekarang aku menulis sesuatu tentangmu dan aku harap kau pun tak akan pernah membaca tulisan ini. Karena aku takut kamu akan membenciku yang telah melanggar kesepakatan, kembali membuka lembaran lama kisah kita.

Bukankah dulu kita memutuskan untuk berpisah di persimpangan bukan karena kebencian? Kita hanya ingin berusaha untuk menjadi pecinta sejati yang menempatkan cinta dengan sebagaimana mestinya. Saat ini kita tidak bisa memaksakan untuk tetap bersama karena cinta bukanlah satu-satunya hal yang harus kita utamakan. Masih banyak tanggung jawab lain dan impian yang harus kita tuntaskan.

Aku memang tak ingat kapan kita terakhir bertemu. Namun aku ingat benar kapan pertama kita saling menyapa dan berbicara. Entah mengapa kita dapat begitu cepat akrab. Dan aku merasa bisa menjadi diriku sendiri saat berada di dekatmu.

Tanpa sungkan aku bercerita tentang banyak hal kepadamu, bahkan tentang hal gila sekalipun dan ku dapati tawamu pecah kala mendengar banyolanku. Begitu pula sebaliknya, aku tak pernah melihatmu sedang berusaha tampil sempurna di depanku. Tidak ada drama di antara kita.

Advertisement

Aku tak mau munafik, kini setelah sekian lama aku kembali merindukanmu.

Satu per satu kenangan bersamamu mulai hadir lagi dalam benakku. Kau menyapa dalam mimpiku, dengan seuntai senyuman menentramkan yang masih sama seperti dulu. Aku mungkin bisa menahan rasa rinduku yang bergemuruh, namun bagaimana bisa ku sembunyikan cinta yang masih mengakar di hatiku.

Aku merindukan saat mengamati wajahmu dengan diam-diam dan tiba-tiba terperanjak saat ku dapati kau menyadarinya. Duh, betapa malunya aku.

Aku merindukan saat kau berhasil membuatku marah dengan candaanmu. Aku merindukan saat kau menjadi orang yang bisa ku andalkan. Aku merindukan saat bisa menjadi tempat keluh dan kesahmu. Dan akupun merindukan saat napasku sesak ketika indera pengelihatanku tak mendapatimu ada di sekitarku.

Kini aku tak bisa sefrontal dulu yang bisa dengan mudah mengatakan "kapan kita bisa bertemu?".

Bahkan sekarang untuk mengakui kerinduan pun aku nyali ciut. Lewat tulisan-tulisan yang mungkin tak kan pernah kau baca, ku tuangkan rindu.

Tahukah kamu bahwa aku selalu menanyakan hal yang sama, "Bagaimana keadaanmu sekarang?". Yang sudah jelas jawabannya yaitu bahwa kau selalu baik-baik saja, namun tetap saja aku bertanya. Bukan karena aku terlalu cerewet tapi aku hanya kembali mengkhawatirkan keadaanmu.

Aku hanya ingin memastikan jika kamu benar-benar baik-baik saja. Aku juga ingin tahu apakah kamu masih menjaga sepetak hati untuk wanitamu kelak dan aku masih berharap jika orang itu adalah diriku.

Waktu telah lama bergulir, aku merasa jika telah jauh melangkah. Namun aku salah, ternyata duniaku hanya berputar-putar saja. Mencoba sekuat tenaga untuk melupakanmu justru takdir mempertemukan kita kembali.

Aku kembali mendapati tawamu yang khas, kini aku bisa ada di dekatmu kembali. Namun itu hanya ragaku, lalu bagaimana dengan hatiku? Bahkan aku masih takut hanya untuk mengakui bahwa aku bahagia bisa bertemu denganmu.

Aku hanya bersyukur Tuhan menjawab doaku, bahwa dirimu memang baik-baik saja dan kini satu persatu mimpimu telah terwujud.

Kini kamu memang terkesan menjaga jarak denganku. Aku yakin ruang di hatimu itu masih tetap kau jaga. Namun entah apakah masih untukku atau tidak. Aku tak mau terlalu percaya diri. Namun aku juga tak bisa mengingkari kalau aku bisa melihat kerinduan yang sama dari sorot matamu.

Saat pandangan kita tak sengaja saling bertemu. Saat kau bertanya kepadaku "Siapa orang yang kini mengisi hatiku?" Aku curiga jika itu hanya sebuah pancingan untuk memastikan apakah aku juga masih menjaga hatiku.

Aku menyadari jika tak mungkin untuk selalu menerka-nerka dalamnya isi hatimu dan selalu bertanya-tanya apakah kau juga masih memiliki perasaan yang sama kepadaku. Memantaskan diri entah untukmu atau untuk orang baru yang telah Tuhan siapkan adalah hal termungkin yang kini bisa ku lakukan.

Aku percaya bahwa cinta akan datang di waktu dan pada orang yang tepat.