Cinta sejati bukan hanya milik Habibi – Ainun, Dilan – Miela, Romeo –  Juliet, Galih – Ratna atau David –  Victoria Beckham. Ia juga milih Mbah Mis dan Mbah Wi. Mbah Wi yang tak pernah bosan menatap teduh Mbah Mis atau Mbah Mis yang tak pernah lelah menyajikan secangkir teh di pagi hari untuk Mbah Wi.

Menemukan seseorang yang keras kepala mencintaimu itu bukan perkara mudah. Orang yang tidak peduli saat kau jatuh tersungkur atau rusak, dia akan setia mendampingimu dan membantumu untuk berdiri lagi, memperbaiki diri bersama. Dia yang setia bukan hanya saat kau berada di puncak, tapi selalu setia mencari hilangmu. Dia yang tidak hanya ingin warasmu, tapi juga kegilaanmu dan bahkan bertahan setelah menemukan kurangmu.

Sebab kau layak bahagia jika telah menemukan sosok seperti itu. Karena ada banyak yang bisa membual rindu tapi tak bergegas menemuimu, banyak yang bilang cinta tapi tak sudi menerima kurangmu, banyak yang bersuara setia tapi tak bisa bertahan dengan ketidaksempurnaanmu. Sejatinya hidup adalah kumpulan kisah sedih atas kehilangan sesuatu atau manusia yang mampu mensyukuri kerasnya kehidupan lantas tersenyum dan berbahagia menjalaninya bersama orang-orang yang dicintainya.

Sepenggal larik yang pernah kutulis saat membayangkan kisah romansa yang penuh liku dan berujung bahagia, kisah cinta Mbah Mis dan Mbah Wi.

Kisah romansa mereka dimulai sejak tahun kemerdekaan, kala itu si mbah tak hanya berjuang untuk kemerdekaan NKRI, tapi juga kemerdekaan hatinya untuk memiliki Mbah Mis. Singkat cerita keduanya akhirnya menikah dan dikaruniai 5 anak yang kini sudah berkeluarga, bapakku salah satunya.

Advertisement

Mbah Wi adalah guru ngaji bagi anak-anak Arjosari, aku salah satunya. Beliau tak pernah pilih kasih saat mengajar, bahkan aku yang nota bene berstatus sebagai cucunya, tak pernah luput dari serangan melayang penghapus papan jika mulai gaduh saat ngaji dimulai  Tapi si mbah juga tak pernah lupa mengelus kepalaku setelahnya.

Aku mengenal sosok Mbah Wi dengan kumis dan jenggot lebatnya yang menyeramkan tapi bersahabat. Aku bahkan masih mengingat dengan jelas obrolan senja kala itu, “Ngerti nduk? Jenggot iki sing nggarai mbahmu iso kesengsem karo aku”, beliau membanggakan keberadaan jenggotnya yang mampu meluluhkan hati si mbah putri, ah sungguh manisnya mbahku.

Mbah Wi sosok yang tegas perkara agama, bahkan dalam ingatanku beliau pernah menggunduli anaknya yang dengan sengaja melalaikan sholat. Karena itu bagiku sosoknya benar-benar layak untuk dijadikan teladan yang baik bagi laki-laki dan doaku selalu agar kelak dipertemukan dengan seorang yang menyayangiku dengan utuh namun tak lupa membimbingku mengharap ridho Illahi, persis seperti yang Mbah Wi lakukan untuk Mbah Mis.

Lain Mbah Wi, lain Mbah Mis. Aku mengaguminya sebagai sosok berjiwa sosial tinggi bukan karena kami memliki relasi. Di umurnya yang sudah cukup senja, tak semestinya beliau menyusahkan diri untuk menjadi seorang guru TK. Mana yang lebih mudah? Mengajar mahasiswa atau anak TK? Tapi mana yang gajinya lebih tinggi?

Aku mengagumi sosok tangguhnya. Jika seringkali aku mendengar keluhan tetangga tentang sulitnya mengasuh satu anak, lantas bagaimana dengan seorang guru TK yang mengemban amanah mendidik puluhan anak “sekadar” perihal menulis dan membaca?

Bagiku, guru TK adalah sosok inspiratif masa kini yang terkadang luput dari perhatian masyarakat. Si mbah kini memang tak lagi muda, tapi semangatnya pantang untuk menyerah. Mencukupi kebutuhan gaji guru yang lain dengan pendapatan pribadinya juga sudah menjadi kebiasaan. Bukan maksud untuk pamrih, tapi sudah menjadi rahasia umum jika bekerja menjadi seorang guru TK itu syarat utamanya adalah berjiwa sosial tinggi bukan uang sebagai tujuannya.

Kehidupan keduanya dihabiskan untuk berbagi ilmu kepada anak-anak. Sungguh romantisme yang tak terkalahkan. Pasangan yang saling melengkapi, tak pernah berjanji setia tapi tak pernah meninggalkan. Aku tak pernah merindukan si mbah, untuk apa merindukannya jika setiap hari aku masih bisa bertemu, yang harus kulakukan bukan hanya sekedar merindu, tapi rutin berkunjung ke rumahnya sekedar berbagi kisah di sekolah atau gejolak asmara, karena si mbahku selalu senang diajak bercengkrama.

Untukmu si mbah, aku tau aku tak kan pernah mampu membalas kasih sayang dan pengorbananmu untukku, maka hanya ijinkan aku menyayangimu secara utuh di usia senjamu.