Selama aku kenal dia, aku sangat terkagum padanya. Aku suka senyumnya, aku suka lirikan matanya, aku suka saat dia tertawa, aku suka semua apa yang dia lakukan. Waktu mengijinkan kita untuk bisa lebih jauh mengenal satu sama lain. Saat aku di samping dia, aku merasa dunia seperti milik kita berdua. Waktu tak menjadi batasan untuk selalu bersama.

Dalam petualangan waktu bersama dia, tiba-tiba kita terkena hembusan angin yang seakan ingin menerbangkan dan memisahkan salah satu dari kita. Aku berusaha bertahan dari hembusan angin itu. Aku terus berlari mencari dia. Tapi, aku tak berdaya, aku kehilangan arah jejaknya. Aku udah berusaha mencari dia sekuat tenaga, tapi aku tetap tidak menemukannya. Bukannya aku ikhlas, tapi apa boleh buat? Aku pergi meninggalkan dia dengan sejuta rindu dan tanda tanya.

Hari-hariku diisi dengan kerinduan akan sosok hadirnya. Aku gak bisa lihat lagi senyum manisnya, letik mantanya, dan canda riangnya. Gak ada lagi sosok yang bersandar di bahuku. Aku hanya bisa melihat dia dari lembaran foto-foto kenangan saat kita bersama. Aku disini masih berharap dia pulang ke pangkuanku.

Lama udah menghilang. Tiba-tiba aku secara tidak sengaja menemukan sosok yang dulu aku cintai. Dia lagi duduk manis di sebuah taman. Aku menghampirinya, dan tepat sekali, dia sosok yang aku cari. Senyum manisnya, mata cantiknya tetap sama seperti dulu. Iya dialah yang aku cari. Aku langsung menyapanya dengan penuh kegembiraan. Aku kira dia akan bahagia jika bertemu denganku. Ternyata dugaanku salah. Aku seakan menjadi orang asing di matanya. Dia seperti gak mengenal siapa orang yang lagi di dekatnya. Dia tampak memberi gelagak yang canggung ke padaku. Aku terus bertanya dan menjawab semua pertanyaan aku dengan kaku. Ada apa dengan dia? Aku berharap dia enggak melupakannku.

Tiba-tiba dari arah belakang datang sesosok pria tinggi menghampiri kita berdua. Dia membawa dua es krim di genggaman tanggannya. “Eh sayang, maaf ya udah nunggu lama,” kalimat itu terlontar dari mulut si pria itu. Pria itu terheran-heran dengan kehadiranku. “Maaf, kamu siapa ya?”

Advertisement

“Kenalin, aku Evan pacarnya Dinda,” aku jawab dengan jujur.

Pria itu merasa kebingungan atas kehadiranku. Aku pun sama seperti pria itu. Aku gak kenal siapa dan kenapa pria itu datang secara tiba-tiba.

“Kamu sendiri siapa ya?”Aku bertanya kembali.

Tiba-tiba dia memotong arah pertanyaanku, “Dia pacarnya aku.” Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan langsung pergi dengan menggenggam tangan si pria itu.

Aku langsung tersentak. Aku gak bisa berbuat apa-apa selain diam melihat dia pergi dengan kekasih barunya. Aku bertanya pada diriku sendiri, apa salahku sehingga kamu tega berbuat seperti itu? Aku ingin mengejarnya, tapi itu gak mungkin terjadi. Aku biarkan dia pergi bersama kekasih barunya. Aku sempat berpikir sejenak. Ku yakin dia bukanlah dia yang sebenarnya. Dia gak mungkin berbuat setega itu. Tapi, semua itu terjadi secara kenyataan di depan mataku sendiri.

Kenangan yang kita rajut bersama ternyata kandas dan gak bisa kembali dirajut ulang. Aku bukanlah dia yang bisa dengan gampangnya melupakan seseorang. Aku masih ingat saat kita menghabiskan waktu bersama-sama. Dia dulu pernah bilang, “Aku cinta kamu. Aku mau kita selamanya bersama-sama.” Ternyata ucapan itu hanyalah sebatas ucapan lidah yang tak bisa dibuktikan. Dia telah pergi menjauh dari kehidupanku.

Teruntuk dia :

Terimakasih aku udah bisa mengenalmu dan kita bisa menyatukan waktu untuk bersama-sama, walaupun itu hanyalah sementara. Maafkan jika selama kita bersama aku berbuat salah dan membuat kamu kecewa. Tapi, ketahuilah aku selalu berusaha ingin memberi yang terbaik untukmu. Aku masih terheran-heran apa salahku? Aku berpikir ada sesuatu yang salah padaku sehingga kamu tega berbuat seperti itu. Aku disini luka, dan ku harap kamu disana bahagia bersamanya. Aku enggak mungkin dendam sama kamu. Dari semua itu justru aku tau arti sesungguhnya apa dan siapa yang terbaik? Yang terbaik gak mungkin melukai yang baik. Aku akui, kamu memang yang terindah, tapi bukanlah yang terbaik.