Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyayanginya, hanya saja aku merasa hatinya ditakdirkan untukku. Sayangnya, itu semua salah.

Dia adalah sosok yang aku banggakan dan aku impikan sejak dua tahun yang lalu. Sosok yang mampu membuat hatiku bergetar saat berhadapan dengannya. Aku tau dia tak seindah senja di laut Timur sana, dia juga tak setampan ayahku, dia hanya seorang lelaki sederhana yang mampu membuat tembok hati ini perlahan-lahan hancur.

Aku masih ingat betul saat pertama kali kami bertemu di simpang jalanan tua itu. Dia mengenakan kaos berwarna biru, celana jeans hitam dengan sendal gunung kesayangannya. Tidak ada yang special saat pertemuan itu, aku hanya melihatnya sebagai sosok laki-laki biasa dengan sendal gunung kesayangannya. Begitu juga dengan dia, mungkin dia hanya menganggapku sebagai perempuan yang sederhana atau perempuan yang tidak bisa berdandan layaknya perempuan lainnya.

Satu tahun berlalu, aku tak menyangka bahwa dia meghubungiku. Entah dari mana ia mendapatkan nomorku. Memang dunia ini sudah menjadi canggih. Aku yakin, Tuhan mempunyai alasan mengapa dia bisa menghubungiku. Aku percaya bahwa ada sesuatau yang ingin Tuhan sampaikan lewat dia yang kukagumi sejak dua tahun lalu.

Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan hamba-Nya.

Advertisement

Satu tahun lagi telah berlalu, tak ada alasanku untuk merasa kesepian. Bagaimana mungkin aku merasa kesepian, jika setiap hari dia selalu menemaniku. Sejak aku bangun, sampai aku terbangun lagi. Dia sungguh menjadi penyemangat dan teman di hari-hariku dulu. Aku merasa nyaman dan tenang saat berada di dekatnya. Sampai akhirnya, dia menyatakan perasaannya padaku malam itu. Entah aku harus menjawab apa. Ini mungkin terlalu cepat untukku.

Sampai suatu hari, kami sepakat untuk bertemu di sebuah cafe. Aku menemuinya dan sengaja duduk dihadapannya. Takut, malu, grogi tercampur menjadi satu sore itu. Dia mulai membuka obrolan dengan santai dan ringan. Mulai ada tawa dan canda di antara kami. Aku mulai merasa nyaman dan bahagia ketika berbicara dengannya. Dengan ditemani hujan sore itu, dia memberanikan diri memegang dan menggenggam tanganku. Kemudian menarikku untuk mendekat padanya dan kemudia dia memelukku. Aku tak sadar bahwa aku sama sekali tak melawan saat dia memelukku. Jujur, aku merasa tenang dan nyaman saat dia memelukku. Tanpa disadari, ak membalas pelukannya lebih erat. Dalam hati aku berkata, sejak perkenalan aku sudah menjatuhkan hatiku padanya.

Di tengah rintikan hujan itu dia berkata bahwa dia mencintai dan menyayangiku sejak pertama kali bertemu dan mengenalku. Dan aku masih ingat kalimat yang selalu dia ucapkan “Love you from the deep”. Aku selalu mengingat dan mengenang kalimat itu sampai sekarang. Aku bahagia karena perasaanku terbalaskan. Aku bersyukur bisa mengenalnya lebih dalam. Aku tahu dia tidak mau ada ikatan khusus denganku jika pada akhirnya hanya membuat sakit hati dan menjauh. Dan akhirnya kami berdua memutuskan untuk saling menjaga perasaan masing-masing.

Enam bulan sejak kenangan terindah itu, tak ada lagi kabar, tak ada lagi pesan, tak ada lagi telpon tengah malam, dan tak ada lagi pertemuan antara kami. Dia benar-benar menghilang begitu saja. Entah apa yang membuatnya bersikap demikian, hanya saja aku merasa ada yang dia sembunyikan. Akhirnya ku memberanikn diri untuk bertemu dengannya. Aku menemuinya di tempat yang biasa dia datangi jika ingin sendiri. Dan ternyata benar, dia ada di sana. Aku duduk di sampingnya dan menatap matanya dalam-dalam. Kemudian aku memeluknya erat. Dia menangis dalam pelukanku. Kemudian dia melepas pelukanku dan berkata bahwa aku harus melepas semua perasaanku padanya kkarena itu hanya menyakiti diriku saja. Entah apa alasannya dia berkata begitu. Kemudian dia berlari pergi.

Entah apa yang sudah Tuhan rencanakan dalam hidup kami.

Aku tak pernah menyangka bahwa itu adalah pelukan dan pertemuan terakhir kami. Aku juga tak menyangka bahwa kebahagiaanku akan berakhir secepat ini. Rasanya sulit untuk dijalani dan diterima, ada sesak yang tak bisa dijelaskan. Ada sakit yang tak bisa disembuhkan. Aku merasa hancur, perih retak dan tak berdaya.

Sebulan sejak perpisahan itu, dia datang menemuiku. Dia menjelaskan bahwa aku benar-benar harus melupakannya dan membuang semua perasaan yang ada. Dia sudah memilih jalan hidup yang baru. Dia memintaku selalu berdoa untukknya setiap hari, dan dia juga akan mendoakanku. Sejak saat itu kami tak pernah bertemu dan berbicara, apalagi sekedar melihat senyumnya dari jauh. Dia sudah pergi ke kota lain, sedangkan aku masih di kota yang menyimpan sejuta kenangan indah kami.

Aku tidak pernah berniat untuk membalas perbuatannya, aku juga tidak pernah membencinya. Aku masih menyayanginya, lebih tepatnya menghargainya karena pernah menjadi bagian penting dan menjadi pelengkap cerita hidupku. Sekarang dia jauh dari pandangan mataku, tapi aku selalu mendoakannya. Dan karenanya, aku menutup hati untuk cinta yang lain. Aku belum siap, belum mau, dan aku takut jika akan kehilangan orang yang benar-benar aku sayangi. Lebuih tepatnya, aku Trauma karenanya.

Maaf atas semua kesalahanku padamu di masa lalu. Maaf jika pernah membuatmu jatuh cinta. Aku sudah sadar sejak awal bahwa kita tidak ditakdirkan bersama, tapi hatiku masih saja bertahan pada egonya. Sampai akhirnya, hatiku sendirilah yang terluka.