Imamku, aku tidak akan pernah mengungkapkan betapa bahagianya aku menjadi bagian dari hidupmu. Menjadi salah satu sumber bahagiamu. Menjadi ibu dari anak-anak kita kelak.

Imamku, engkaulah bumiku. Tempatku berpijak paling layak. Tempatku membangun cinta. Meretas segala keluh. Hari ini dan selamanya. Yakinlah, Imamku, hanya engkaulah bumi untukku.

***

Perempuanku, aku tidak akan pernah usai mengucapkan syukur. Berterimakasih kepada Allah, kemudian kepadamu, Perempuanku.

Perempuanku, untuk apapun yang pernah, belum dan akan lakukan kepadamu kelak. Aku mohon, tetaplah ada bersamaku. Menyemai damai. Memanen cinta setiap hari.

Advertisement

***

Dengan kerendahan hati, aku akan menjadi isterimu yang paling kau banggakan, Imamku. Dengan segala kemuliaan sikap dan tabiatmu, aku akan belajar lebih dalam. Tentang makna menjalin kasih, atas nama Allah.

Jutaan harap dan doa telah menjelma menjadi dirimu, Imamku. Mengitariku dengan sentuhan cahaya paling lembut yang pernah datang ke hidupku.

Imamku, dalam ikhlas dan ridha paling tulus, aku berikrar menjadi pendamping hidupmu, isterimu yang paling setia, perempuan yang akan selalu ada untukmu, untuk keluarga kita kelak.

***

Dalam ketidaksempurnaan, keterbatasanku menjadi seorang Imam. Engkau menguatkanku, Perempuanku. Menyentuh keyakinanku untuk berdiri lebih teguh. Menggapai bahagia untuk kita. Dalam nama Allah sumber segala cinta.

Waktu dan tempat bukan lagi sekadar dimensi untuk kita. Mereka adalah saksi dan bukti yang akan menemani hidup kita berdua. Mulai hari ini, esok, dan selamanya.

Perempuanku, aku berikrar menjadi pendamping hidupmu, suami dan imam hidupmu, lelaki yang akan selalu ada untukmu, untuk keluarga kita kelak.

(ditulis untuk pasangan yang akan segera berbahagia, Ardi Arafat & Rika Nurcahyanti)