Mataku asing dengan deretan batu – bata yang disusun meninggi, pada awalnya. Kemudian detik menyentuh dengan halus hingga rasa nyaman mulai menggerogoti tubuhku. Dengan hujan dan terik matahari, ku jalani tanpa henti. Meski kadang peluh sedikit menghiasi.

Diam – diam Aku jatuh hati pada hiruk pikuk tempat ini, kampus. Pada desiran angin pagi yang mengusik untuk segera menyelesaikan kertas – kertas yang bertebaran. Pada terik matahari siang yang menguras tenaga demi perdebatan dan perdebatan. Perdebatan berbuah ilmu. Kemudian pada senja sore yang selalu kunikmati bersama canda dan paras serius para aktivis. Dan juga bintang malam bertebaran menjadi saksi betapa gelap tak menghalangi kita menyelesaikan beban.

Untuk pagi, siang, sore, dan malam. Yang menjadi saksi tanpa wicara betapa jajaran batu bata itu begitu mengasyikkan dan menekan. Pundak kanan dan kiri bahkan terasa terus penuh dan tak kurang. Tetapi bibir tak henti pula tersenyum dan tertawa meski air mata turut mengiring.

Padahal… di sela peluh dan pilu, tempat ini begitu menyenangkan. Menjadi pembelajar yang selalu membelajarkan dan diberi pelajaran oleh setiap moment – moment yang terduga ataupun tidak.

Dan ketika waktu memberi jeda istirahat, semua begitu hening. Bahkan gerimis pun menjadi terdengar keras. Tempat ini berbalik sunyi. Seolah kota mati yang ditinggal penghuninya.

Advertisement

Bagaimanapun bentuknya, sepi dan ramainya, tumpukan batu – bata yang meninggi ini tetap menjadi manis. Manis dengan segala kekurangan dan kelebihan. Manis karena menciptakan malaikat – malaikat tak bersayap, penopang setiap tetesan air mata, dan cheerleader paling menghebohkan pada lapangan pentas.

Bahkan ketika belum meninggalkan gedung ini, Aku sudah merindu. Merindu pada setiap jejak yang membuat jatuh hati, kampus.

Untuk semua pemikat rasa, tempat ini adalah rasa itu sendiri. Bertumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu dan kedewasaan. Bertemu dan di pertemukan dalam sebuah waktu.