Senja kali ini berbeda dari senja kemarin.

Senja kali ini begitu menyedihkan. Aku tak tahu mengapa bisa menjadi seperti ini. Hari yang indah ini telah kita lewati bersama telah berakhir. Berakhir bersama senja.

Aku tak tahu harus apa. Untuk mengucapkan kata kata perpisahan pun aku tak sanggup. Aku begitu sedih untuk menghadapi perpisahan ini. Tak kuasa aku menahan tangis. Berat rasanya menerima kenyataan ini. Kau harus kurelakan pergi dari sisiku. Pergi meninggalkanku seorang diri.

Sebelum pergi, kau mengucapkan selamat tinggal padaku. Setelah mengucapkan itu, kau mulai melangkahkan kaki. Mulai pergi dariku. Meninggalkanku bersama sang surya yang juga akan meninggalkanku. Meninggalkanku yang sedang menangis.

Aku tak bisa menahanmu pergi dariku.

Advertisement

Aku hanya bisa memandangimu dari jauh. Aku melihatmu yang sesekali menoleh ke belakang. Saat itu, kau tersenyum padaku, mencoba menghiburku dengan senyumanmu.

Perlahan, kau mulai menghilang dari mataku. Menghilang bersama matahari senja yang indah. Keindahan yang lama kelamaan akan lenyap. Keindahan yang sementara, namun sulit untuk dilupakan.

Aku sekarang sendiri. Memandangi jalanmu yang kini telah gelap. Sendiri menatap langit malam. Kini aku bersama gemerlapnya bintang yang menemani. Bulan kini menggantikan matahari senja. Tak kalah indah darinya. Namun satu yang tak bisa tergantikan. Kamu.

Aku tak tahu apakah ini akan terulang.

Aku tak tahu apakah kau akan seperti matahari. Saat pagi kau begitu menyejukan. Kau datang menyambut hari hariku. Tapi saat senja tiba, perlahan kau mulai meninggalkanku.

Esok masih menjadi misteri. Aku berharap kau bisa kembali. Bersamaku membuat kenangan indah lainnya. Walaupun tak bisa bersamamu setiap waktu. Aku tetap merindukanmu. Aku tetap ingin bersamamu.

Aku masih disini. Aku masih mengharapkan kehadiranmu di kehidupanku. Kalau kau mau, silahkan mampirlah walau sebentar. Aku merindukanmu.