Tumbuh dewasa bersama orangtua menjadi kebahagiaan tersendiri untuk semua anak. Tetapi tidak denganku, saat usiaku genap 18 tahun aku harus mengambil langkah besar untuk merantau demi sebuah pendidikan, citacita, dan perubahan taraf hidup keluarga. Di kota orang ini aku dituntut apa-apa sendiri, dari mencari kebutuhan primer sampai kebutuhan sekunder. Beberapa minggu sudah kulewati dengan gejolak rasa semangat dan beberapa keping rindu kala teringat. Teringat akan kedua orang tua yang jauh di sana.

Masa ospek itu tiba, masa inisiasi dan transisi mahasiswa baru. Kali ini aku menjalankan masa ospekku tanpa ada yang membuatkan sarapan tiap paginya. Aku harus berlari mengejar waktu dengan kakiku sendiri. Aku harus mencari bahan-bahan ospek sendiri. Seharian full dari pagi hingga malam, sesampainya di kos aku masih harus mencari makan sendiri. Berat sekali, sungguh !

Aku lelah ! Aku rindu rumah..

Masa ospek itu sudah selesai. Lega akhirnya, tetapi ini awal dari dunia baru ku. Setiap pagi sudah tak ada lagi tangan yang bisa ku cium sebelum berangkat menuntut ilmu untuk berpamitan "Mah, aku berangkat ya." Ini sulit. Sungguh ! Aku rindu. Perjuangan ini ternyata tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya.

Setiap pagi aku dibangunkan dengan jam alarm dan berjalan kaki untuk sampai tempatku kuliah sudah menjadi rutinitasku. Tidak ada 15 menit aku sudah sampai di sana. Dalam keadaan perut masih berdansa ria aku harus menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ruang kuliahku. Aku terus bersyukur dengan apa yang sudah ku dapat saat ini, jadi lapar saat pembelajaran aku anggap hal biasa. Karena masih banyak di luar sana yang masih berjuang untuk bisa duduk di bangku perkuliahan.

Advertisement

Sekali lagi aku tak boleh ngeluh. Aku harus semangat. Aku harus hemat.

Aku sengaja makan di daerah kampus, karena menurutku di sanalah yang menjual makanan dengan harga sesuai dompet dan porsinya sangat banyak. Lagi-lagi ini demi menyumbat kebocoran dompet. Hal yang tak pernah aku lakukan saat masih bersama orang tua. Beberapa waktu yang lalu aku main ke salah satu tempat terfenomenal di kota ini. Ketika aku melihat barang-barang lucu, ah rasanya ingin aku beli. Tetapi aku berpikir kembali dan mengucap dalam hati “kamu masih 4 tahun di sini, sabar-sabarlah”. Bukan hanya masalah berhemat kendalaku. Kendalaku berikutnya adalah buta jalan. Ya, aku ini susah untuk menghafal jalan. Saat tinggal bersama orangtua aku selalu diantar kalau ingin bepergian. Ah beda sekali rasanya. Di sini untuk mengingat jalan saja aku harus berjuang dengan ekstra keras. Belum lagi dalam hal bangun pagi.

Ah aku menjadi ingin pulang.

Selalu aku ingin pulang saat sedang tidak melakukan apa pun di kos ku.

Aku jadi rindu, aku rindu tiap pagi bukan hanya alarm yang membangunkanku, tetapi ada suara mama yang akan membuat mata ini langsung segar. Aku rindu saat pagi ada yang membuatkanku sarapan, jadi saat pembelajaran aku tak harus minum terus untuk menahan lapar. Aku rindu saat ingin pergi ada papa yang menemaniku, jadi aku tak meraba jalan seperti ini. Saat aku ada keluh kesah biasanya aku langsung bercerita ke mama, tidak dengan sekarang. Sekarang kalau aku ada masalah aku berusaha menyelesaikannya sendiri. Karena aku yakin rindu saja sudah menyiksa jadi tak perlu aku menambah khawatir dengan menceritakan beberapa masalah yang aku hadapi.

Hanya suara di balik handphone yang bisa menenangkanku, aku sangat ingat kalimat penyemangat dari mama “Lakukan apa pun yang kamu suka di sana, menulis, melukis, apa pun itu. Tapi jangan lupa ada yang menantimu.” Ya, aku harus ingat kesibukan ini tidak boleh menjadikanku melupakan mereka. Aku ingin pulang rasanya. Tetapi tidak bisa, karena sebuah harapan mereka itu ada di aku. Aku harus semangat. Aku harus kuat.

Bersyukurlah kalian yang bisa mendengar dengan langsung suara orang tua mengomeli kalian. Kami anak rantau hanya bisa memeluk rindu, mendekap dalam senyap kemudian tertidur dalam harap. Kami tidak menyesal sudah mengambil langkah ini. Kami hanya rindu, rindu kenyamanan rumah. Aku percaya tidak ada perjuangan yang sia-sia. Saat ini aku akan memupuk rindu itu hingga saat aku pulang aku bisa merasakan manisnya buah pertemuan.

Tunggu anakmu ini pulang.