"Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca Hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim

Angin berhembus lumayan kencang malam ini, udara malam ini seperti bersekongkol untuk merobohkan ragaku..

Aku terhenyak dalam lamunan, ku ingat kala itu di suatu malam aku menjemputnya dari Tugu Muda, membawanya ke sebuah cafe kecil yang biasa disinggahi untuk sekedar mencari jenis pokemon baru. Kali itu aku tidak kesana untuk bermain pokemon, aku kesana untuk membantunya bersinar kembali.

Ia begitu gelisah, wajahnya yang biasa berbinar kini lusuh dilanda kecemasan. Ia bimbang, ia kebingungan untuk menceritakan tragedi yang menimpanya. Setelah menatapku cukup lama, ia katakan mungkin ide untuk keluar bersama bukanlah hal yang lumrah..

—————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Advertisement

Semarang,  September 2016

Gadis ini, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Aku sedikit canggung ketika matanya menangkap tatapanku, aku takut terungkap semua semua bahwa mata ini ingin sekali membaca pikirannya. Mata ini ingin sekali melihat isi dari kepalanya, yang membuatnya hanya tertegun layu. Aku tak tahu harus mulai darimana, begitulah katanya setiap kali aku ingin menilik masalahnya. Untuk seseorang yang mengaku sedang depresi tingkat akut, ia cukup tenang, dan tentu saja ia terlihat begitu kelelahan dengan hidupnya.

Kopi tiba, dan dia mulai menengguk kopi sambil sesekali memperhatikan pertandingan bola "Aku sepertinya lelah dengan semuanya.. Aku mau resign saja, aku merasa sudah saatnya aku istirahat, aku jenuh" tiba-tiba deretan kata itu keluar dari mulutnya. Aku kaget namun berusaha tenang, aku tanyakan padanya "Oke, kalau kamu jenuh, kamu mau melakukan apa supaya ngga jenuh lagi? apa resign jalan keluar terbaik? anggap saja aku setuju dengan saranmu, lalu kamu mau apa setelah resign?". Dia hanya menggelengkan kepala. Dia mulai bercerita bahwa justru dia sedang mencari penyebab kejenuhan, namun seperti jalan buntu, alasan tidak bisa ia temukan. Ia kembali menundukkan kepala.

Gadis ini, gadis yang biasanya dengan tegas mengemukakan apa yang diinginkannya kini menjadi bisu dan penuh tanda tanya. Dia seperti kehilangan arah. Dia tersesat. Tiba-tiba ia membenarkan posisi duduk dan dengan mata berbinar berkata "Sepertinya aku tau apa yang aku cari!", aku pun bersemangat dan lagi-lagi ia tertunduk lesu… "Porque? (kenapa)?" "lupain aja, tiba-tiba aku ga yakin apa yang terlintas itu adalah mauku yang sebenarnya.". Hm… benar-benar tidak bisa ditebak. Aku kembali menyeruput kopiku yang mulai terasa dingin, jam menunjukkan pukul 23.15, aku mulai kedinginan karena tidak membawa jaket, tampaknya ia tahu aku mulai tak nyaman dengan udara dingin ini.

"Dua puluh menit lagi kita pulang ya", pintaku. Ia hanya mengangguk. Dengan mata tajamnya ia mulai menanyakan banyak hal, termasuk kisahnya yang menjadi korban bully. Seorang gadis yang sering berpetualang ternyata menyimpan banyak kisah pilu. Dia mulai menceritakan betapa lingkungannya begitu aneh melihatnya pergi berpetualang dari satu kota ke kota lain. Katanya, gadis tidak baik pergi tanpa keluarga. Kata mereka, gadis tak seharusnya ada digunung, katanya seharusnya gadis bersolek, bukan membakar kulit dengan terus bepergian. Kata mereka, pantas saja tidak ada laki-laki yang mau. 

"Aku selalu mendiamkan apa kata mereka, namun kenapa semakin tahun semakin sering aku dipertanyakan kenapa tidak juga menikah? apa aku tidak pantas untuk bahagia dengan caraku? kenapa urusan pribadiku sangat mengganggu mereka?" gadis itu mulai meledak-ledak. Aku berusaha tetap tenang,

dan ku tanyakan padanya, "kamu merasa pantas diperlakukan seperti ini?"

"OF COURSE NOT!", jawabnya.


"Then, tunjukkan kalau kamu bahagia, kalau kamu tidak peduli kata mereka, tunjukkan kalau kamu pantas diperlakukan lebih baik. Coba deh kamu introspeksi diri. Mungkin kamu selama ini diam, tapi kamu menunjukkan kemarahanmu dengan raut wajah tidak suka. Kamu membiarkan mereka membully kamu. Saatnya kamu memantaskan diri. Tunjukkan bahwa kamu tangguh. LOVE YOURSELF!


Malam itu aku tahu bahwa dibalik ketangguhannya, ia begitu rapuh, ia perlu diyakinkan bahwa dirinya spesial. Melihat ketangguhannya, aku semakin yakin dan semakin berusaha untuk memantaskan diri sebagai pelindungnya. Karena ia terlalu berharga. Aku berharap dirinya adalah muara dari apa yang selalu ku semogakan. Karena gadis itu, telah mencuri hatiku.