Aku menunggumu di depan kampus seperti biasanya, menunggumu menyelesaikan mata kuliah terakhir hari ini. Memainkan seluruh permainan yang ada di ponselku hingga membaca ulang catatan kuliahku hanya untuk menghabiskan waktu. Menunggu sudah menjadi rutinitas kita. Entah aku yang menunggumu, ataupun sebaliknya. Karena kesibukan, kita tak punya banyak waktu untuk bertemu, hanya ada waktu setelah kuliah. Biasanya kita sekedar pergi makan siang, ataupun nonton. Tak ada yang lebih menyenangkan dari menghabiskan waktu berdua denganmu. Hari ke hari aktivitas dan kesibukan yang mulai menggila mulai menyita waktu masing-masing kita. Jadwal kuliah yang selalu bertabrakan, tugas-tugas kuliah, hingga aktivitas diluar kuliah yang semakin padat, tak lagi memberi kita waktu. Kita hanya bertemu pada hari sabtu. Kegiatan ekstrakulikuler yang biasanya kamu lakukan di hari sabtu pun kadang harus kamu korbankan. Dengan jarak rumah yang cukup jauh, kamu harus rela mengendarai sepeda motormu, menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit untuk berjumpa denganku. Kadang kamu terlihat lelah ketika tiba dirumahku, namun kamu selalu memasang senyum lebar. Kita seperti pasangan LDR yang harus mengorbankan banyak hal hanya untuk bertemu. Maka setiap detik terasa berarti jika kita bersama.

Ini berjalanan beberapa bulan, hingga aktivitas kuliah dan lainnya menjadi semakin menyita waktu. Kita sudah semakin jarang bertemu. Untungnya segala bentuk kemajuan teknologi mempermudah kita. Saling mengirim pesan singkat, dan menelepon memberi kabar ditengah kesibukan, hingga video Call adalah hal yang selalu kita lakukan tiap malam, hingga salah satu diantara kita tertidur lelap karena kelelahan. Kita masih bisa menjalaninya. Pertengkaran-pertengkaran kecil pun sering terjadi. Ini tak berat, kita hanya butuh lebih memahami kesibukan masing-masing. Namun keadaan semakin memburuk saat kita sama-sama dikejar dengan skripsi. Kamu sibuk dengan mesin-mesin itu, dan aku sibuk dengan diktat-diktat. Kita bahkan sudah jarang memberi kabar. Tak ada lagi saling bertatap muka lewat video call. Dan tak ada lagi pertemuan. Pertemuan demi pertemuan yang kita rencanakan selalu saja gagal. Entah kamu yang harus menghabiskan waktu di bengkel, maupun aku yang harus seharian di perpustakaan. Mengunjungimu di bengkel bukan kesukaanku. Begipun kamu, perpustakaan bukan tempat favoritmu. Pertengkaran demi pertengkaran pun sudah tak terhindari lagi. Segala hal menjadi alasan pertengkaran kita. Yang selalu berakhir dengan salah satu dari kita memutuskan pembicaraan dan menonaktifkan telepon. Kita bahkan tak saling berkomunikasi berhari-hari. Akhirnya kita putuskan untuk saling memberi jeda. Mencoba memfokuskan diri pada kesibukan masing-masing. Segalanya terasa baik-baik saja diawal, kita tak saling merepotkan dengan pertengkaran-pertengkaran yang disebabkan keegoisan kita. Kita benar-benar menikmati waktu kita.

Setelah selesai dengan segala kerepotan skripsi dan aktivitas lainnya, kita pun saling mengabari, kembali menjalani hubungan kita. Namun, sepertinya ada yang masih mengganjal. Entah apa. Namun kita tak lagi semesra dulu. Meskipun kita jadi lebih sering bertemu, namun rasanya ada saja yang memisahkan. Sepertinya ada yang berbeda denganmu. Kamu yang dulu tak pernah sibuk dengan ponselmu saat bersamaku, kini melakukan itu. Dulu kita bisa habiskan seharian bersama, tapi sekarang sebentar saja mulai terasa menjemukan. Kita tak lagi tertawa lepas seperti dulu. Kita tak lagi nyaman membuka diri satu sama lain. Ada saja sekat diantara kita. Segala aktivitas yang dulu kita lakukan bersama dengan bahagia, kini terasa membosankan. Kita bahkan sering menghindari pertemuan dengan alasan-alasan bodoh yang sama sekali tak masuk akal. Jika akhirnya kita tetap bertemu, itu pasti dengan terpaksa. Kita tetap tersenyum, namun bukan lagi senyum bahagia. Kita tetap tertawa, namun bukan lagi tawa lepas. Pesan-pesan singkat sudah tak semanis dulu. Untuk sekedar telepon memberi kabar pun sudah terdengar cukup merepotkan. Segalanya menjadi terpaksa bagi kita. Kita sudah tak lagi mampu saling membahagiakan. Mungkin kita sepertinya mulai terbiasa dengan kesendirian kita. Akhirnya kita putuskan berpisah.

Ketika yang lain ingin kita bertahan, berjuang, dan lain sebagainya untuk mempertahankan hubungan, kita berpikir untuk saling melepaskan. Ketahuilah, perpisahan ini bukan karena sudah tak saling mencintai. Kita hanya berhenti saling menyiksa, berhenti saling memaksakan. Kita memilih berpisah saat kita masih punya banyak kenangan untuk diingat, kita memilih berpisah sebelum segala kenangan yang kita punya berubah menyedihkan. Kita masih punya cinta, namun cinta saja takkan cukup untuk membahagiakan jika masing-masing kita sudah saling ingin melepaskan. Ini adalah cara kita untuk tetap saling membahagiakan, bahkan ketika kita tak lagi bersama.

Jika berpisah adalah jalannya,

Maka harusnya kita terima dengan lapang.

Mengapa harus menyesakkan dada untuk bersama?