Mulailah mencintai seseorang dengan sederhana, maka kamu pun akan bahagia.

Aku tak pernah tahu betapa aku mencintai kamu, alasan-alasan yang membuatku sangat tidak ingin kehilangan kamu. Yang kutahu, dari awal bertemu kamu sudah membuat mataku hanya tertuju padamu. Waktu mendung itu, ketika mengikuti sebuah wisata sejarah. Seorang teman mengenalkanku padamu, sambil bercanda temanku berkata bahwa ada seseorang yang sangat mirip dengan salah satu teman kami. Dan dia pun membawaku padamu.

Dengan polosnya aku bertanya dan meledek dirimu tanpa diawali dengan basa-basi ataupun perkenalan. Dengan malu-malu kamu menanggapi semua candaku. Tanpa tahu namamu, rasa ini mulai menciptakan ketertarikan walaupun tak saling mengenal. Salah panggil, itu yang terjadi padaku saat kita beranjak pulang. Tinggi dan postur badanmu yang mirip dengan seorang teman. Dengan berani aku memanggil nama temanku dengan teriakan tertuju padamu, kamu pun menoleh dan tersenyum. Sementara aku pucat dan merasa malu sendiri karena kelakuanku.

Waktu berlalu, kamu masih saja menghiasi hari-hariku. Menciptakan rindu yang tiada henti. Menjadi bayangan dan khayalan dari saat-saat sepiku. Beruntungnya, ketika melemparkan sebuah pertanyaan ke sebuah media komunikasi grup wisata yang mempertemukan kita, kamu menjawab pertanyaanku tanpa aku tahu bahwa seseorang yang menjawab pertanyaan itu adalah kamu. Dengan bercandamu, juga keseriusan pertanyaanku. Tanpa sadar keseriusan itu mencair menjadi sebuah ajang bercanda antara dua hati manusia. yaitu aku dan kamu.

Tanpa bermaksud memberi harapan lebih, aku memberimu pesan pribadi dan mengingatkan agar tidak terlalu terbawa perasaan antara kita. Saat itu aku masih tidak mengenalimu sebagai seseorang yang selalu aku rindukan. Seseorang yang tiada aku tahu namanya tapi selalu aku ingat wajahnya.

Advertisement

Setelah memberi pesan singkat itu, aku baru melihat foto yang terpasang di profilmu. Dan aku baru sadar, itu kamu! Yang selalu aku harapkan di setiap sepiku. Untuk memastikan, aku bertanya pada grup media komunikasi tersebut tentangmu. Dan mereka menjawab serempak, itu dia yang mirip dengan salah seorang teman. Bahagia, perasaan yang aku dapati saat itu. Hati bak serangkak dibungkus, kamu membalas pesan pribadiku. Dan mulailah kita saling mengenal satu sama lain. Bercerita dan bertukar informasi tentang kehidupan masing-masing. Rasa cinta itu muncul perlahan.

Pertemuan kedua, dengan banyak teman juga. Aku tidak bisa lagi membiarkan diriku terlepas seperti biasanya. Wajahku tertunduk malu saat di hadapanmu. Pada akhirnya, mungkin kau berpikir bahwa aku adalah wanita yang tak ramah karena tak selepas biasanya. Maafkan aku yang dipenuhi rasa gugup dan malu saat itu. Perlahan, aku bisa menguasai sikapku di hadapanmu. Termasuk aku yang tidak pernah berhenti makan saat kemarahan datang melanda. Tidak ada lagi gugup ataupun malu di hadapanmu. Namun, dalam hati kecil ini, aku masih tidak bisa menahan degup rasa yang tak berhenti.

Rindu itu datang lagi. Setelah pertemuan ketiga, kamu tiba-tiba bercerita padaku bahwa seorang teman bertanya tentang perasaanmu kepadaku. Aku terdiam dan teringat bahwa aku pernah menanyakanmu pada seseorang yang juga mengenalmu. Tanpa tahu bahwa dia akan bertanya sejauh itu padamu. Tidak usah dipikirkan, jawabku saat itu. Aku tak ingin kamu berpikir macam-macam dan menimbulkan rasa tidak suka berada di dekatku. Lebih baik aku simpan dan aku kubur sendiri perasaanku dalam-dalam saat itu.

Kamu pergi, dan rindu itu menderu begitu hebat. Kepada kamu yang tiba-tiba tak ada kabarnya. Namun begitu mendapat kabar, tiba-tiba saja kamu sudah berada di Negeri Tirai Bambu.

Marah, karena tidak diajak. Alasanku sewaktu bertukar pesan denganmu saat itu. Namun, andaikata kamu tahu bahwa aku merindukanmu dengan sangat hebat saat itu. Mungkin kamu tak akan membalas pesanku dengan candamu. Bertemu lagi, bahagia tidak terkira datang kembali saat kamu mengabari bahwa kamu sudah kembali pulang ke tanah air. Dan beberapa hari kemudian mengajak untuk bertemu, hanya berdua. Rasa rindu itu memuntah kembali. Perasaan yang tadinya diniatkan untuk dikubur dalam-dalam, hadir kembali.

Wajahmu manismu, dan suara tegasmu, kembali ada di hadapanku. Hanya aku dan kamu. Kuputuskan saat itu, Aku jatuh cinta padamu. Semakin dekat dan semakin dalam. Rasa itu bertambah dari hari ke hari. Intensitas komunikasi pun saling bertambah. Tanpa sadar bahwa aku sudah jatuh terlalu dalam ke hatimu. Hingga suatu hari aku memutuskan jujur tentang hati ini kepadamu.

Setali tiga uang, kamu pun memiliki ketertarikan yang sama terhadapku. Namun, keyakinanmu belum sebesar rasa sayangku kepadamu. Antara di tengah bahagia atau sedih karena keraguanmu. Ragu itu mengikuti, dari keraguanmu hingga aku pun turut ragu ketika keyakinanmu sudah bulat. Kamu meminta untuk kita tidak saling berkomunikasi sementara, untuk tahu sejauh mana rasa sayang kita masing-masing. Aku menentang habis-habisan namun kau pun tegas berkata bahwa itu yang terbaik saat itu.

Rindu kembali hadir, setengah hari tak bicara denganmu rasanya hari-hari kembali sepi. Tidak ada warna warni yang menghiasi. Tak ada gelak canda setiap bibirku cemberut karena pekerjaan yang tidak kunjung akhirnya. Tidak ada senyum manis yang hadir saat gerutuanku bermunculan.

Aku kalah pada rindu, aku kalah pada sayang. Aku memutuskan menghubungimu duluan. Rasa agresif ini mengalahkan gengsi yang beradu pada otak sehatku. Aku rindu kamu, kataku saat itu. Bahagia bertebaran saat kau mengatakan hal yang sama. Dan berterima kasihlah pada rindu itu, karena ternyata itu menjadi awal kita. Awal yang dimulai dengan sangat sederhana. Awal yang berharap pada ujung yang baik. Aku sangat berharap, kesederhanaan antara kita tak pernah terputus. Aku juga sangat yakin, tujuanku adalah kesederhanaanmu.

Terima kasih untuk selalu menjadi yang terbaik dari yang paling baik. Terima kasih telah mengajarkanku tentang kesederhanaan. Terima kasih atas semua cerita kita yang sederhana tanpa ada yang dibuat-buat. Terima kasih untuk kesederhanaanmu.