Ketika kita sedang sama-sama bahagia, kamu akhirnya mengukir luka. Dia yang kamu undang hadir dalam hidupmu dan kau sebut itu takdir. Jahat memang, ketika aku berusaha semampuku untuk mencinta tapi akhirnya kau hanya menginginkan aku terluka.

Cinta yang kutahu adalah tanpa air mata. Apabila ada, seharusnya itu bahagia.

Kamu yang awalnya aku anggap sebagai pahlawan ternyata hanya akan menjadi lawan. Kamu hanya mengubahku menjadi pendendam yang ulung, sampai hati memaafkan pun urung. Aku yang berusaha membuatmu bahagia ternyata tak ternilai walau sejengkal. Padahal aku punya apa yang kau cari, tetap tinggal walau berkali-kali tanggal.

Siapa yang menyangka, sosok yang begitu kamu kagumi awalnya, hanya akan membuatmu terluka pada akhirnya. Wahai cinta, tertawalah sepuas kau suka. Tertawalah diatas derita. Sebab aku tahu semesta takkan tega, melihat hambanya terluka.

Kamu hanya perlu ingat, bahwa roda selalu berputar. Bagai badai yang tak gentar, akupun bisa menjadi kekar. Pengalaman denganmu membuatku belajar bahwa cinta juga perlu ditatar.

Advertisement

Pergilah bersama angin, aku sudah tak ingin. Hilanglah bersama hujan agar kamu terlupakan.