Bila ada yang merasa bebas menyakiti kita, kita pun memiliki kebebasan untuk menyikapinya. Apakah mempersilahkan hati untuk tersakiti, atau mengacuhkan dan tetap melanjutkan kehidupan. Pilihan ada di tangan kita.

Tapi kita punya hati, yang tak bisa begitu saja disakiti!

Ya! Kita punya hati yang tak boleh disakiti, yang berhak atas kedamaian. Apakah ada kedamaian dalam keterpurukan? Apakah ada kedamaian dalam kedendaman? Apakah ada kedamaian di hati yang tak mau memaafkan?

Ketika hati disakiti oleh orang lain, seringkali kita pun akan menyakitinya dengan yang lebih menyakitkan lagi. Dengan apa? Dengan terus mendendam, dengan terus memeluk lutut di ruang keterpurukan.

Kita tak sadar, dengan begitu sebenarnya kita sedang mengekalkan luka kesedihan berumur lebih panjang.

Advertisement

Maka, ketika ada yang bebas menyakiti, ketika itu pula kita memiliki kebebasan menyikapinya dengan sebaik-baik sikap.

Memaafkan bukan berarti mengalah, tetapi memilih kedamaian hati. Tidak semua pembalasan harus keluar dari tangan kita. Tuhan Maha Adil. Dan pembalasan belum tentu membuat hati tenang. Sekali lagi, memaafkan adalah memilih kedamaian hati untuk terus melanjutkan kehidupan.

Tidak mudah? Memang. Itulah kenapa memaafkan menjadi akhlaq agung yang berbuah menjadi penghapusan dosa. Karena Allah telah berkata ; “maafkanlah, apakah kau tak mau dimaafkan?”

Menarik diri untuk menenangkan bukan berarti tak punya sikap, tapi sering kali sikap yang diambil dalam keadaan marah selalu berujung penyesalan dan permasalahan yang bertambah. Tenangkan diri, agar semua jelas. Kita baru bisa menangkap ikan saat airnya tenang dan jernih, kan?

Sikap terbaik baru dapat kita tampilkan setelah semuanya tenang. Dalam proses menarik diri itu, kita bisa tersedu-sedu dengan terus memohon pertolongan kepada Allah agar diberi petunjuk jalan yang bukan dituntun oleh nafsu.

Tahukah? Kekuatan itu ada saat kita berbagi resah dengan Allah dengan terus berdzikir; Allah.. Allah.. Allah..

Memilih untuk membalas hinaan seseorang dengan senyuman bukan berarti lemah, tapi kita memilih untuk tidak menyamakan level dengannya. Ketika hinaan dibalas dengan hinaan, maka akan ada dua orang hina.

Memilih tuli dan tak mengacuhkan suara sumbang bukan berarti membiarkan diri dihinakan, tapi diri begitu sadar; untuk menjadi orang baik tak perlu kita membuktikan. Untuk apa? Tetap melaju. Kita baik untuk diri kita.

Disakiti atau didzhalimi itu seperti kita dilempari batu. Mengapa tak kumpulkan batu-batu itu untuk kita bangun menjadi istana? Suatu hari setelah batu-batu itu telah tersusun menjadi istana yang indah, kita akan berterima kasih kepada mereka. Biarkan mereka hidup dengan kebencian dan segala sikapnya yang menyakitkan.

Di sini kita sibuk berbenah diri dan menabung kebaikan. Karena kita tak mau waktu habis begitu saja oleh rasa sakit dan segala duka hinaan. Tidak ada rasa sakit hati yang membuat kita mati. Tidak akan ada, Allah menguji kita dengan beban yang begitu beratnya sehingga kita sanggup menghadapinya.

Kita berhak bahagia, maka kita berkewajiban memilih sikap terbaik atas segala kejadian yang menghampiri.