Entah mengapa, sebagai cucu aku sangat menyayangi kakekku. Sosoknya yang meneduhkan dan selalu memanjakanku seolah begitu cepat pergi, dan membuatku begitu sakit hati. Kek, mengapa secepat ini?

Siang itu aku masih menanyakan kabarnya kepada sepupuku. Sepupuku pun mengirimkan foto dirinya yang terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang melekat di tubuhnya. Melihat foto itu aku meneteskan air mata berkata dalam hati "Ingin sekali aku berada di situ melihatmu, Yang".

Tepat kurang lebih 4 jam-an setelah aku menanyakan kabarnya, tiba-tiba ponselku berdering. Saat ku buka ternyata Ayahku yang menelepon. Saat itu aku sedang berada di rumah teman dan izin keluar untuk mengangkat telepon. Setelah kuangkat telponku, terdengar suara Ayahku yang menanyakan keberadaanku.

Akupun bilang kepadanya bahwa aku sedang di rumah teman. Tanpa berbicara banyak, Ayahku menyuruhku pulang dan memberitahu Ibuku bahwa beliau (Eyang Kung) sudah tiada. Hatiku hancur saat mendengarnya, aku masih tidak percaya secepat itukah Tuhan memanggilnya?

Berulang kali kutanya kebenarannya kepada Ayahku, "Ayah benarkah yang Ayah katakan? Ayah bohongkan?" Sahutku. Ayahku menjawab "Benar nak, tidak mungkin Ayah berbohong, kamu yang sabar ya, ikhlasin, agar tenang beliau di sana hati-hati di jalan". Ayahku pun menutup teleponnya.

Advertisement

Dengan terisak-isak aku pamit kepada temanku dan orangtuanya pulang, mereka tampak kebingungan melihatku, dengan terbata-bata aku menjelaskan kepada mereka. Merekapun mengerti dan mempersilahkanku untuk pulang.

Sesampainya aku di rumah, aku bergegas mencari Ibuku dan memberitahunya dengan air mataku yang tak bisa berhenti. Ibuku berusaha menenangkanku. Tetapi aku juga masih belum tenang lebih tepatnya masih belum bisa menerima. Kalau laki-laki yang selama ini tidak pernah membuatku menangis kini membuatku menangis. Ya beliau satu-satunya lelaki yang tidak pernah membuat aku menangis, melihatku menangis saja beliau selalu mencoba mengubah tangisan itu menjadi tawa.

Oh Tuhan, cepat sekali kau memanggilnya. Bahkan belum sempat ku membahagiakannya dengan prestasiku, Engkau sudah memanggilnya. Semua seperti mimpi buruk bagiku. Sejak hari itu, hingga sekarang hanya doa yang dapat kupanjatkan untuknya dan menerima kenyataan yang sesungguhnya bahwa beliau telah berada di sisi Allah S.W.T. Dan berfikir bahwa Tuhan sayang padanya sehingga Tuhan memanggilnya untuk ke sisinya.

Sampaikan kepadanya, Tuhan, bahwa aku merindukannya. Do'aku akan terus terucap dari bibirku hingga aku bisa menyusulmu di sana Eyang.