Ketika kita kecil sudah sangat tidak asing untuk mendengarkan kisah romance yang ditawarkan para pembuat dongeng. Kisah cinta tersebut membuat kita menjadi memahami bahwa kebahagyaan itu adalah happy ending. Menikah adalah akhir cerita di kisah percintaan itu. Tapi tidak sampai disitu, cerita-cerita yang di televisi juga memberikan kita doktrin bahwa bahagia itu "kita bisa happy ending dengan pasangan".

Percayalah, bahwa semua itu hanya sebuah dongeng. Tidak ada yang seindah itu didalam dunia khayalan.'

Dan akhirnya bagi kita bahwa kita sampai goal atau finish suatu hubungan itu tidaklah sepenuhnya betul. Bahwa setelah melakukan pendekatan mati-matian, setelah menjalani hubungan ternyata tidak se-simple itu, akan ada beribu-ribu masalah, dari internal atau eksternal hubungan. Yang kadang membuat kita akhirnya berpisah dan mengakhiri dengan luka yang berbekas.

Jangan salahkan kami, bila kami menginginkan kisah yang indah walau sejujurnya itu sangatlah tidaklah mungkin dan jangan salahkan kami bila kami ketika kehilangannya sangatlah berat dan butuh kekuatan ekstra.

Dan mereka yang sudah mengisi hari-hari itu sudah memulai langkah mereka, bahkan sudah memulai membuat kisah baru dengan yang lain, kadang menjadi sangat lelucon melihat undangan terpampang nama kita didalam, entah itu mantan yang sudah lama berhubungan ataupun hanya sekedar mumpang lewat atau mantan serius juga awalnya dengan kita atau hanya ingin main-main dengan kita.

Advertisement

Jangan salahkan kami, bila kami menuntut kisah yang happy ending. Karna kami selalu mendengar dan membaca itu sejak kecil. Lalu kami kapan?

Andai kisah dongeng itu seperti realita yang sesungguhnya mungkin aku tidaklah segalau ini, mungkin.

Tapi, akhirnya akan ada mungkin disaat yang tak terduga. Aku titip itu ya Tuhan.