Saya beruntung menjadi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus. Mengapa? Yup, karena saya bisa bertemu dengan dosen yang seperti ini (?).

Awal mendengar kata dosen, dalam benak saya terbayang wajah-wajah harimau, singa, serigala, bahkan hantu pun ada. Pertama kali menjadi mahasiswa saya takut masuk ke kelas. Kata para senior kuliah itu melelahkan. Setiap hari selalu ada tugas. Ah, semua itu bikin saya nge-down.

Semester pertama dimulai. Benar juga, baru saja masuk kuliah, tugas sudah menumpuk. Apalagi dosen-dosen yang mengajar wajahnya sangar-sangar. Seraam…! Apa boleh buat, saya tidak bisa menghindarinya. Orangtua saya pernah marah ketika saya sempat berkata ingin menyudahi masa-masa awal kuliah. Mereka mengancam akan mengusir saya dari rumah bila melakukan hal itu. Saya pun mengurungkan niat itu.

Tiga semester pun berlalu. Saya benar-benar jenuh dengan kehidupan kampus. Dosen-dosen tak ada yang menarik. Benar-benar menjenuhkan. Kini, saya beranjak ke semester empat. Ah, masih kuatkah saya?

Pertemuan pertama semester ini adalah perkuliahan Apresiasi Puisi. Tampang dosen ini agak berbeda dengan tampang dosen-dosen lain yang pernah mengajar di kelas semenjak semester satu lalu. Sepintas melihatnya tampak wajah takkeruan. Entahlah, pandangan awal saya benar atau tidak. Berbagai pertanyaan tentangnya bersileweran di kepala.

Advertisement

Perkuliahan dengannya pun dimulai. Dosen ini bernama Pak H. Ia termasuk penyair/sastrawan angkatan 2000. Saya tahu itu dari pengakuannya sendiri ketika ia berbicara di kelas. Amat percaya diri memang. Namun, gaya berbicaranya seperti orang bingung. Pertemuan awal yang bikin saya menyimpulkan senyum tipis. Ditambah lagi kebiasaannya yang selalu mengangkat celananya yang kondor. Baru tiga puluh menit di kelas, sudah hampir dua puluh kali ia menaikkan celana kondornya itu ke atas. Saya dan teman di samping saya takkeruan tertawa tanpa suara. Begitu pun teman-teman yang duduk di belakang. Pertemuan pertama usai.

Kali ini saya sedikit terhibur dengan gaya dosen yang satu ini. Semenjak pertemuan itu, saya selalu menanti jam perkuliahannya. Hanya dia menurut saya dari sekian banyak dosen yang bisa bikin saya tertawa geli. Pada pertemuan kedua, ia belum datang juga ke kelas. Sudah hampir setengah jam kami menunggu. Namun, ia belum menunjukkan batang hidungnya. Saya sebagai ketua kelas diminta oleh teman-teman untuk menghubunginya. Saya minta nomor handphone-nya dari senior. Telepon diangkat. Saya bertanya perihal mata perkuliahannya hari ini. Ia menjawab kalau ia lupa hari ini ada jam mengajar. Selain itu, tiba-tiba ia minta saya menjemput ke rumahnya. Katanya mobilnya sedang diservis. Jadi, ia malas ke kampus.

“Saya takpunya kendaraan, Pak,” ujar saya.

"Ambil dulu ke dealer motor, nanti jemput saya ke rumah. Rumah saya di belakang SMA Pasundan," jawabnya, kemudian ia matikan telepon.

Saya sedikit melamun, kemudian tertawa terbahak-bahak mengingat apa yang tadi ia katakan. "Dasar dosen aneh," pikir saya. Baru kali ini ada dosen yang begini. Teman-teman tampak bingung melihat tingkah saya. Wajar, mereka tidak tahu permasalahannya. He he….

Tak lama kemudian dosen itu pun datang. Lah, katanya mau dijemput. Kok, dia sudah ada di sini (kampus). Aneh. "Ayo, masuk!" suruhnya. Saya dan teman-teman yang duduk di luar kelas pun masuk ke kelas. Seperti biasa, dosen itu beberapa kali menaikkan celana kondornya.

"Pak, katanya mau di jemput?" tanya saya.

"Ah, saya naik angkot saja. Malas saya di jemput cowok jelek kayak kamu," ujarnya. Teman-teman tertawa terbahak-bahak. Senang sekali rasanya melihat saya dihina dosen. Dalam hati, saya tertawa geli. Bukan karena apa pun, saya tertawa karena ia mengejek saya sambil menaikkan celana kondornya itu. Gelak tawa di kelas semakin menggetarkan isi ruangan.

"Hari ini isi presensi saja, yah, capek saya ngajar terus" ujarnya. Ia pun keluar tanpa dosa. Kami ditinggalkan di kelas. Serempak kami tertawa mendengarnya. Senang bercampur sedih karena dosen itu pergi meninggalkan kelucuannya. Akhirnya, dosen ini dinobatkan menjadi dosen favoit kami. Lebih-lebih saya.

Ah, saya jadi semangat kuliah kali ini meskipun semangat saya bukan karena belajarnya. Saya akan terus kuliah bila keadannya seperti ini. Coba dari semester satu ia muncul. Pasti saya akan lebih giat ke kampus. Giat bakal terus ngebanyol maksud saya.

Sudah lima kali pertemuan kami dengannya di kelas. Ada kabar heboh mengenai dosen ini. Ovi, teman perempuan saya di kelas yang paling cantik, bercerita kalau belakangan ini ia sering digoda Pak H lewat sms. Ia suka merayu Ovi. Malah mengajak makan dan menonton bioskop. Saya dan kawan-kawan kaget sambil tertawa terbahak-bahak seperti kemarin. Ovi, tidak pernah membalas jawaban apa pun sms dari Pak H, katanya. haha… kejamnya kamu Ovi. Kasihan sekali Pak H.

Kabar itu pun terdengar dosen lain. Pak F salah satunya. Dosen mata kuliah Apresiasi Prosa Fiksi ini tampaknya tahu betul mengenai gosip Pak H dengan Ovi. "Ya jelas tahu. Dia cerita sama saya," ujar Pak F di kelas. "Dia itu musuh bebuyutan saya prihal perempuan. Lagian mana bisa tampang seperti dia bisa mendapatkan perempuan secantik Ovi," tambahnya.

Ovi tersipu malu. Kami serempak tertawa. Ternyata ada lagi dosen lain yang seperti Pak H. Apalagi ini mengaku musuh bebuyutannya. Kuliah malah jadi takkeruan begini. Gosip melulu. Kacau!

Pertemuan berikutnya. Pak H bertanya, "Pak F kemarin ngomong apa saja di kelas ini mengenai saya?" kami diam. Tiba-tiba Ucok, teman yang duduk di samping saya berkata, "Nggak kok Pak, kata Pak F, Bapak itu ganteng. Pak F mengaku, ia selalu kalah kalau soal perempuan dengan Bapak." Pak H dengan bangga mengangkat kerah bajunya. Setelah itu seperti biasa, mengangkat celana kondornya. Saya pun langsung keluar ruangan. Takkuasa menahan tawa. Senang sekali rasanya bila hidup seperti ini terus. Haha….

Saya memukul-mukul tembok di WC. Kemudian Ucok pun datang menghampiri saya. Kami tertawa terbahak-bahak. Mungkin terdengar hingga ke ruang kelas.

"Kok, ada yah, dosen yang begitu…” ujar Ucok sambil memegang perutnya usai tertawa. Wajahnya masih menahan tawanya.

"Entahlah Cok. Gue suka gayanya… haha…"

"Hahaha…" kami pun tertawa bersama.

***

Ujian akhir semester empat akan segera di mulai. Saya paling tidak suka saat-saat seperti ini. Saya malas belajar. Malas mempersiapkan ujian. Apalagi mata kuliah semester ini amat banyak. Tapi, untungnya di perkuliahan kali ini ada sosok Pak H. Jadi, kuliah takpernah saya anggap beban. Namun, ujian tetap saja ujian. Pusing tujuh keliling. Soal-soal bikin kepala hampir meledak. Lagi-lagi Pak H menjadi penolong. Hanya ujiannya yang takpernah diambil pusing. Ujian darinya hanya menganalisis puisi anak SD.

Haha… mahasiswa senang yang beginian. Meskipun sebenarnya agak merendahkan reputasi kami sebagai mahasiswa, kami tetap senang karena tidak dibikin pusing. Coba semua dosen seperti ini, pasti kami dapat nilai A semua.

Saat ujian berlangsung, masih saja Pak H menggoda Ovi. Malah jawaban soal diberitahukan. Ya, meskipun gampang. Sebenarnya bukan karena itu, ia hanya ingin dekat-dekat saja sebenarnya dengan Ovi. Pak F yang mengawas di kelas sebelah melihat dari sisi pintu. Ia geleng-geleng kepala. Pak H yang melihat Pak F meliriknya, malah menjulurkan lidahnya. Memang dosen konyol. Dalam keadaan seperti ini pun mereka masih saja bersaing. Saya yang duduk di belakang Ovi hanya cekikikan sendiri.

Hm… ujian pun selesai sudah. Tinggal menunggu hasilnya saja. Saya akan dapat nilai apa, yah, dari Pak H. Kalau mata kuliah yang lain, saya yakin nilainya jeblok. Seperti nilai-nilai saya semester lalu.

Dua minggu berlalu. Semua nilai sudah keluar di internet. Hanya satu nilai yang belum keluar. Nilai mata kuliah Pak H. Kami mengadu kepada ketua prodi. Katanya, minggu depan nilai Pak H keluar. Yah, kami menunggu.

Saya pun dipanggil Pak H untuk menemuinya di ruang dosen. "Ini, nilai kamu dan teman-teman kamu," ujarnya sambil menyerahkan lampiran berkas nilai. Saya amati satu per satu—ada tiga kelas di berkas itu. Dari kelas A hingga C. Saya benar-benar amati satu per satu. Lah, kok semua perempuan dapat nilai A. Terus yang laki-laki dapat nilai B. Saya tidak percaya. Saya ulangi lagi membacanya. Detail dari huruf per huruf. Memang benar.

"Pak, kok nilai kami begini? Yakin Pak?" tanya Saya.

"Ya, iyalah yakin," jawabnya.

"Tidak bisa begini dong, Pak. Tidak objektif. Masak seperti ini. Coba Pak saya pengin lihat nilai tugas-tugas harian saya dan teman-teman saya yang lain!"

"Oh, tidak bisa. Itu sudah objektif."

"Lah, masak yang perempuan dapat A, yang laki-laki dapat B, sih, Pak," saya tidak terima.

Pak H malah santai saja.

Saya geram sebenarnya. Apa-apaan seperti ini. Ada satu orang yang beruntung. Dia laki-laki. Namun, namanya mirip perempuan, yaitu Radani. Hanya dia satu-satunya laki-laki yang dapat nilai A.

"Makanya, kamu kalau kuliah pakai kerudung, biar cantik. Biar Pak H suka. Sekalian pakai lipstiknya," ujar Pak Ahmad yang juga ada di ruangan itu. Termasuk dosen lain yang ada di ruangan itu ikut mengejek saya. Ah, kacau….

Saya telusuri ternyata hal ini sudah turun-temurun dari para senior dulu. Memang Pak H seperti itu. Memberikan nilai yang tidak objektif. Semua perempuan dapat nilai A, sedangkan laki-laki siap-siap saja sakit hati dapat nilai B. Saya takhabis pikir, ada juga dosen macam ini. Benar-benar dosen yang aneh bin ajaib. Ini bisa dikatakan sebuah lelucon sekaligus penghinaan. Oh, lebai sekali saya ini.

Malang benar nasib saya. Sudah-mah nilai-nilai yang lain buruk, ditambah lagi dengan nilai ini. Setidaknya harapan saya dapat nilai A dari Pak H dapat terwujud. Sudah jelas dari soal ujiannya pun kayak anak SD seperti itu. Ah, saya belum beruntung. Tapi saya sebagai mahasiswa tidak terima diperlakukan seperti ini.

Dua bulan kemudian. Di kampus ada acara "Bertemu Prodi" yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Diksatrasia. Acara ini adalah diskusi antara mahasiswa dan ketua program studi beserta jajarannya mengenai fasilitas kampus dan kinerja para dosen.

Ini kesempatan saya untuk mengajukan gugatan mengenai nilai yang tidak objektif itu. Saya geram dengan Pak H. Dulu bikin saya tertawa, sekarang bikin saya terhina. Semua tentangnya saya bicarakan. Teman-teman yang hadir dan ketua program studi tidak percaya mengenai hal ini. Saya tegaskan kembali, kalau hal ini memang benar-benar terjadi. Saya berharap ada tindak lanjut dari ketua prodi mengenai hal ini.

Ketua prodi menggeleng-geleng kepala. Beberapa dosen hadir dalam acara tersebut. Hanya Pak H yang tidak hadir. Pak F, yang hadir tersenyum-senyum saya menggugat seperti ini.

Saya tidak tahu usai acara ini, apakah akan ada perubahan dari sikap Pak H atau tidak. Kata para senior yang hadir, baru kali ini ia digugat. Sebelumnya, meskipun kejadian ini sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, takada mahasiswa yang berani menggugat. Baru saya, kata mereka.

Ya, saya tidak mau hal ini berlarut-larut ke depannya nanti. Sekalian saya kerjain juga dosen yang seperti itu. hehe… pasti Pak F senang dengan hal ini. Musuh bebuyutanya dihajar begini.

Satu tahun kejadian ini berlalu. Adik-adik kelas yang diajar Pak H was-was akan mendapatkan hal sama seperti saya. Ya, karena pada acara "Bertemu Prodi" kemarin mereka juga ikut hadir. Mereka tahu masalah itu. Banyak mahasiswa yang tidak mau diajar olehnya. Terutama yang laki-laki.

Saya menyarankan kepada mereka—yang laki-laki—jika mau mendapatkan nilai A maka lakukanlah trik berikut: pakai kerudung, sepatu hak tinggi, pakai lipstik juga biar cantik. Haha….

Entahlah, apakah adik-adik saya itu melakukan saranku ini atau tidak. Terpenting mereka sudah tahu karakter Pak H seperti apa. Semoga kalian bisa mengikuti saran saya tersebut, supaya nilai A aman di tangan. Haha….

Terima kasih Pak H, kau sudah memberikan sebuah kenangan pahit yang luar biasa. Akan selalu saya kenang kejadian ini hingga anak-cucu-cicit nanti.

Saya benci tapi rindu kepadamu, Pak!