Indah memang saat jatuh cinta. Apalagi saat gebetan memberikan sinyal yang sama. Perhatian, selalu nanyain kabar, hingga muncullah keinginan “Kapan Kita Jadian”. Dari tahap pendekatan aku mulai merasa nyaman. Timbul rasa kangen-kangenan saat sehari tak ada kabar. Mulai berani manja-manjaan, seolah kita sudah berstatus pacaran.

Tapi sayang, kita hanya teman. Lalu, seiring waktu berjalan terasa ada kerenggangan, kecurigaan, kecemburuan. Seolah mulai terjadi kebosanan dalam hubungan yang mengisyaratkan bahwa ada perubahan. Mencoba untuk menenangkan pikiran dengan mengaitkan berbagai hal. Mungkin dia sedang ada kesibukan, belum sempet baca chat. Dan mungkin malam dia akan menghubungiku dengan telponan panjang.

Batinku, mendadak tenang. Hingga keesokan harinya tiba, dia pun tak unjung mengabari juga. Apa dia lagi gak ada pulsa atau sakit atau apa. Seolah sepenuhnya hariku terpikirkan hanya untuk dia seorang. Aku galau Tuhan. Ketika ia datang, betapa hatiku senang kegirangan. Kita yang biasa chating sampai larut malam, kini hanya sekadarnya saja seolah mulai tak ada rasa hangat saat pertama jumpa. Aku pun merana.

Sehari tak ada kabar aku memakluminya, meskipun sebelumnya kita chating tanpa kenal batas jam. Seminggu, sebulan, hingga berbulan-bulan hendak menuju setahunan, bisa dihitung berapa kali kau menghubungiku. Duhai kamu yang ada di sana, sikapilah aku dengan biasa jika tak cinta. Jika engkau hanya ingin menganggapku teman belaka.

Please, jangan kau berikan aku perhatian dan kata kata manismu itu. Kau tahu, itu hanya akan menyakitkanku. Betapa berat hatiku saat dilanda rindu. Jika semua perhatian tidak segera kau wujudkan dalam kepastian.Menggantungkan, aku merasa dipermainkan. Kumohon, jangan datang kembali jika niatmu begini.