Popularitas dan pengaruh media sosial berpotensi dalam mempengaruhi tekanan batin individu. Seorang pesohor yang tak dapat mengendalikan diri terhadap caci maki haters yang bejibun di media sosial dikhawatirkan mengalami depresi dan berujung bunuh diri.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR) Andini Dyah Sitawati. Dokter Sita mengatakan, popularitas pesohor memunculkan kalangan penggemar (fans) dan pembenci (haters). Sisi buruknya, jika sang selebritis tak mampu mengendalikan emosi dalam menyikapi haters, ia akan mengalami depresi.


“Kalau sekarang kan zaman medsos (media sosial) ya. Seorang artis tidak bisa lepas dari perhatian para fans dan hater-nya. Sekecil apapun hal yang dilakukan oleh artis, termasuk pakaian akan dibicarakan oleh kedua kelompok ini. Jika artis tidak bisa menyikapi haters, maka mereka bisa mengalami depresi,” tutur dokter Sita.


Pengajar psikiatri Fakultas Kedokteran UNAIR menuturkan, orang yang mengalami depresi sebenarnya juga merasa ragu-ragu untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, karena mereka tidak kunjung mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat, maka percobaan mengakhiri hidup menjadi pilihan.

Alkohol dan obat-obatan terlarang juga bisa menjadi faktor pemicu. Sebab, biasanya peminum alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang cenderung bersikap implusif, termasuk mengakhiri hidup.

Advertisement


  • Dukungan emosional

Orang yang tengah mengalami depresi memunculkan tanda-tanda yang bisa dicermati oleh lingkungan terdekat. Di titik inilah dibutuhkan kecermatan untuk mengamati perubahan yang dilakukan oleh mereka yang mengalami depresi.


“Biasanya mereka nampak menjadi orang yang pemurung dan menarik diri dari pergaulan. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari mereka suka ngobrol tetapi ini cenderung diam. Mereka cenderung sedih dan nggak punya energi untuk melakukan hobi-hobinya,” tutur dokter yang juga menjalani praktik di RSUD Dr. Soetomo.


Andini Dyah Sitawati, dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Universitas Airlangga

Namun, ada pula tanda-tanda depresi yang tak ditampakkan kepada orang-orang terdekat. Mereka inilah yang justru diwaspadai karena bisa saja orang terdekat tak sadar dengan perubahan yang muncul pada orang yang mengalami depresi.

Pada gejala-gejala yang tidak nampak, mereka bisa saja tampak normal ketika bersosialisasi. Namun, ketika mereka sudah tiba di rumah, mereka lantas melampiaskan rasa depresinya dengan menangis dan cara-cara lain.

Menanggapi hal tersebut, Dokter Sita mengatakan bahwa orang-orang terdekat (supporting system) memiliki peran penting untuk mengurangi tekanan batin orang-orang yang mengalami depresi.


“Mereka (orang-orang yang depresi) bisa diajak berkomunikasi. Tanyalah apa masalahnya. Jika mereka yang mengalami depresi itu orangnya tertutup, tetap dampingi mereka. Beri mereka semangat dan dukungan emosional,” ungkap dokter spesialis  lulusan FK UNAIR.


Dokter Sita juga menyarankan agar masyarakat tak lantas memberi stigma “sakit jiwa” kepada orang-orang yang mengalami depresi. Stigma tersebut, katanya justru membuat mereka kian tertekan.


“Jangan beri stigma. Kita harus memberikan pertolongan. Jika memang kita tidak bisa memberi support, yakinkanlah bahwa dia tidak sendiri,” imbuhnya.



  • Spiritualitas

Tak jarang komentar miring dilontarkan oleh warga awam ketika mendengar kisah orang depresi yang mengakhiri hidupnya. Salah satu komentar yang sering ditemui adalah rendahnya tingkat spiritualitas.

Menanggapi hal tersebut, pengajar yang pernah meneliti tentang “Hubungan Antara Kepatuhan Minum Obat dan Kualitas Tidur Pasien Skizofrenia di Instalasi Rawat Jalan Jiwa RSUD Dr. Soetomo Surabaya” mengatakan, spiritualitas menjadi salah satu faktor penentu emosional.


“Saya pernah memiliki pasien yang memiliki spiritualitas tinggi tetapi mereka juga mengalami depresi. Ada juga yang spiritualitasnya biasa-biasa saja tetapi tidak sampai mengalami depresi. Faktor spiritualitas terkadang membantu orang untuk tidak jadi bunuh diri tetapi mereka berhasil mendapatkan dukungan emosional dari keluarga dan sekitarnya,” tuturnya.


Meski ia tak menyampaikan jumlah pasti kasus depresi di Surabaya, namun dokter Sita dan rekan-rekan sejawatnya tak pernah sepi menerima pasien dengan kasus serupa di RSUD Dr. Soetomo.