Setelah apa yang kau lakukan, kini kau datang dan ingin kembali. Berhenti bicara tentang ‘kita’ di depanku! Sekarang bukan lagi ‘kita’ tapi, ‘kau dan aku’.

Kau tau apa soal ketulusan? Saat itu kau bisa menyakitiku dengan sengaja. Apa ini yang kau namakan kesetiaan? Ketika kita baik-baik saja, kau pernah berani mendua. Inikah bahagia yang pernah kau janjikan? Bahkan kau saja tak bisa menepatinya.

Bagian darimu mana yang harus ku percaya lagi?

Kau bilang kita masih punya sisa mimpi yang sama. Bagiku, itu hanyalah sebuah mimpi kita dulu dan tak akan pernah jadi nyata. Dari waktu ke waktu kita pernah membangunnya dan hanya sekejap saja, kau pernah menghancurkannya.

Kau bilang, sekarang aku tak punya hati. Kau yang telah membuat rasaku mati. Kau bilang, kau sangat kecewa dengan sikapku. Tak bisakah kau intropeksi? Didepanku, dulu kau lebih memilih dia. Siapa yang lebih dulu kecewa? Siapa diantara kita yang paling terluka? Kau atau aku?

Advertisement

Saat kau tinggalkan, aku menikmati perih ini sendiri. Harus mulai terbiasa tanpamu yang semua itu nggak mudah. Dalam tangis aku memaksa tertawa dan saat tertawa aku harus menahan tangis. Sesak. Tapi begitulah caraku berpura-pura bahagia setiap hari. Semua itu seperti menjadi keharusan untuk ku lakukan. Mau tak mau harus aku jalani. Keadaan yang kini menjadikanku lebih dewasa. Dan aku bersyukur bisa melewati semuanya.

Kau yang sudah ku maafkan. Aku tau, kau takkan pernah bisa ku lupakan. Tapi aku tak bisa lagi memberimu kesempatan. Biarkan kisah kita ini menjadi kenangan. Mungkin kita ditakdirkan bertemu tapi tidak untuk bersatu.