Saat realita membuat impianmu tak terkabul seperti yang diharapkan, tak ada hal lain yang kamu dapat selain kecewa.

Perlu diingat, harapan tak akan berjalan sejalan dengan realita. Menyelesaikan pendidikan tepat waktu, mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan impian dan passion, gaji tinggi yang masuk ke rekening tiap bulannya sering membuat kita merasa jumawa. Kita merasa mampu berdiri di atas kaki sendiri. Diri ini pasti bisa menghadapi tantangan sebejat apapun yang semesta beri.

Membayangkan tentang masa depan yang manis itu membahagiakan memang. Tapi, kamu pun harus menyadari bahwa kita sedang terbuai dengan angan semata. Realita lah yang mengambil alih untuk hasil akhirnya, apakah mimpimu bisa terwujud ataukah seterusnya menjadi angan semata. Tidak jarang, kamu pun merasakan pahitnya jatuh dan dibuat kecewa oleh realita yang memutarbalikkan ekspektasimu menjadi rasa sedih. Ya, kamu harus tetap lapang dada bahwa angan yang kamu harapkan selama ini tak sesuai dengan realita.

Kita lupa, bahwa semua kemampuan itu ada muaranya.

Pemberi paling loyal dalam segala suasana itu adalah Tuhan. Rasa ‘bisa’ sebenarnya juga membawa kebaikan. Paling tidak langkah selanjutnya bisa dihela dalam tapak yang lebih mapan. Kita tak lagi merasa perlu berulang kali diyakinkan. Namun sesekali rasa ‘Paling’ juga melingkupi. Kita merasa paling mampu, paling berdaya, paling baik intuisinya, paling tepat keputusannya. Ia memang loyal. Tapi tetap peka atas hal yang membawa kebaikan. Dia bukan pemberi yang penuh perhitungan. Bisa saja dengan mudah semua keinginan kita Ia kabulkan. Buat apa menghambat keinginan HambaNya yang jelas-jelas bisa merengek dan ngambek jika permohonan dikabulkan lama? Bukankah ini sama saja dengan menggerakkan tangan sendiri demi mencoreng muka?

Advertisement

Namun di balik loyalitasNya yang tak perlu lagi ditanya Ia menyimpan kebijaksanaan yang juga tak ada dua. Ia mengerti kita-kita ini akan jadi makin tinggi hati jika langsung diiyakan keinginannya. Dia sudah hapal di luar kepala bagaimana kita akan merasa bahwa semua yang terjadi adalah karena usaha sendiri. Tidak ada bantuan dan tanganNya yang melingkupi. Ia sudah mengerti luar dalam tentang hal-hal ini.

Kali ini, Ia lebih memilih menunggu. Melihat kita berusaha dulu. Mati-matian merayunya di ujung-ujung malam atau di akhir Minggu. Supaya Ia tahu bahwa HambaNya mengakui kebutuhannya, tak lagi malu membuka segala kelemahanNya.

Harapan tak akan berjalan sejalan dengan realita. membuat motto-mu berubah jadi “jalani aja dulu

Jangan buru-buru bilang kalo orang yang “jalani dulu aja” itu nggak berpendirian atau termotivasi. Salah, mereka punya ambisi yang sudah dirangkai, tapi tidak terlalu ambisius dalam pencapaiannya. Mereka seimbang antara impian dan realita. Mendapat kejutan dan hal menyenangkan yang tak terduga adalah nilai lebih. Kamu pun makin semangat menjalani motto jalani aja dulu. Prediksi dari Tuhan dan semesta tidak ada yang tau. Berangan boleh,
jangan lupa, realita dan dirimu sendirilah yang menentukan.

Seringkali ketika beban yg kita hadapi terasa begitu berat, kita kehilangan harapan dan lantas berpikir semuanya mustahil dan telah berakhir. Itu semuanya hanya jalan belok bukan berarti jalan buntu. Intinya Bersyukurlah.